Sukses

Remaja Keranjingan Belanja Online, Ritel Pakaian `Menderita`

Liputan6.com, Jakarta - "Demam" belanja online telah menjangkiti berbagai kalangan, termasuk para remaja. Menurut laporan yang dilansir Reuters, kondisi ini membuat para peritel --khususnya penjual pakaian-- mengalami perlambatan pertumbuhan bisnis yang cukup signifikan.

Sejumlah ritel pakaian kenamaan di Amerika Serikat, seperti Specifically, GAP, Abercrombie & Fitch, Aeropostale, dan Urban Outfitters bahkan mengaku harus mengobral pakaian mereka untuk menarik perhatian para konsumen remaja. Jika strategi ini tidak dilakukan, niscaya mereka akan kehilangan mayoritas pangsa pasar.

Menurut hasil riset ShopperTrak, pertumbuhan bisnis ritel pakaian tahun ini merupakan yang terlambat sejak 2010 lalu. Mayoritas peritel bahkan harus memberikan diskon harga rata-rata hingga 35% agar mampu bersaing dengan paltform toko online.

Survei terbaru yang dilakukan Piper Jaffray juga menyebutkan, konsumen pakaian saat ini lebih suka melakukan belanja online karena tampilan situs toko-toko online pakaian ditata sedemikian rupa sehingga mampu memberikan daya tarik. Selain itu, mereka juga dimudahkan karena dapat melakukan transaksi kapanpun dan di manapun.

Menariknya lagi, banyak konsumen yang kini mengaku merasa tidak perlu mencoba pakaian yang hendak mereka beli. Sebab, hampir seluruh toko online saat ini memliki regulasi yang cukup fleksibel terkait penukaran atau pengembalian barang yang tidak cocok.

Sementara itu, menurut National Retail Federation, yang diuntungkan dengan tren belanja online ini adalah para peritel besar yang "bermain" di ranah offline dan online.

Hasil survei National Retail Federation menyebutkan bahwa 61% remaja di AS memilih untuk berbelanja pakaian secara online di platform toko online yang dimiliki brand populer secara mandiri. Demikian seperti yang dikutip dari laman Business Insider, Jumat (24/7/2015).

(dhi/isk)