Arda Hatna Ceritakan 'Matematika Tuhan Berbeda', Ingin Temani Para Pejuang

Arda Hatna bicara 'Matematika Tuhan Berbeda' tanpa target chart. Ia ingin lagunya jadi teman saat lelah, terinspirasi usai hipnoterapi dan perjalanannya.

Diterbitkan 09 September 2026, 23:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arda Hatna kembali hadir lewat lagu terbaru berjudul Matematika Tuhan Berbeda. Ia menempatkan tema waktu, perjalanan, dan ketulusan sebagai benang merah karyanya, menyambungkan pengalaman pribadi dengan pesan yang ingin dirasakan pendengar.

“Saya cuma ingin menemani orang-orang yang sudah lelah,” imbuh suami Tantri Kotak tersebut.

Arda menegaskan tidak membebani Matematika Tuhan Berbeda dengan target popularitas atau perburuan posisi di tangga lagu. Fokusnya adalah menjadi teman di momen-momen rapuh yang dialami banyak orang.

Dari Klinik Hipnoterapi ke Baris Lirik

Inspirasi lagu ini muncul dari pengalaman yang sama sekali tidak direncanakan. Seusai menjalani sesi hipnoterapi di sebuah klinik, Arda menyebut potongan melodi dan lirik datang tiba-tiba saat dirinya berada di dalam mobil.

“Kenapa sebenarnya lagu ini tercipta, ketika saya keluar dari ruang hipnoterapi, di situ ada beberapa orang yang nganter juga untuk konseling. Itu tuh bilang ke saya kenapa sih banyak orang yang sakit. Di situ ketika saya keluar saya naik mobil, tiba-tiba nada itu ada di sini. Hey orang baik tak ada ruginya dirimu menjadi baik. Itu tiba-tiba muncul,” katanya.

Kalimat “Hey orang baik tak ada ruginya dirimu menjadi baik” menjadi penanda awal arah lagu ini. Momen spontan itu kemudian menegaskan jalur tematik yang ingin ia bawa, berangkat dari ruang refleksi pribadi menuju pesan yang bersentuhan dengan keseharian.

Air Mata di Balik Baliho Sold Out

Perjalanan karier Arda di masa lalu turut menyusun makna dalam Matematika Tuhan Berbeda. Ia mengingat satu momen ketika hendak manggung bersama band lamanya, namun justru menangis sepanjang jalan karena persoalan yang sangat membumi.

“Ada cerita saya masih band lama. Itu mau konser sepanjang jalan saya nangis, sedih. Teman-teman band tanya, kenapa? Saya gak kuat. Pulang dari situ saya cerita, di situ ada baliho band saya. Itu sold out. Kenapa saya nangis, karena di bawah baliho itu motor saya pernah bocor dan saya nggak punya uang. Di situ saya diam, dan saya nggak tahu mau hubungin siapa-siapa. Tapi di titik itu saya berdoa, ya Allah kalau ini jalannya saya pasrah,” katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Kisah itu menjadi salah satu keping perjalanan yang menempel dalam proses kreatifnya. Pengalaman di jalan, rasa lelah, hingga doa yang terucap menjadi latar yang menyertai pesan lagu.

Halaman
Show All
Tim Showbiz, Umar Syarifuddien SjadjaahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan