Tiza Mafira Harap Ekonom dan Generasi Muda Nonton Film Dokumenter Energi Untuk Negeri

Tiza Mafira, direktur Climate Policy Initiative Indonesia harap Energi Untuk Negeri memberi pemahaman pada masyarakat tentang transisi energi.

Diterbitkan 03 September 2026, 00:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pada Selasa (1/9/2026), acara peluncuran film dokumenter Energi Untuk Negeri diselenggarakan di kawasan Jakarta. Tiza Mafira selaku direktur Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia menjadi salah satu narasumber dalam dokumenter yang membahas tentang transisi energi tak terbarukan ke energi terbarukan ini.

Dalam acara tersebut, Tiza mengungkapkan harapannya agar film itu menjadi bekal untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan dengan transisi energi. Selain itu, ia juga mengharapkan banyak pemuda Indonesia menonton film tersebut.

“Yang harus kita lakukan mulai detik ini adalah menjadi serdadu transisi energi. Karena semua orang dan terutama generasi muda, ekonom muda yang mudah-mudahan akan nonton film ini. Jadi, saya berharap bahwa film ini memberikan amunisi bagi serdadu-serdadu ini untuk memiliki pemahaman memenangkan pertarungan transisi energi,” ungkap Tiza.

Dirinya pun menilai pemahaman tentang transisi energi di masyarakat masih kurang, lantaran menurutnya terdapat mitos-mitos yang beredar.

“Karena saya melihat bahwa ada pemahaman yang masih kurang di masyarakat. Ada beberapa message-message yang sebenarnya sering muncul yang menurut saya adalah mitos,” ucapnya.

Tanggapan Tiza Mafira tentang Transisi Energi

Mitos pertama tentang transisi energi yang Tiza Mafira sebutkan adalah mahalnya energi terbarukan. Ia menyangkal hal tersebut dengan menjelaskan bahwa film dokumenter Energi Untuk Negeri menunjukkan dengan data bahwa transisi energi sejatinya bukan perkara besarnya modal awal yang dikeluarkan.

“Misalnya adalah yang tadi soal energi terbarukan mahal. Film ini berusaha untuk menunjukkan dan membuktikan dengan data-data bahwa bukan mahal, malah menjadi penghematan jangka panjang. Bukan saja statistik tapi testimoni di akhir menunjukkan bahwa itu bermanfaat. Baik petani, nelayan, rumah tangga yang memasang Solar PV di atas atapnya sendiri itu melakukannya karena ada penghematan jangka panjang yang bisa mereka rasakan,” ucapnya.

Mengejar Pertumbuhan GDP 8% dengan Transisi Energi

Mitos selanjutnya yang ia katakan adalah dekarbonisasi yang berpengaruh pada kurangnya daya saing negara. Tiza juga menyebut narasi tentang dekarbonisasi yang penting namun harus mengejar pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) 8%.

“Mitos lain misalnya soal dekarbonisasi akan berpengaruh terhadap berkurangnya daya saing sebuah negara. Tadi Bu Zanty sudah mengatakan itu, di Eropa. Di Indonesia itu gencar banget narasi bahwa dekarbonisasi itu penting tetapi kita juga harus mengejar GDP growth 8%,” ucapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Tiza menanyakan kenapa harus kata tetapi sebagai penyambung kalimat tersebut. “Kenapa kata-kata penyambungnya tetapi? Justru harusnya adalah kita harus mengejar GDP growth, oleh karena itu kita harus galakkan transisi energi. Karena transisi energi itulah yang akan membuat kita memiliki daya saing,” kata dia.

Halaman
Show All
Afradhiya N. R, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan