Lewat The Scene, Bottlesmoker Hingga Duo Twineester Bahas Cara Anak Muda Jaga Tradisi

Serial terbaru Vidio, The Scene Living and Lifestyle in Southeast Asia, jadi panggung bagi anak muda kreatif. Duo Twineester dan Bottlesmoker berbagi cerita.

Diterbitkan 03 Juni 2026, 08:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Program terbaru Vidio, The Scene - Living and Lifestyle in Southeast Asia, jadi panggung bagi anak muda inspiratif. Dalam gelar wicara bertajuk "Shaping The Future: How Young Indonesian Drive Change" yang menandai peluncuran program tersebut, sejumlah anak muda mengupas bagaimana kreativitas tetap bisa berjalan selaras dengan identitas bangsa. Dinda, moderator dari DW, membuka diskusi dengan melempar pertanyaan kepada si kembar Duo Twineester, ikhwal tantangan menggeluti dance hiphop di Aceh, yang notabene kuat dengan aturan syariat.

Alisa salah satu personel, mengakui bahwa pandangan skeptis masyarakat masih sering dijumpai saat menari. "Tantangan pasti ada. Banyak juga orang yang masih punya pandangan tertentu, khususnya kita perempuan, hiphop lagi. Kita bilang bahwa dance itu bentuk ekspresi kita. Kita bisa disiplin, bisa juga tanggung jawab ambil dance tersebut. Di Aceh itu untuk masuk dunia dance harus konsisten dengan adat istiadat dan syariat. Dengan pakaian yang lebih longgar," kata Alisa di SCBD Jakarta, pada Selasa (2/6/2026).

Senada dengan rekannya, Aliya menceritakan perjuangan dalam meyakinkan masyarakat lokal terhadap budaya luar yang mereka bawa. Keduanya terus berupaya mengubah persepsi negatif tersebut melalui pendekatan yang lebih sopan dan positif.

"Mungkin dulu masyarakat di Aceh susah menerima karena kita bawa budaya Barat. Tapi kita mencoba mengubah pandangan. Dari gerakan juga mengambil hal positif dan tentunya harus berpakaian yang sopan," jelas Aliya.

Sementara untuk dunia musik, Bottlesmoker memberi perspektif lain tentang bagaimana alam bisa menjadi sumber inspirasi karya modern. Ryan salah satu personel, bercerita awal mula ketertarikan memproduksi musik dari media yang tidak biasa seperti tanaman.

"Awalnya kita menggunakan medium yang menjadi alat berbeda dari umumnya. Berawal saat pandemi. Kita ingin berterima kasih kepada alam, nature. Dari hal terkecil itu kita membuat komposisi musik dari tanaman, dan dari situ kita dapat seperti ingin berkomunikasi, berterima kasih dengan alam dengan teknologi yang kita punya," Ryan membeberkan.

Ketampar Local Distance

Agung, personel Bottlesmoker lainnya, menambahkan, momen kesadaran akan pentingnya kearifan lokal muncul ketika mereka merasa tertinggal jika terus berkiblat ke luar negeri. Ia justru menemukan nilai futuristik saat mempelajari kehidupan masyarakat adat di Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Ada momen kayak ketampar local distance, kayak ketinggalan zaman. Ketika kita pelajari ke masyarakat adat, ternyata sangat modern, futuristik. Kayak rumah culture, konsep sustainable. Makanya kami bawa ke atas panggung, kayak nanas sebagai simbol selamat datang. Itu kami bawa ke atas panggung untuk perform bersama kami," tutur Agung.  

Halaman
Show All
M Altaf Jauhar, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan