Ammar Zoni Nangis Bacakan Pleidoi, Akui Cerai dari Irish Bella Sebagai Titik Terendah dalam Hidup

Ammar Zoni menjalani sidang lanjutan kasus narkoba beragenda pembacaan pleidoi. Ia menyinggung perceraian dengan Irish Bella yang berdampak besar.

Diterbitkan 04 April 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Hakim pun waktu itu memutuskan saya kembali menjalani rehab. Sungguh menyakitkan bukan karena rehabnya, melainkan kabar yang saya terima datang dari mantan istri saya, yaitu keinginannya untuk bercerai, meminta saya untuk memberikan talak kepadanya," kenangnya.

Keputusan berpisah awalnya ditolak karena Ammar Zoni tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi pernikahan. Ia menjadikan kesetiaan sang ayah kepada mendiang ibu sebagai kiblat mengapa tidak pernah ada kata cerai dalam prinsip hidupnya selama ini.

"Yang tentu saja saya menolak, untuk saya yang dibesarkan oleh keluarga yang tidak ada kata bercerai. Dengan melihat betapa besar cinta bapak kepada mama, bahkan sampai mama menutup mata pun bapak masih tetap setia dan memilih membesarkan kami sendiri tanpa didampingi pasangan lain sampai akhir hayatnya. Tentu saya tidak akan ada kata bercerai di hidup saya," tegas Ammar Zoni.

Menjalani Rehab

Segala daya dan upaya dikerahkan demi mempertahankan keutuhan rumah tangga, meski Irish Bella tetap teguh pada pendiriannya untuk berpisah. Ia mengaku telah memohon, merajuk, hingga menangis agar diberi kesempatan memperbaiki semuanya.

"Namun berbeda lagi dengan pandangan mantan istri saya, ia pun tetap memaksa meminta talak. Sebagaimana pun saya sudah meminta maaf, memohon, merajuk, meratap, menangis meminta dikasihani, meminta kesempatan sekali lagi agar jangan sampai berakhir," tambah Ammar Zoni.

Perubahan perilaku yang ditunjukkannya usai keluar dari rehabilitasi tak cukup kuat untuk meluluhkan hati Irish Bella kala itu. Kegagalan mempertahankan biduk rumah tangga ini diakui Ammar Zoni sebagai kenyataan pahit yang menandai kehancuran total hidupnya.

"Sebagaimana pun sudah saya tunjukkan perubahan setelah saya pulang dari menjalani rehab, tetap tidak mengubah sama sekali tekadnya. Dan inilah titik terendah saya," ucapnya.

Kenangan Buruk

Kondisi Ammar Zoni makin terguncang saat harus menghadapi kenyataan pahit di tengah pertempuran batin yang tak kunjung usai antara logika dan perasaan. Ia merasa ada pertentangan hebat dalam diri saat menyadari statusnya sebagai pencandu yang merasa tidak layak bagi siapa pun.

"Seolah-olah kenangan buruk itu muncul secara bersamaan tentang kehilangan. Antara hati, pikiran, dan badan tidak berjalan seiringan. Di pikiran saya mengatakan memang pantasnya orang seperti saya ini ditinggalkan, orang seperti saya tidak pantas bersanding dengan wanita salihah, tidak pantas jadi imam bagi istri dan anak karena saya tak lebih dari seorang pencandu yang sakit," urai Ammar Zoni.

Terlihat Begitu Sempurna di Permukaan

Lebih lanjut, ia sempat mempertanyakan mengapa harus dijauhi dan diasingkan orang terdekat, saat menderita. Ammar Zoni menganggap ketergantungan narkoba sebagai masalah kesehatan yang seharusnya mendapatkan dukungan.

"Namun di hati saya pun mengatakan ya mengapa saya harus... hanya karena saya seorang penyalahguna untuk diri saya sendiri, saya ditinggalkan? Kecanduan adalah penyakit otak kronis yang sulit disembuhkan, lalu kenapa orang yang sedang sakit dibuang di saat hanya dia satu-satunya sebagai rumah tempat saya kembali pulang, tetapi malah diasingkan atas kekurangan saya? Dan apakah mungkin ini seharusnya saya diperlakukan?" keluhnya di depan Majelis Hakim.

Ammar Zoni menggambarkan betapa hancurnya perasaan karena kehilangan arah dan tujuan hidup. Meski dari luar terlihat baik-baik saja, batinnya hampa dan tak berdaya menghadapi badai bertubi-tubi. "Terlihat begitu sempurna di permukaan, namun saya kosong di kedalaman," pungkas Ammar Zoni.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
M Altaf Jauhar, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan