Catatan Sineas Ifa Isfansyah untuk Jakarta World Cinema 2025: Tak Ada Istilah Terlalu Banyak Festival

Jakarta World Cinema 2025 yang digelar luring di CGV Cinemas Grand Indonesia Jakarta ditutup pada Sabtu (4/10/2025). Ifa Isfansyah berbagi catatan penting.

Diterbitkan 04 Oktober 2025, 09:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pergelaran Jakarta World Cinema 2025 secara luring di CGV Cinemas Grand Indonesia Jakarta akan ditutup pada Sabtu (4/10/2025). Sejumlah sineas menghadiri festival film yang memasuki tahun keempat penyelenggaraan ini. Salah satunya, Ifa Isfansyah.

Sutradara film Garuda Di Dadaku itu menjabat Steering Committee dan hingga kini terus mendukung JWC 2025. Ifa Isfansyah menyebut festival film seperti Jakarta World Cinema sangat penting dalam membentuk budaya sinema suatu negara.

“Yang paling penting membentuk dan menguatkan budaya sinema. Bahwa menonton film itu bagian dari masyrakat seperti budaya lain. Saya percaya budaya harus di-create dengan konsisten seperti halnya dulu, saya enggak mengerti kenapa ada JAFF?” katanya.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dulu belum sekuat sekarang. Karena konsisten digelar tiap tahun, seniman maupun pencinta film mulai makin sadar pentingnya JAFF hingga akhirnya jadi agenda tahunan yang identik dengan Kota Gudeg.

 

Tak Ada Istilah Kebanyakan Festival

Dalam wawnacara eksklusif dengan Showbiz Liputan6.com di Jakarta baru-baru ini, Ifa Isfansyah menyebut festival film seperti Jakarta World Cinema dan JAFF adalah peristiwa budaya yang membentuk budaya sinema. Karakter JAFF dengan JWC berbeda.

“Saya akhirnya percaya bahwa seharusnya enggak ada istilah kebanyakan festival atau terlalu banyak festival. Harusnya enggak masalah karena idealnya di tiap kota ada, kultur dan karakternya berbeda-beda,” Ifa Isfansyah mengulas.

 

Festival Film dan Budaya Sinema

“Karena buat saya, festival film apapun goal-nya satu, bagaimana membentuk dan memperkuat budaya sinema. Menonton film itu banyak experience-nya. Ada yang menonton sebagai hiburan, kadang kita melacak dulu siapa yang bikin, siapa yang main,” urainya.

Berkaca pada pengalaman, Ifa Isfansyah mengakui kadang menonton film yang bukan tipe-nya namun topiknya penting untuk dimengerti. Saat line-up JWC 2025 diumumkan, seperti pencinta sinema lainnya, Ifa Isfansyah pun mengincar sejumlah film.

 

Festival Film Punya Karakter Beda

Dua di antaranya Romeria karya sineas Carla Simon dan Sentimental Value. Khusus Romeria, Ifa Isfansyah memang mengkuti sepak terjang Carla Simon dari sejak film Summer 93 yang dirilis sewindu silam. Ia pun mengapresiasi hadirnya Jakarta World Cinema.

“Tiap festival film punya karakter beda-beda. Benar banget, JWC sekarang hampir memutar semua film yang terbaik dalam festival film kelas A seperti Berlin, Cannes, Toronto, Venice dan sebagainya,” beri tahu Ifa Isfansyah.

“JAFF adalah ruang untuk membantu film-film yang enggak punya distributor agar bertemu penonton. JWC justru menampilkan film-film besar yang punya sales, distributor. Film-film besar yang penting banget untuk membuka teritori ini,” tutupnya.

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon Maternity Shoot, Simpel tapi Penuh Makna

Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan