Review Film Dangerous Animals: Manusia Dijadikan Santapan Ikan Hiu, Akting Jai Courtney Lebih Bahaya!

Dangerous Animals bikin kejutan karena masuk radar Festival Film Cannes 2025 untuk sesi Directors’ Fortnight. Publik bertanya sementereng apa film ini?

Diterbitkan 23 Juni 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Rumus jadul lainnya, biasanya sekumpulan orang dari institusi tertentu dengan misi khusus menuju tempat berbahaya lalu hewan tak terduga mengacaukan segalanya. Sebaliknya, Nick Lepard menciptakan tokoh-tokoh dengan latar terang benderang.

 

Uji Nyali di Laut Lepas

Pertautan dan interaksi mereka terasa intens sebelum mengantar para tokoh ini “uji nyali” dengan tujuan akhir mempertahankan nyawa. Josh Heuston dengan postur atletsi plus perut sicpack-nya bukan sekadar “pemanis” agar Dangerous Animals tampak sedap.

Babak pertama menampilkan pertemuan tak sengaja, ketertarikan terhadap Creedence dan mengapa lagu mereka yang berjudul “Ooby Dooby” terasa enggak banget. Diurai pula soal perbedaan selera makan hingga alasan Zephyr tinggal di mobil.

 

Jiwa Penyintas Dalam Diri Perempuan

Jiwa rebel tergambar jelas dalam diri Zephyr yang dibawakan dengan meyakinkan oleh Hassie Harrison. Sejak muncul di layar, karakter Zephyr memang terlihat tak biasa dan sangat bisa diandalkan. Josh Heuston tampil dengan pendekatan lain.

Justru di sinilah transformasi karakter Moses lebih kentara. Di awal, Moses hanyalah mas-mas gemesh anak orang kaya yang “heboh sendiri.” Lalu, hatinya tersangkut cinta setelah melewati hubungan intim yang seru. And yes, sex changes everything.

 

Monster Berwujud Manusia

Di antara keduanya, ada Jai Courtney yang sukses menjadikan Tucker monster berwujud manusia. Trauma masa kecil, wawasan soal biota laut plus sejumput “sakit jiwa” membuat kehadirannya sungguh mengerikan. Lebih ngeri ketimbang teror hiu.

Tak banyak karakter dalam film ini. Menariknya, tiap karakter merujuk pada ekosistem ikan berikut karakteristiknya. Salah satunya, Zephyr yang dipersamakan dengan Marlin, ikan pancingan yang gesit sekaligus kuat.

Tucker menempatkan diri di puncak rantai makanan hingga lupa ikan pancingan ala Marlin pun predator yang mampu membuat perlawanan. Dangerous Animals di tangan Sean Byner bukan lagi soal upaya manusia menyelamatkan diri dari hewan buas.

Manusia Kehilangan Sisi Kemanusiaan

Ini soal manusia menyelamatkan diri dari sesama yang kehilangan sisi kemanusiaan. Sejatinya, tak ada yang lebih mengerikan dari manusia yang berlaku seperti binatang. Makin “cling” karena film ini menitikberatkan pada upaya, bukan hasil.

Maka, jangan heran jika tokoh utama film ini berkali gagal dalam berupaya. Menggunakan segala cara untuk bertahan dalam ekosistem yang tak lagi sehat jika tak mau disebut berbahaya. Perasan keringat dan otak justru membuatnya susah tewas.

Intens. Tegang. Menggemaskan. Titik balik film ini bahkan membuat penonton bertepuk tangan seraya berteriak “mamp**” terhadap sang antagonis. Dangerous Animals dikerjakan pakai hati. Terbukti, menit akhir film thriller ini masih bisa terasa gemas dan sweet.

 

 

Pemain: Hassie Harrison, Josh Heuston, Rob Carlton, Ella Newton, Liam Greinke, dan Jai Courtney

Produser: Troy Lum, Andrew Mason, Pete Shilaimon, Mickey Liddell, Chris Ferguson, dan Brian Kavanaugh-Jones

Sutradara: Sean Byrne

Penulis: Nick Lepard

Produksi: LD Entertainment, Brouhaha Entertainment, Range Media Partners, dan Oddfellows Entertainment

Durasi: 98 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan