Eksklusif, Lele Leila Bongkar Beda Proses Kreatif Naskah Film Pabrik Gula dan KKN di Desa Penari

Penulis naskah Lele Leila membongkar proses meracik naskah Pabrik Gula yang akan tayang di bioskop, Lebaran 2025. Ini beda dengan KKN di Desa Penari.

Diterbitkan 28 Maret 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Produser MD Pictures, Manoj Punjabi, meng-ACC naskah tersebut. Perburuan pemain dimulai lalu didapat konfigurasi menawan yakni Arbani Yasiz, Erica Carlina, Ersya Aurelia, hingga bintang senior seperti Budi Ros dan Dewi Pakis.

Di sela penyusunan naskah, ada satu hal paling susah yakni meracik unsur komedi. “Bagian yang paling susah itu komedi. Karena ini kali pertama saya menulis komedi. Saya ditemani konsultan komedi, Nona Ica yang menulis naskah Sekawan Limo,” akunya.

Beruntung Awi Suryadi mendapat barisan komedian yang tampil asyik dan bikin naskah Lele Leila makin hidup. Mereka yakni Benidictus Siregar (sebagai Franky), Arif Alfiansyah (Dwi), Yono Bakrie (Rano), dan Sadana Agung (Karno).

“Sadana, Beni, Mas Arif dan Yono, mereka sudah ready untuk meramu juga menambah-nambahi jadinya enak banget,” Lele Leila menyambung seraya menyadari Pabrik Gula mengukuhkan posisinya sebagai penulis naskah spesialis horor.

Lele Leila tak keberatan dijuluki penulis spesialis horor. Mengingat, ia melahirkan banyak film horor laris dalam beberapa tahun terakhir. Selain KKN di Desa Penari dan prekuelnya, ada Danur: I Can See Ghosts, Sijjin, Pemandi Jenazah, Qorin, hingga Ivanna.

 

Awal Karier Menulis Film LGBT

“Keberatan? Sekarang sudah tidak berat. Memang ya. Selama bertahun-tahun saya menulis horor terus. Enggak tahu, sudah berapa banyak. Kayaknya aku bukan spesaialis, tapi genre itu lebih nyaman. Aku menuliskannya sudah nyaman,” beri tahu Lele Leila.

Lele Leila mengumpamakan dengan dokter spesialis anak atau kandungan. Ketika bertemu sejumlah pasien yang sama berkali-kali, lama-lama dokter tersebut mengenal lebih detail dan tahu betul kondisi hingga rekam jejak medis para pasiennya.

“Akhirnya jadi lebih ahli atau mahir. Semoga (saya pun begitu), insyaallah,” ia berharap. Lele Leila mengenang, karier menulisnya bermula pada 2012 lewat film low budget dalam format omnibus yang memfiturkan 10 cerita pendek bertema LGBT.

Judulnya, Sanubari Jakarta yang diperkenalkan ke publik di Gedung PPHUI Jakarta. Tayang dengan jumlah layar terbatas dan gagal mencetak box office tak membuatnya berkecil hati. Lele Leila percaya pada proses, konsistensi, belajar serta berani menjajal hal baru.

“Skenario pertama saya bukan horor tapi Sanubari Jakarta. Omnibus 10 film tentang LGBT. Itu kesepuluhnya aku yang bikin. Itu saya tulis pas umur 21 tahun. Omnibus Sanubari Jakarta, isinya 10 film tentang LGBT,” Lele Leila mengenang.

Kini, 13 tahun lewat sudah. Lele Leila jadi penulis naskah papan atas Tanah Air. Ia sendiri tak menyangka bisa sampai di fase ini: melahirkan film Indonesia terlaris sepanjang masa. Andai bisa bertemu diri sendiri di tahun 2012, apa yang ingin disampaikan Lele Laila?

“Aku cuma mau bilang (ke Lele Leila versi 21 tahun), ‘Kamu memilih jalan yang benar. Meski panjang tapi kamu melaluinya dengan sukacita. Tenang saja, karena ada banyak orang baik di sekitarmu. Alhamdulillah ketemu banyak orang baik,’” ucapnya dengan mata berkaca.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan