Resensi Film The Zone of Interest: Kesenjangan Realitas dalam Perang Dunia, Kandidat Kuat Menang Oscar 2024

Salah satu yang diunggulkan dalam Oscar 2024, yakni film The Zone of Interest karya sutradara Jonathan Glazer yang diadaptasi dari buku karya Martin Amis.

Diperbarui 02 Maret 2024, 20:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Baik-baik Saja di Tengah Perang

Sekilas remeh temeh padahal sebenarnya Jonathan Glazer hendak menggarisbawahi betapa baik kondisi keluarga ini. Semua ini berbanding terbalik dengan kondisi di luar pagar. Berkali-kali kita mendengar tembakan, teriakan, dan suasana perang yang tak kunjung berakhir.

Perulangan adegan di rumah gedongan yang baik-baik saja berikut repitisi perang di luar tembok inilah yang membuat kita terus digelayuti pertanyaan: Kok bisa ya, mereka hidup di situ dan bersikap biasa saja? Dan masih banyak lagi.

Kedahsyatan Perang Dalam Suara

Adegan demi adegan ini makin ke tengah film terasa dalam. Kita melihat lebih detail hubungan pasutri yang sesungguhnya tidak baik-baik saja. Punya rumah impian (meski di medan perang) adalah mimpi yang terwujud. Sayang, manusia sering lupa pada kata cukup.

The Zone of Interest dengan cermat mempresentasikan emosi, pertentangan batin, dan ironi. Tak hanya lewat gambar bicara tapi juga suara. Anda yang berharap visual “vulgar” tentang perang siap-siap kecewa karena tak ada secuil pun di sini.

Kedahsyatan perang tergambar dari suara yang mencengkeram nurani kita. Makin nyesek karena di tengah perang ada hidup yang baik-baik saja itu tadi. Bahkan, sempat merayakan ulang tahun. Saat umur terasa mahal, di rumah gedongan ada panjang umur yang dipestakan.

 

Warna-warna Pucat

Nyesek barangkali kata yang pas untuk menggambarkan The Zone of Interest. Batas hitam dan putih benar-benar kabur. Kita tak bisa menyalahkan dua karakter utama film ini karena perang dunia tak pernah sesimpel yang kita bayangkan.

Dengan visual pucat dan tak banyak dialog karena gambar telah berbicara, The Zone of Interest berhasil membangun sepenggal kisah keluarga dalam kelamnya sejarah dunia.

Pernah ada masa di mana nyawa 700 ribu orang “menguap” lalu dipestakan. Setelah pesta selesai, ada hati sepi dan muak yang dimuntahkan. Waktu berkelana dan membawa kita ke masa di mana sebuah museum menjadi saksi amblasnya nurani manusia.

 

Tak Banyak Bicara Tapi Nyelekit

The Zone of Interest adalah catatan sejarah dalam visual syahdu. Tak banyak bicara tapi nyelekit. Tak banyak dramatisasi namun efek senyapnya membekas di benak hingga berhari-hari. Tak perlu menjadi grande namun kita sama-sama mengamini ini film penting.

The Zone of Interest memborong 9 nominasi di ajang Oscar-nya Inggris, yakni BAFTA. Ia menang tiga kategori yakni Film Inggris Terbaik, Film Berbahasa Asing Terbaik, dan Tata Suara Terbaik.

Kali terakhir Jonathan Glazer menyutradarai film 10 tahun silam, yakni Under The Skin dibintangi Scarlett Johansson. Setelahnya, ia lebih banyak mengerjakan film pendek dan serial TV. The Zone of Interest adalah comeback terbaik!

 

 

Pemain: Christian Friedel, Sandra Hüller, Johann Karthaus, Luis Noah Witte, Nele Ahrensmeier, Lilli Falk, Imogen Kogge

Produser: James Wilson, Ewa Puszczyńska

Sutradara: Jonathan Glazer

Penulis: Jonathan Glazer berdasarkan buku The Zone of Interest karya Martin Amis

Produksi: A24

Durasi: 1 jam, 45 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan