Resensi Film Full Time: Ide Cerita Simpel, Hasil Akhir Wow Menegangkan Layaknya Nonton Thriller

A Plein Temps atau Full Time adalah film karya sineas Prancis Eric Gravel. Aktris Laure Calamy tampil prima dalam drama rumah tangga menegangkan ini.

Diperbarui 18 Juli 2022, 21:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dengan nada bicara meninggi, Jeanne menuntut Julie bersikap terbuka jika ingin diterima kerja. Ini masih ditambah masalah lain dari tunjangan suami yang tak kunjung cair hingga hasil interviu mengambang. Julie makin stres hingga tak pernah tidur nyenyak.

Ya, ini drama rumah tangga. Dan ya, film ini cewek banget. Namun perhatikan Full Time baik-baik. Dalam 15 menit pertama, ia menegangkan. Setidaknya ada tiga faktor pemicu. Pertama, tokoh utama tampak buru-buru alias bergegas.

Kedua, perkara pergi ke kantor saja melewati banyak drama. Sinematografi Victor Seguin memperlihatkan raut lelah Julie. Lalu mata kamera membidik panorama kaca jendela kereta api. Pergerakan objek di luar menajamkan kesan buru-buru.

Kekuatan Tata Musik

Ketiga, tata musik besutan Irene Dresel. Cenderung monoton, bertempo cepat, seolah ada sesuatu yang harus dikejar dan bikin kita makin tak tenang. Eric Gravel memberi ruang kepada audiens untuk mengenal keseharian Julie dengan lebih intens.

Adegan Julie pulang kelelahan, bangun tidur mesti ngurus anak, berangkat kerja selalu buru-buru, lalu diulang lagi dan lagi. Dengan latar aksi mogok kerja plus hiruk pikuk hotel, hidup Julie yang sebenarnya seperti ibu bekerja pada umumnya terasa makin dramatis dan menegangkan.

Terjebak Dalam Penasaran

Sampai di menit ke-60, penonton masih terjebak dalam penasaran akut. Nasib Julie bagaimana? Kalau tetangganya benaran enggak bisa dititipi anak gimana? Suaminya kenapa sih ditelepon susah amat? Ya Allah, rekan kerja Julier julid banget? Dan masih banyak lagi rasa penasaran lain.

Walhasil, drama rumahan ini menjelma thriller yang bikin penonton kepikiran, kecipratan sensasi tergesa-gesa, berkejaran dengan waktu, dan paling penting berempati pada tokoh utama. Kita ikut memiliki kehidupan Julie yang tak sempurna dan amburadul.

 

The Power Of Laure

Selain kinerja sang sutradara yang ciamik, pujian patut diberikan kepada Laure Calamy yang tampil konsisten. Konsisten stres, senewen, putar otak, kesepian sometimes, namun tetap meyakini bahwa menyerah bukanlah pilihan.

Cerita Full Time dibangun dengan fondasi kokoh, bertumpu pada satu karakter dengan segala plus minusnya. Dibilang plus minus karena Julie tak sepenuhnya putih. Ada kalanya ia mengambil jalan pintas untuk menyelamatkan diri. Bukan berarti ia bikin penonton ilfil.

Justru di titik-titik inilah, karakter utama tidak terasa mengawang-awang. Manusiawi karena andai menghadapi situasi semacam ini, kita mungkin akan melakukan hal serupa. Lebih brutal malah.

 

Tak 100 Persen Melegakan

Akhir film ini tak 100 persen melegakan. Tak 100 persen menjawab semua persoalan. Mengapa? Karena hidup pada hakikatnya lepas dari masalah satu lalu diadang yang lain. Namun dari mata yang berkaca, merekahnya senyum, dan lambaian tangan, kita tahu selalu ada harapan di balik pekatnya problema.

Selalu ada titik terang setelah melintasi lorong panjang nan gelap. Full Time menegangkan, menghibur, menjebak kita dalam beragam emosi. Ia bikin kita tergopoh-gopoh nyaris di sepanjang film. Di ujung, kita malah pengin memeluk sang tokoh utama. Semenyenangkan itu.

 

 

Pemain: Laure Calamy, Lucie Gallo, Mathilde Wil, Anne Suarez, Cyril Guei, Genevicie Mnich, Olivier Faliez, Sasha Lemaitre Cremaschi, Nolan Arizmendi

Produser: Raphaelle Delauche, Nicolas Sanfaute

Sutradara: Eric Gravel

Penulis: Eric Gravel

Produksi: Novoprod, France 2 Cinema, Haut et Court

Durasi: 1 jam, 28 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan