Shang Chi and The Legend of the Ten Rings: Karisma Tony Leung Sulit Ditepis, Malah Bikin Jatuh Hati

Yang panen pujian pekan ini, Shang Chi and The Legend of the Ten Rings. Konon ia salah satu produk layar lebar terbaik Komik Marvel dekade ini.

Diterbitkan 26 September 2021, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tony yang 'Mengganggu'

Satu jam pertama, kehadirannya benar-benar “mengganggu.” Cara Wenwu hadir, berbicara, beraksi dengan tangan dingin, hingga mempresentasikan apa yang diyakininya membuat kami teryakinkan. Bahkan, rela memberikan hati kami untuk Wenwu.

Memasuki paruh kedua, barulah kami sadar bahwa di tangan Simu Liu-lah harapan semestinya ditautkan. Simu Liu tampaknya butuh waktu untuk mengimbangi karisma seniornya. Beruntung, waktu yang dibutuhkan tak terlalu lama.

Ndilalah, rekan kerjanya, Awkwafina cukup aktif memancing sang aktor untuk lebih lepas dan ekspresif. Jadilah proses perkenalan Shang Chi dengan audiens berlangsung renyah dan asyik.

Klasik dan Masih Efektif

Beberapa tokoh dalam Shang Chi and The Legend of the Ten Rings yang berada di garis depan memperlihatkan kepekaan departemen penata peran dalam mencari pemain. Hasilnya, tampak pas dan terlihat luwes bersenyawa.

Selain pemain, kekuatan film ini ada dalam penceritaan. Khas Marvel yang tanpa basa-basi dengan selera humor antigaring, beberapa konflik yang merupakan bagian dari pengenalan karakter di pajang di depan.

Jurus klasik ini masih efektif membuat alur Shang Chi and The Legend of the Ten Rings terasa bergegas. Isinya tak seperti wahana bermain. Jika direnungi lebih dalam, film aksi fantasi ini memberi pesan mendalam.

Tak Berfungsi Ideal

Bagaimana jika keluarga yang mestinya menjadi tempat teraman bagi seorang anak tak lagi terasa aman? Pesan utama ini kemudian dikembangkan ke dalam sikap-sikap tak lazim dari para anggota keluarga.

Ayah yang penuh penyesalan dan belum bisa berdamai dengan masa lalu. Ibu yang dinilai pergi terlalu cepat. Kakak yang selalu takut dan bersembunyi dari kenyataan. Dan adik yang merasa ditinggalkan, sendirian, dan menjadi lebih keras dari yang semestinya.

Saat para anggota keluarga tak berfungsi ideal, bagian mana yang mesti diperbaiki lebih dulu? Sang Chi bisa jadi tak berbicara tentang bagaimana menyelamatkan dunia atau semesta.

Andai Bukan Pandemi...

Para lakon mencari solusi, menyusun ulang puzzle keluarga ideal meski tak akan lengkap 100 persen. Namun justru inilah elemen yang membuat film ini terasa dekat dan mudah diterima. Semua karakter dalam film ini menyandang peran penting dalam porsi berbeda.

Dunia yang ditawarkan bisa jadi “kecil.” Namun, bukankah ruang kecil membuat para penghuninya merasa hangat dan ada? Itulah kunci keberhasilan Shang Chi. Dengan sinematografi yang dinamis, editing yang peka menggarisbawahi Shang Chi sebagai anggota baru jagat sinema Marvel, riasan, kostum plus efek visual memukau, Destin Daniel Cretton berhasil melahirkan salah satu film origin yang ideal. 

Artistik dan penataan konflik menyempurnakan Shang Chi and The Legend of the Ten Rings sebagai jilid perdana terbaik tahun ini. Bahkan, dekade ini. Andai bukan pandemi, mudah saja bagi Shang Chi menggasak 1 miliar dolar AS dari seluruh dunia.

  

 

Pemain: Simu Liu, Awkwafina, Fala Chen, Florian Munteanu, Meng’er Zhang, Michelle Yeoh, Tony Leung, Ben Kingsley

Produser: Kevin Feige, Jonathan Schwartz

Sutradara: Destin Daniel Cretton

Penulis: Dave Callaham, Destin Daniel Cretton, Andrew Lanham

Produksi: Marvel Studios, Walt Disney Studios

Durasi: 2 jam, 12 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan