The Darkest Hour, Biopik Kocak Si PM Nyentrik Winston Churchill

The Darkest Hour memiliki banyak dialog segar yang memancing tawa penonton.

Diterbitkan 19 Januari 2018, 09:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Begitu pula orang-orang di sekeliling Churchill. Sang istri, Clementine (Kristin Scott Thomas), memang tampak tegar dan tegas di hadapan suaminya. Namun di balik itu, ia juga memiliki rasa kesepian tersendiri.

Bahkan sosok Neville Chamberlein dan Viscount Halifax yang menjadi lawan politik Churchill pun tak digambarkan dengan negatif dalam film ini. Konflik antara tokoh-tokoh in lebih digambarkan karena adanya pertentangan cara pikir, yang argumennya sama-sama bisa dimengerti. Jadi bukan sekadar pergumulan antara karakter protagonis dan antagonis saja.

Penggambaran karakter seperti ini membuat penonton mudah jatuh simpati dengan tokoh-tokoh di film ini.  

Tayang 19 Januari

The Darkest Hour yang disusun secara naratif, membuat penonton—termasuk yang awam dengan sejarah Inggris—mudah mengerti konteks sejarah dalam masa-masa awal pemerintahan Churchill.

Ditambah dengan pengemasan secara menarik, The Darkest Hour bisa menjadi salah satu pembuka ketertarikan penonton terhadap sejarah Perang Dunia II. Tapi tentu saja jangan menjadikan film ini sebagai patokan kebenaran sejarah.  

Yang namanya film—meski berlandaskan sejarah—tak usah heran bila ada hal yang difabrikasi atau juga dilebih-lebihkan. Apalagi mengingat film ini meminjam perspektif dan suara dari Winston Churchill, dan membuat dirinya bagai pahlawan di akhir film ini.

The Darkest Hour, akan mulai ditayangkan secara luas di bioskop Indonesia pada Jumat (19/1/2018).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Hernowo Anggie, Hotnida Novita SaryTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan