Assassin's Creed, Adaptasi Game yang Bikin Puas Sekaligus Kecewa

Film adaptasi video game Assassin's Creed bisa memuaskan maupun mengecewakan penonton.

Diterbitkan 28 Desember 2016, 13:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Aksi Callum selama berada di Animus Project, diperlihatkan secara spesifik dalam film ini. Adegan-adegan tersebut menjadi keunggulan utama Assassin's Creed. Bahkan, kita juga akan melihat para Assassin melakukan parkour di bangunan-bangunan kuno abad 15.

Film Assassin's Creed. (20th Century Fox)

Selain itu, panorama peperangan di beberapa momen juga cukup memanjakan mata. Setiap kali Callum kembali merasuki nenek moyangnya, kita disambut oleh penampakan burung elang. Dalam game asli, burung tersebut memegang peranan penting dalam melakukan gerakan Leaps of Faith. Namun di film ini, elang hanya muncul sebagai penghias.

Bicara soal Leaps of Faith, lompatan legendaris ini juga dimunculkan di pertengahan film. Banyak penggemar yang memuji momen spektakuler ini. Pasalnya, dalam game aslinya gerakan tersebut menjadi satu hal yang sangat ikonis.

Film Assassin's Creed. (20th Century Fox)

Akting Michael Fassbender dan Marion Cotillard dalam film ini boleh dipuji. Terlebih lagi, Michael Fassbender sangat total dalam memperagakan beberapa gerakan bela dirinya. Jeremy Irons yang menjadi bos besar Abstergo Industries, memainkan peranannya dengan cukup baik.

Beberapa adegan kekerasan dan juga konsep gelap di dalamnya, barangkali akan terlihat keren di mata para pecinta game aslinya. Sehingga kalau ada yang mengatakan film ini sebagai salah satu adaptasi video game terbaik, rasanya tidak perlu dipermasalahkan.

Kenapa Assassin's Creed Juga Mengecewakan?

Kepiawaian sutradara Justin Kurzel dengan film-film sebelumnya seperti Macbeth dan Snowtown, tampaknya tidak tertuang dalam Assassin's Creed. Meskipun dibesut oleh banyak perusahaan termasuk developer game aslinya, Ubisoft Entertainment, film yang didistribusikan oleh 20th Century Fox ini tetap memiliki banyak cacat dan kelemahan.

Sejak awal film saja, kita sudah disuguhi oleh adegan yang menimbulkan pertanyaan. Misalnya mengapa Aguilar dan para Assassin harus memotong jarinya saat bersumpah? Lalu mengapa Callum bisa dicap sebagai kriminal setelah masa kecilnya hancur? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak dijawab secara lugas hingga akhir film.

Assassin's Creed. (20th Century Fox)

Sebetulnya, motivasi para anggota Orde Templar dalam mencari Apple of Eden cukup sederhana. Namun karena saking banyaknya intrik, konflik dalam film ini jadi terasa ganjil hingga akhir film.

Alat-alat yang menjadi tulang punggung Animus Project sepintas terlihat keren. Memang, konsep alat ini dijelaskan secara detail. Namun sayangnya, banyak hal-hal teknis yang menimbulkan banyak pertanyaan bagi penonton. Contoh saja: Apakah Sophia dan yang lainnya bisa ikut melihat serta mendengar memori Aguilar? Seberapa panjang jangkauan alat Animus yang digunakan Callum, mengingat saat adegan memanjat tembok, Aguilar meraih tempat yang lebih tinggi? Bagi penonton yang bukan gamer juga tentu akan bingung saat mendengar kata "Leaps of Faith" yang tak dijelaskan secara rinci.

g src="https://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1448221/big/077118000_1482899256-unduhan.jpg" border="0" alt="Assassin's Creed. (20th Century Fox)">

Tak hanya memberikan banyak pertanyaan tak terjawab dan istilah yang hanya diketahui para gamer, Assassin's Creed juga membuat penonton terpaksa menyaksikan drama dan konflik yang terlalu menonjolkan ego masing-masing karakter. Sehingga, karakter antagonis dalam film ini jadi terlihat seperti orang bodoh.

Banyak juga konflik dalam film ini yang didasari atas alasan yang lemah, seolah mengesampingkan sebab dan akibat yang sangat penting bagi sebuah film. Alhasil, Assassin's Creed sukses memusingkan beberapa penonton yang lebih suka film-film dengan alur cerita beserta poin yang tak terlalu ruwet.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan