6 Film yang Mengubah Dunia

Film yang hebat, mampu menciptakan perubahan. Tak hanya untuk satu orang, tapi seluruh dunia.

Diterbitkan 10 Oktober 2016, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ketika Philadelphia dirilis pada tahun 1993, film ini membantu mengubah persepsi publik. Film ini bercerita tentang seorang pengacara muda gay (Tom Hanks), yang dipecat dari firmanya setelah diketahui dia mengidap AIDS.

Philadelphia juga adalah film Hollywood pertama yang membahas tentang isu AIDS dan homofobia. Saking kuatnya pesan yang disampaikan oleh film ini, Philadelphia membuat orang mulai mendiskusikan dan membahas isu ini.

"Film ini berhasil membuat orang membicarakan HIV dengan cara yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya," ujar aktivis AIDS Gary Bell.

3. Super Size Me (2004)

Selama satu bulan, sutradara Super Size Me, Morgan Spurlock, hanya memakan makanan dari McDonald's. Setiap hari, Spurlock tiga kali mengonsumsi makanan dari restoran cepat saji ini. Dia sudah mencoba semua jenis makanan yang ada di menu, setidaknya satu kali.

Setelah eksperimennya berhasil, berat badan Spurlock meningkat sampai 13 kg, kadar kolesterolnya melonjak tinggi, dan dokternya mengatakan, Spurlock memiliki hati selayaknya seorang alkoholik.

Film dokumenter ini memicu debat sehubungan dengan makanan cepat saji--menyangkut semua hal. Mulai dari bahayanya untuk kesehatan, sampai bagaimana makanan ini dipasarkan untuk anak-anak.

Beberapa minggu setelah film ini rilis, McDonald's menghilangkan menu super size-nya, dan mulai memperkenalkan pilihan yang lebih sehat dalam menunya. Walaupun begitu, restoran AS itu membantah apa yang mereka lakukan adalah reaksi atas dokumenter Spurlock tadi.

4. Selma (2014)

Film yang soundtrack-nya berhasil membuat John Legend dan Common memenangkan Piala Oscar ini bercerita tentang tokoh kulit hitam AS, Martin Luther King Jr dan kampanyenya untuk mendapatkan hak pilih yang setara. Selma juga berhasil memenangkan gelar film terbaik (Best Picture) di 87th Academy Awards.

Film ini dirilis 50 tahun setelah kejadian aslinya terjadi, namun muncul karena kembali munculnya ketegangan rasial di AS. Kekerasan terhadap penduduk kulit hitam AS memunculkan gerakan baru yang menuntut semua orang untuk memahami, hidup penduduk kulit hitam juga sama berartinya (black lives matter).

Itulah yang membuat para bintang dan kru film ini ingin terlibat dengan gerakan tadi, dan mencoba mencari cara agar menarik perhatian pada isu yang mereka usung.

Selma juga dibuat untuk menekankan, walaupun sudah banyak proses berlangsung sehubungan rasisme di AS, namun masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh penduduk negeri Paman Sam itu.

"Kamu menonton film itu dan kamu akan paham bagaimana rasanya menjadi seseorang (berkulit hitam) di tahun 1965, merasa terkejut melihat yang terjadi di TV, karena hal itu juga terjadi padamu," ujar sang sutradara, Ava DuVernay.

Hal ini dituturkannya sehubungan dengan kematian seorang pemuda kulit hitam tak bersenjata yang ditembak polisi.

5. Blackfish (2013)

Pada tahun 2015, SeaWorld mengumumkan bahwa mereka menghentikan show kontroversial mereka, "Shamu Show" dan menggantinya dengan "pengalaman paus orca yang baru." Show baru SeaWorld ini akan berfokus pada kelakukan natural ikan paus.

Walaupun pihak SeaWorld tidak berkomentar banyak, keputusan mereka hampir dipastikan sebagai akibat dari protes publik yang diciptakan oleh film dokumenter Blackfish yang rilis di tahun 2013.

Film ini menarik perhatian tentang bahayanya menangkap ikan paus--baik untuk ikannya juga pelatihnya. Di tahun-tahun setelah peluncuran film ini, Blackfish berhasil menurunkan reputasi SeaWorld, bahkan sampai menurunkan jumlah pengunjung dan harga sahamnya.

6. A Girl in the River (2015)

Setiap tahunnya, sekitar 5000 wanita di seluruh dunia diambil nyawanya dengan cara yang disebut "honour killings". Honour killing adalah pembunuhan yang dilakukan oleh anggota keluarga perempuan tadi (biasanya ayah, saudara laki-laki, atau paman) karena perempuan tadi dianggap telah menodai kehormatan keluarga mereka.

Film A Girl in the River, yang dibuat oleh pemenang piala Oscar sekaligus Young Global Leader, Sarmeen Obaid-Chinoy, bercerita tentang Saba Qaisera. Saba Qaisera adalah seorang wanita muda yang berhasil selamat dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Apa kesalahan Saba? Dia hanya jatuh cinta pada orang yang salah.

Bahkan setelah peristiwa tersebut, Obaid-Chinoy mendapati, ayah Saba sama sekali tidak melihat kesalahan dari apa yang ia coba lakukan.

"Dia berasa dibenarkan untuk mencoba membunuh putrinya sendiri, dan tidak bisa memahami bahwa perbuatannya itu salah. Dia merasa itu adalah tugasnya sebagai ayah dan suami untuk melindungi kehormatan keluarga mereka. Kehormatan yang dinodai oleh Saba karena jatuh cinta dan menikah."

Untungnya tidak semua orang setuju dengan ayah Saba tadi. "Minggu ini, perdana menteri Pakista mengatakan, dia akan mengubah hukum sehubungan dengan honour killing setelah menonton film ini," ujar Obaid-Chinoy di pidato penerimaan piala Oscar-nya.

"Inilah kekuatan dari film."

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Nilam Suri, Feby FerdianTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan