Tentang Hubungan Kritikus dan Pembuat Film, Bagaimana Baiknya?

Pembuat film yang marah-marah ketika filmnya dikritik pedas sejatinya tak butuh kritik film. Lalu, bagaimana baiknya?

Diterbitkan 14 Juli 2015, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta "Film. Mungkin anugerah seni terbesar yang pernah dimiliki manusia."
                                                                              --Janji Joni, 2005--

1

Ada buku kumpulan cerpen asyik tentang dunia perfilman yang ditulis almarhum Misbach Yusa Biran. Judul bukunya ...Oh, Film (terbit dua kali, 1973 [Pustaka Jaya] dan 2008 [KPG]) yang aslinya ia tulis pada penghujung tahun 1950-an. Salah satu cerpen di buku itu berkisah tentang pertemanan Jupri, seorang pria yang ingin dianggap sebagai wartawan, dengan Brotowali, bintang film yang sombongnya minta ampun tapi sebetulnya tak pandai berakting. Dengan membawa kepentingan masing-masing, mereka cepat akrab.

Suatu kali, film yang dibintangi B

rotowali main di bioskop. Jupri mengajak kawan-kawannya yang wartawan betulan nonton dan minta mereka menuliskan resensi filmnya. Teman-teman Jupri memang menulis resensi film itu. Tapi, yang mereka tulis umumnya caci maki. Begini, Misbach menggambarkannya:

"(Di) Penerbitan berikut tertera resensi film tersebut, juga gambar Brotowali dipampangkan. Gambar Brotowali terang sekali, fotonya bagus, dan di bawahnya tercantum kecaman-kecaman yang terang pula tentang permainannya yang dianggap amat merusak seluruh film. Diibaratkan setetes darah babi dalam air: rusak semua oleh perannya yang cuma sedikit. Diusulkan agar adegan di mana Broto ada dibuang saja."

Misbach Yusa Biran (dok. Forum Lenteng)

Yang terjadi kemudian, Brotowali mengeluh pada Jupri. Ia bilang, ayahnya tak bisa menerima anaknya dikritik pedas macam begitu. "Ia tetap tidak mau mengerti kalau anaknya dimaki-maki orang. Saya kuatir betul karena... ya, ayah saya orang galak. Baru umur sepuluh tahun saya bisa ketemu dia, selama itu ia dalam penjara karena membunuh orang yang menghina kakaknya..."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Cerita di atas bisa jadi bentuk ekstrem betapa sebuah resensi film yang pedas tak bisa diterima oleh sebuah pihak. Cerita begini bentuknya macam-macam dan rupanya sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun lampau. Pangkal soalnya adalah pembuat film kerap memanfaatkan kritikus sebagai tolak ukur keberhasilan sebuah karya. Hanya saja, penilaian kritikus itu baru disambut gembira bila hasilnya berupa pujian. Sebab hal itu bisa dijadikan alat pemasaran (bisa ditempelkan di poster film atau sampul DVD). Lain halnya ketika kritikus menilai jelek terhadap karyanya. Pembuat film bisa mencak-mencak, "Memangnya bikin film itu gampang! Enak saja bilang film saya jelek, coba bikin sendiri kalau bisa!" Pembuat film yang marah-marah ketika filmnya dikritik pedas sejatinya tak butuh kritik film. Yang ia butuhkan adalah publikasi alias pemberitaan atau ulasan serba baik dan bagus menyangkut filmnya. Lain tidak.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Feby FerdianTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan