Mungkinkah Indonesia Membuat Film Superhero Sedahsyat Avengers?

Sineas kita sudah membuat film superhero berpuluh tahun lalu. Tapi kenapa kita tertinggal dari Hollywood?

Diterbitkan 04 Mei 2015, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bioskop di berbagai belahan dunia saat ini sedang didominasi film superhero keluaran Marvel Studio, Avengers: Age of Ultron. Di minggu kedua, total pendapatannya membengkak jadi USD 626 juta atau setara Rp 8,1 triliun. Angka itu diperoleh dari USD 187 juta dari Amerika dan USD 439 juta dari luar Amerika.

Dengan pendapatan seperti itu, bujet USD 250 juta atau setara Rp 3,2 triliun langsung balik dan untung hanya dalam waktu 12 hari sejak rilis 22 April.

Apa saja fakta-fakta menarik yang melibatkan perubahan karakter, senjata, perangkat, maupun perlengkapan dalam Avengers: Age of Ultron?

Siapa yang tak tergiur mendapat uang Rp 8,1 triliun hanya dalam waktu dua minggu. Tapi, pertanyaannya kemudian, mungkinkah sineas kita membuat film superhero sedahsyat Avengers: Age of Ultron?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada fakta sejarah yang membanggakan terkait film superhero kita.

Rupanya, sineas kita sudah membuat film superhero berpuluh tahun lalu. Film superhero pertama kita dibuat tahun 1954. Tahun itu hanya lima tahun setelah kita merdeka penuh tahun 1949.

Film superhero Indonesia pertama berjudul Sri Asih. Sutradaranya Turino Djunaedy dan Tan Sing Hwat. Bintang utamanya Mimi Mariani dan Turino sendiri. Produksi Gabungan Artis Film dan Garuda. Film ini adaptasi dari komik berjudul sama dengan filmnya, karya mendiang RA Kosasih. Pria yang disebut Bapak Komik Indonesia ini lebih dikenal dengan masterpiece-nya komik wayang Mahabharata dan Ramayana. Sebelum membuat dua judul itu, Kosasih membuat komik Sri Asih.

Komiknya berkisah tetang Sri Asih, wanita berkekuatan super pembasmi kejahatan. Sri Asih mampu terbang bak roket. Aslinya, Sri Asih seorang wanita kikuk tapi cantik bernama Nani. Siapa Sri Asih asli tak pernah diketahui. Rekan kerja Nina, Sambas, tak pernah lelah mencari tahu identitas asli Sri Asih. Ia curiga Nina adalah Sri Asih, tapi tak pernah bisa membuktikannya.

Sri Asih adalah komik superhero lokal yang langsung mengingatkan kita dengan “saudara”-nya di Amerika Serikat sana. Sri Asih tak lain gabungan Wonder Woman dan Superman, plus ramuan lokal (kostumnya mirip dewi khayangan).

Film Superhero Hollywood Vs Indonesia Era Lampau

Film Superhero Hollywood Vs Indonesia Era Lampau

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Di tahun 1950-an saat Sri Asih lahir, Hollywood tidak sedang gandrung dengan film superhero di layar lebar. Cerita para pahlawan super sedang tersisih ke layar gelas. Di Sabtu pagi anak-anak Amerika disuguhi serial superhero. Yang paling ngetop serial Adventure of Superman dengan bintangnya George Reeves, mulai tayang pada 1952. Waktu itu, tradisi menonton film superhero bioskop di Sabtu pagi sudah ditinggalkan. Penyebabnya, mutu film superhero di bioskop tak bekembang. Padahal, kemunculan film superhero pertama di AS pada 1941 (Adventure of Captain Marvel) begitu disambut meriah. Film itu juga sempat memicu tren film-film superhero lain—termasuk versi layar lebar pertama Superman pada 1948 (diperankan Kirk Alyn). Serial TV superhero lalu dipuncaki dengan hadirnya serial Batman & Robin dengan Batman diperankan Adam West dan Burt Ward sebagai Robin. Serial ini tayang pada 1966-1968 (kita di Indonesia menontonnya di awal 1990-an). Syahdan, di tahun 1973, produser film Alexander Salkind dan anaknya Ilya, punya ide mengangkat Superman menjadi film layar lebar besar. Setelah digodok selama 4 tahun lahirlah Superman: The Movie pada 1978. Richard Donner dibangku sutradara. Mario Puzo, pengarang The Godfather, jadi penulis cerita. Aktor besar Marlon Brando jadi ayah Superman, Jor-El. Sang manusia super sendiri diperankan aktor tak ternama saat itu, Christopher Reeve. Kehadiran Superman: The Movie menandai lahirnya film superhero modern. Dari sini film superhero digarap serius. Bujet besar digelontorkan (55 juta dolar AS, angka besar di masanya). Efek spesialnya kelas tinggi di zamannya. Adegan Superman terbang sudah memakai blue screen. Jangan lupa pula ilustrasi musik bikinan John Williams yang jadi musik tema klasik Superman. Hasilnya pun memuaskan. Orang banyak menyukainya. Film superhero bukan lagi tontonan anak-anak semata seperti serial TV tahun 1950 dan 1960-an atau film-film tahun 1940-an. Empat tahun sebelum Superman: The Movie rilis—atau saat keluarga Salkind masih berjuang mewujudkan mimpi membuat film layar lebar superhero—kita sudah mendahului Hollywood. Pada 1974, sineas kita melahirkan Rama Superman Indonesia (sutr. Frans Totok). Kisahnya tentang Andi (Boy Shahlani), remaja penjaja koran yang mendapat jimat kupu-kupu emas. Bila jimat itu dicium, ia bisa berubah jadi superhero yang bisa terbang, berkostum bak Superman, bernama Rama (diperankan August Melasz). Selang 7 tahun kemudian, sineas kita membuat Gundala Putera Petir (1981, sutr. Lilik Sudijo). Kisahnya seputar Sancoko (Tedy Purba), seorang ilmuwan, berubah jadi superhero bernama Gundala. Awalnya, Sancoko diam-diam menyuntikkan cairan anti petir. Hasilnya luar biasa. Tubuhnya jadi tahan arus listrik dan punya kekuatan super, berkat bimbingan gurunya Dewa Petir (Pitrajaya Burnama). Film superhero lokal lahir berkat kepopuleran komik superhero di era ’70-an. Saat itu jagad komik kita disuguhi berbagai jenis komik berkisah superhero macam Gundala, Godam, dll. Selain Gundala, ada Darna Ajaib (1980, Lilik Sudijo) yang berkisah tentang anak ajaib berkekuatan super. Lalu hadir pula Manusia 6 Juta Dollar (1981, Ali Shahab), versi Warkop DKI dari serial The Six Million Dollar Man dan Gadis Bionik (1982, Ali Shahab) dengan Eva Arnaz sebagai versi lokal Bionic Woman.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Firli Athiah NabilaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan