Tren Memfilmkan Dongeng
![[Bintang] Cinderella](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/98DYBlsSF-UVXzNUhmjxYOBHOnI=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/827050/original/42d392ecc442d978d2468a013a8e6b2b_R2.jpg)
Tahun 2010, Tim Burton membuat ulang dongeng Alice in Wonderland. Di versi film baru itu, dongeng Lewis Carroll terasa nyentrik ala “Burtonian”. Toh, nyatanya masyarakat global suka. Filmnya meraup pendapatan USD 1 miliar di bioskop seluruh dunia.
Sejak itu Hollywood kian getol menggali dongeng-dongeng lama untuk diceritakan kembali. Tren ini sejalan dengan Hollywood yang selama 10 tahun terakhir rajin membuat film remake atau reboot, dari mulai Batman-nya Christopher Nolan hingga James Bond-nya Daniel Craig.
Maka, sejak 2010, kita melihat Red Riding Hood, Mirror Mirror, Snow White and The Huntsman, Hansel and Gretel: Witch Hunters, Jack the Giant Slayer, Oz the Great and Powerful dan tahun kemarin Maleficent.
Sedangkan yang lain umumnya juga mengambil jalan sebagaimana novel-novel Neil Gaiman, kisah dongeng bagi penonton dewasa.

Dengan pembacaan seperti di atas terhadap tren film dongeng selama empat tahun terakhir, kita bakal menebak, revisionisme ala Kenneth Branagh pada dongeng Cinderella adalah bakal ada nuansa Shakespeare pada ceritanya.
Saya kaget, ternyata Cinderella versi baru garapan Branagh sama sekali tak menawarkan narasi berbeda. Tidak ada cerita yang baru dari kisah Cinderella yang utamanya kita kenal dari film animasi Disney keluaran 1950.
Kisahnya masih sama, tak ada kelokan berarti.
Syahdan, di film ini, kita melihat Ella (Lily James dari serial Downtown Abbey) menjadi yatim-piatu dan diasuh ibu tirinya yang jahat (Cate Blanchett) yang punya dua putri. Mereka memperlakukan Ella bak pembantu. Ella terpaksa tidur di pinggir perapian di dapur. Ketika bangun, wajahnya penuh jelaga. Dari situ ia dapat panggilan Cinderella alias Ella si abu atau kita menyebutnya Upik Abu.
Cerita selanjutnya juga sudah kita hapal: sang pangeran (diperankan Richard Madden dari serial HBO Game of Thrones) mencari istri. Kerajaan lalu mengundang seluruh rakyat—dari kalangan bangsawan, orang kaya hingga jelata—datang ke pesta dansa. Ibu tiri dan saudara tiri Cinderella datang ke pesta. Cinderella ingin pergi. Tapi ibu tirinya menguncinya sendirian di rumah.
Peri baik hati kemudian mewujudkan mimpi Cinderella. Labu diubah jadi kereta kencana; tikus-tikus jadi kuda; kadal jadi pelayan; sedang angsa jadi sais kereta. Gaun robek Cinderella dubah jadi gaun menawan. Tak lupa pula sepatu kaca dikenakannya ke pesta.

Pangeran kemudian melakukan sayembara ke seluruh negeri: siapa saja yang kakinya muat dengan sapatu kaca yang tertinggal, dia akan dipersunting sebagai istri oleh pangeran. Pencarian dilakukan hingga ke seluruh pelosok negeri.
Tidak ada kaki yang pas dengan sepatu kaca itu. Hingga sampailah rombongan kerajaan di rumah Cinderella. Kaki dua putri ibu tiri Cinderella tak muat dengan sepatu kaca. Rombongan kerajaan hampir pergi, hingga kemudian mereka tahu ada seorang gadis lagi tinggal di rumah itu. Kaki Cinderella pas dengan sepatu kaca. Pangeran bahagia wanita yang dicarinya telah ditemukan. Ia lantas memboyong Cinderella ke istana, menjadi istrinya. Dan mereka hidup bahagia selamanya…
Pertanyaannya adalah, kenapa Disney dan Kenneth Branagh tak membuat tafsir berbeda atas cerita Cinderella? Kenapa pula Branagh tak membuat kisahnya jadi punya nuansa tragedi ala cerita Shakespeare?
Dan yang lebih penting lagi, kenapa dengan cerita yang sudah kita hapal, Cinderella versi baru ini tetap memikat ditonton?
Makna Cinderella Versi Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/827053/original/027459800_1426144753-C-024-19873_R.jpg)
Jawaban tunggal untuk pertanyaan-pertanyaan itu adalah: Cinderella versi baru ini merupakan antitesis dari tren yang kini sedang berlaku. Semacam anomali.
Jika ditelisik, cerita dongeng lawas sudah kerap diceritakan ulang dengan berbagai versi. Anda bisa langsung tahu kalau kisah Shrek milik DreamWorks sejatinya adalah semacam olok-olok atau parodi dari cerita dongeng lawas. Begitu juga Ella Enchanted, film Disney yang lain.
Generasi 1990-an juga mungkin ingat dengan film Ever After: A Cinderella Story (1998) yang dibintangi Drew Barrymore. Dikatakan, film tersebut adalah kisah asli dari dongeng Cinderella yang kita kenal.

Walau tak ada pendekatan cerita yang berbeda dengan kisah Cinderella yang kita kenal toh film yang ini terasa asyik dinikmati.
Branagh memang sekadar memindahkan cerita Cinderella dari kartun Disney ke versi live-action. Ia tampak tak berpretensi macam-macam. Kecuali memberi tontonan dongeng Cinderella bagi penonton modern. Ia bahkan tak berniat memasukkan subteks lain agar filmnya punya beragam tafsiran, seperti misalnya film animasi Frozen (2013).
Kisah Cinderella versi baru persembahan Branagh unggul justru karena bersetia pada cerita yang sudah kita akrabi. Versi live-action-nya menjadi tampak lebih colorful dan diuntungkan oleh perkembangan teknologi sinema kiwari.
Cinderella versi baru mengingatkan kita lagi kenapa sebermula kita mencintai dongeng-dongeng princess-nya Walt Disney alias putri Disney. Sejak kecil, lewat dongeng-dongeng putri Disney, setiap perempuan punya mimpi jadi putri jelita yang dinikahi pangeran tampan dan hidup bahagia selamanya.
Selama belasan tahun terakhir cerita dongeng kian canggih, rumit, dan terasa untuk tontonan dewasa. Kita seolah lupa kalau kita jatuh cinta pada cerita dongeng justru karena kesederhanaan ceritanya: rakyat jelata menikahi pangeran dan hidup bahagia selamanya.
Cinderella versi barunya Kenneth Branagh memberi kesederhanaan itu dengan tampilan memukau.*** (Ade)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/6393/original/foto-ade.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/827000/original/057357700_1426141655-C-024-20278R.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/127/original/019046200_1469522880-me.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263965/original/063636200_1782038065-000_B7RD77E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381016/original/018832800_1760444417-AP25287418037906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728012/original/006431800_1706361596-000_34GE37C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8666203/original/007626600_1782698654-000_B8H28ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8633516/original/070380800_1782633001-photo-collage.png__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674531/original/079790200_1782716407-AP26177104053905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)