Meneropong Arah IHSG Akhir 2026, Berpeluang ke 7.000

Analis mengungkapkan sejumlah sentimen yang akan pengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kuartal IV 2026.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 13:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 menjadi sorotan setelah melemah 30,18% year to date (YTD) ke posisi 6.036,89 hingga Jumat, 2 Oktober 2026. Lalu bagaimana prediksi IHSG hingga akhir 2026?

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama memprediksi IHSG dapat menuju target wave (Y) di level 7.122 minimal pada akhir 2026, dikutip dari Market Updates & Stock Picks in 4Q-2026 26 September 2026, Selasa (6/10/2026).

Sementara, Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana lebih berhati-hati. Ia prediksi IHSG di kisaran 5.900-6.5000.

"Kami melihat IHSG bergerak di rentang 5.900 sampai 6.500 hingga akhir tahun, dengan skenario dasar di kisaran 6.200 sampai 6.400,” ujar dia kepada Liputan6.com.

Batas atas proyeksi Wawan di 6.500. Sementara itu, batas atas IHSG dari target Nafan di 7.122. Sebaliknya, batas bawah Wawan di 5.900 berada di bawah posisi IHSG saat ini.

Nafan tetap mengantisipasi skenario negatif berupa koreksi wajar di kisaran 6.016. Peluang rebound atau menguat yang lebih konstruktif terbuka jika IHSG merebut kembali area 6.347–6.451.

Untuk Oktober 2026, Nafan memperkirakan IHSG bergerak sideways dengan volatilitas tinggi. Kisaran dasar Wawan pun sebagian beririsan dengan area rebound tersebut. Dari posisi 6.036,89, skenario dasar Wawan mengisyaratkan kenaikan sekitar tiga hingga enam persen. Sementara, target Nafan di 7.122.

Faktor-Faktor Penentu Arah IHSG hingga Akhir 2026

Tekanan Global dan Domestik

"Tekanan datang bersamaan dari global dan domestik,” ujar Wawan mengenai tekanan dua arah.

"Dari global, suku bunga The Fed dan yield US Treasury yang masih tinggi, dolar AS yang kuat, harga minyak yang bergejolak, serta ketidakpastian geopolitik,” Wawan menambahkan.

"Dari domestik, Rupiah melemah, likuiditas ketat, dan muncul ketidakpastian kebijakan, termasuk reshuffle kabinet,” lanjutnya.

 

Asing Kurangi Porsi di Negara Berkembang

Investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) Rp 82,55 triliun sepanjang 2026. Wawan menilai, aksi jual oleh investor asing didorong imbal hasil aset dolar AS yang menarik.

"Asing mengurangi porsi di emerging markets karena imbal hasil aset dolar lebih menarik dan risiko kurs Rupiah meningkat," kata Wawan.

Ia menambahkan adanya kekhawatiran terhadap arah fiskal dan kepastian kebijakan dalam negeri.

Prospek pertumbuhan laba emiten yang melambat juga ikut membebani.

Sentimen Kuartal IV 2026

Wawan merinci sentimen positif pada kuartal IV 2026. “Sentimen positif antara lain valuasi yang sudah sangat murah, potensi window dressing akhir tahun, stabilisasi Rupiah, Indonesia stay di emerging market, dan rilis laporan keuangan kuartal III,” kata Wawan.

Sedangkan dari sentimen negatif antara lain berlanjutnya aksi jual oleh investor asing, yield atau imbal hasil obligasi AS dan dolar AS yang tetap tinggi, geopolitik dan harga minyak.

"Serta ketidakpastian kebijakan pasca reshuffle dan kondisi fiskal,” ungkap Wawan.

Nafan menambahkan dukungan likuiditas domestik yang solid dan stimulus fiskal, serta mengingatkan adanya kontraksi PMI manufaktur domestik dan potensi tekanan dari lonjakan impor

 

 

Sektor dan Strategi

Wawan menilai perbankan besar masih menarik. “Perbankan besar dengan pendanaan murah dan likuiditas kuat menarik karena valuasinya sudah terdiskon dalam,” kata dia.

“Sektor defensif seperti konsumer primer, telekomunikasi, dan kesehatan layak dicermati karena labanya relatif stabil,” ia menambahkan.

“Emiten berbasis emas dan eksportir juga bisa menjadi lindung nilai (hedging) saat Rupiah lemah dan ketidakpastian tinggi,” lanjut Wawan.

Soal strategi, ia menekankan kualitas perusahaan. “Utamakan saham berfundamental kuat, neraca sehat, arus kas positif, dan dividen konsisten. Masuk secara bertahap, jangan sekaligus, dan sisakan porsi kas untuk memanfaatkan koreksi lanjutan,” katanya.