Resep Omelet Telur Kukus, Lembut dan Gurih dengan Isian Tahu serta Keju

Omelet telur kukus menawarkan hidangan sehat dan lembut tanpa minyak. Temukan resep praktis, tips anti gagal, serta variasi isian untuk menu keluarga.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Omelet tidak selalu harus dimasak di atas wajan. Resep omelet telur kukus bisa menjadi pilihan praktis untuk membuat olahan telur yang lembut, gurih, dan kaya isian tanpa perlu banyak minyak. Teknik kukus juga membuat telur memiliki tekstur yang lebih empuk sehingga cocok disantap saat sarapan maupun sebagai lauk sederhana.

Kunci hidangan ini terletak pada perpaduan telur dengan tahu, sayuran, keju, dan sosis. Semua bahan dicampurkan menjadi satu adonan, kemudian dikukus hingga matang. Cara tersebut membuat proses memasak relatif sederhana karena tidak perlu melipat atau membalik telur seperti omelet yang dimasak menggunakan wajan.

Isian pun dapat disesuaikan dengan bahan yang tersedia di dapur. Sawi bisa diganti wortel, bayam, brokoli, atau daun kelor. Keju mozzarella dapat dipadukan dengan keju parut, sementara sosis bisa diganti ayam atau daging cincang yang sudah dimasak. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (6/10/2026).

Bahan Resep Omelet Telur Kukus

Resep ini menghasilkan omelet kukus dengan tekstur lembut dan isian yang cukup padat. Tahu membantu menambah volume sekaligus memberikan tekstur, sedangkan keju memberikan rasa gurih dan sedikit sensasi lumer pada bagian dalam.

Bahan utama

  • 2 butir telur

  • 1 buah tahu putih

  • 2 lembar keju mozzarella, potong kecil

  • Keju parut secukupnya

  • 2 helai sawi, iris kecil

  • 1 siung bawang putih, parut atau cincang halus

  • 1 buah sosis ayam, potong kecil

Bumbu

  • Seujung sendok teh lada

  • Seujung sendok teh ketumbar bubuk

  • Seujung sendok teh garam

  • Kaldu bubuk secukupnya, opsional

  • Parsley atau oregano bubuk secukupnya, opsional

  • 1 sendok teh butter atau mentega cair

Cara Membuat Omelet Telur Kukus

Sebelum membuat adonan, siapkan kukusan terlebih dahulu. Didihkan air di dalam panci kukusan sehingga ketika adonan selesai dibuat, proses memasak bisa langsung dilakukan. Gunakan cetakan tahan panas dengan ukuran yang sesuai agar adonan tidak terlalu tebal.

1. Siapkan bahan isian

Masukkan tahu ke dalam wadah, kemudian haluskan menggunakan garpu. Tidak perlu membuat tahu benar-benar lembut seperti pasta karena sedikit tekstur justru membuat omelet terasa lebih menarik ketika disantap.

Tambahkan bawang putih cincang atau parut, potongan mozzarella, keju parut, serta sayuran yang sudah diiris kecil. Masukkan pula sosis ayam yang telah dipotong-potong.

Sayuran sebaiknya dipotong cukup kecil agar dapat tercampur merata dengan telur. Jika menggunakan sayuran yang mengandung banyak air, seperti bayam, sebaiknya jangan memasukkannya dalam kondisi terlalu basah. Kelebihan air dapat membuat tekstur omelet lebih berair.

2. Masukkan telur dan bumbu

Pecahkan dua butir telur ke dalam wadah berisi campuran tahu dan isian. Tambahkan lada, ketumbar, garam, serta kaldu bubuk jika digunakan.

Masukkan pula parsley atau oregano bubuk sesuai selera. Untuk memberikan rasa gurih yang lebih lembut, tambahkan satu sendok teh butter atau mentega cair.

Telur cukup dikocok menggunakan garpu sampai kuning dan putih telur tercampur rata. Tidak perlu mengocoknya terlalu lama hingga berbusa. Prinsip ini sejalan dengan teknik omelet pada umumnya, karena terlalu banyak udara dalam adonan dapat menghasilkan gelembung dan membuat pematangan kurang merata.

3. Campurkan seluruh bahan

Aduk perlahan sampai tahu, telur, sayuran, sosis, dan keju tersebar merata. Pastikan tidak ada bagian adonan yang terlalu banyak berisi tahu atau sayuran saja.

Pada tahap ini, adonan sebaiknya tidak dibuat terlalu padat oleh isian. Jumlah isian yang berlebihan dapat membuat telur sulit menyatukan seluruh bahan. Untuk omelet biasa, The Kitchn menyarankan jumlah isian sekitar setengah cangkir untuk dua hingga tiga butir telur. Pada versi kukus, bahan seperti tahu dan sayuran memang menjadi bagian dari adonan, tetapi prinsip menjaga keseimbangan antara telur dan isian tetap penting.

4. Tuang ke dalam cetakan

Olesi cetakan dengan sedikit butter atau gunakan wadah tahan panas yang sudah dioles tipis minyak. Tuangkan adonan telur ke dalamnya.

Jangan mengisi cetakan sampai terlalu penuh. Sisakan sedikit ruang di bagian atas karena adonan dapat mengembang selama proses pengukusan.

Jika ingin mendapatkan permukaan omelet yang lebih halus, adonan bisa didiamkan sebentar setelah dituangkan agar gelembung udara besar naik ke permukaan.

5. Kukus hingga matang

Masukkan cetakan ke dalam kukusan yang airnya sudah mendidih. Tutup panci dan kukus selama kurang lebih 10 menit.

Gunakan api sedang agar panas cukup stabil. Hindari terlalu sering membuka tutup kukusan karena perubahan suhu dapat memperpanjang waktu memasak.

Setelah sekitar 10 menit, periksa kematangan dengan menusukkan tusuk gigi atau lidi di bagian tengah. Jika tidak ada adonan telur cair yang menempel, omelet sudah matang.

Telur memang terus mengalami proses pematangan setelah diangkat dari sumber panas. Karena itu, tidak perlu mengukusnya terlalu lama hingga teksturnya menjadi keras.

6. Keluarkan dan sajikan

Angkat cetakan dari kukusan dengan hati-hati karena kondisinya masih panas. Diamkan beberapa saat agar uap panas berkurang.

Gunakan spatula kecil atau sendok untuk melepaskan bagian pinggir omelet dari cetakan. Balik perlahan ke piring saji atau potong langsung di dalam wadah.

Omelet telur kukus paling nikmat disantap dalam keadaan hangat. Teksturnya lembut, sementara tahu, keju, sayuran, dan sosis memberikan rasa serta tekstur yang lebih beragam dalam setiap potongan.

Tips agar Omelet Telur Kukus Lembut dan Tidak Berair

Teknik kukus memang sederhana, tetapi beberapa hal perlu diperhatikan agar hasil akhirnya tidak terlalu basah atau justru keras.

Pertama, jangan terlalu banyak menambahkan sayuran berair. Sayuran seperti bayam tetap bisa digunakan, tetapi sebaiknya dicincang dan ditiriskan terlebih dahulu. Untuk wortel atau brokoli, potong kecil-kecil agar dapat matang bersama telur.

Kedua, perhatikan jumlah garam. Keju dan sosis umumnya sudah memberikan rasa asin sehingga garam dapat dikurangi. Jika menggunakan keju yang cukup asin, bumbu tambahan bahkan bisa dibuat lebih sederhana.

Ketiga, jangan mengocok telur sampai berbusa. Campurkan telur sampai homogen saja. Teknik ini membantu menghasilkan tekstur yang lebih seragam.

Keempat, pastikan kukusan sudah menghasilkan uap sebelum cetakan dimasukkan. Memulai proses dengan air yang belum mendidih dapat membuat waktu memasak lebih lama dan hasilnya kurang konsisten.

Kelima, jangan mengukus terlalu lama. Telur yang dimasak berlebihan cenderung kehilangan kelembapannya dan menjadi lebih padat. Omelet yang matang dengan baik seharusnya tetap terasa lembut ketika dipotong.

Variasi Isian yang Bisa Dicoba

Salah satu kelebihan omelet adalah isian yang fleksibel. Jika tidak memiliki sawi, bahan tersebut dapat diganti dengan wortel, bayam, brokoli, atau daun kelor. Sayuran dapat dicincang halus agar mudah menyatu dengan adonan.

Untuk versi yang lebih mengenyangkan, tambahkan nasi atau mi yang sudah matang. Hasilnya dapat menyerupai hidangan panggang atau schotel sederhana, tetapi dimasak dengan teknik kukus.

Kentang dan ubi juga bisa digunakan. Namun, keduanya sebaiknya dikukus terlebih dahulu karena membutuhkan waktu lebih lama untuk matang dibandingkan telur.

Labu kuning parut dapat menjadi alternatif lain untuk memberikan rasa sedikit manis sekaligus warna menarik. Jika menyukai aroma yang lebih kuat, tambahkan bawang bombai cincang.

Sementara itu, jenis keju juga dapat disesuaikan. Mozzarella bisa digunakan untuk mendapatkan sensasi lebih elastis, sedangkan keju parut memberikan rasa gurih yang lebih kuat. Karena tingkat keasinan setiap keju berbeda, sesuaikan kembali jumlah garam dalam adonan.

Apa Bedanya Omelet Kukus dengan Omelet Biasa?

Omelet yang dimasak di wajan umumnya menggunakan panas langsung. Telur dituangkan ke permukaan wajan panas, kemudian dimasak hingga bagian bawah mengeras sebelum diberi isian dan dilipat. Beberapa jenis omelet juga memiliki permukaan sedikit kecokelatan.

Omelet kukus menggunakan panas dari uap air. Adonan telur ditempatkan dalam cetakan dan dimasak perlahan hingga seluruh bagian mengeras. Karena tidak bersentuhan langsung dengan permukaan wajan panas, hasilnya cenderung lebih lembut dan tidak memiliki permukaan kecokelatan.

The Kitchn menjelaskan bahwa omelet klasik umumnya menggunakan dua atau tiga telur dan dapat diberi berbagai macam isian. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada versi kukus, tetapi bahan isian dicampurkan langsung ke dalam adonan sebelum dimasak.

Teknik kukus juga membuat resep ini lebih praktis bagi orang yang ingin mengurangi penggunaan minyak. Tidak diperlukan proses membalik atau melipat omelet sehingga kemungkinan telur pecah ketika dimasak dapat diminimalkan.

Penyajian Omelet Telur Kukus

Omelet telur kukus bisa disajikan sebagai menu sarapan bersama nasi hangat, roti, atau kentang. Untuk makan siang dan malam, hidangan ini dapat menjadi lauk pendamping sayuran dan sup.

Jika ingin tampil lebih menarik, potong omelet menjadi beberapa bagian setelah matang. Taburkan sedikit parsley atau daun bawang cincang di atasnya. Saus sambal, saus tomat, atau saus cabai juga bisa disajikan terpisah bagi yang menyukai rasa lebih kuat.

Resep ini juga cocok dijadikan cara sederhana untuk memanfaatkan bahan-bahan yang tersisa di kulkas. Selama komposisinya tetap seimbang dan bahan yang digunakan sudah layak konsumsi, sayuran, protein, dan keju dapat disesuaikan dengan persediaan.

Dengan waktu memasak sekitar 10 menit setelah kukusan panas, hidangan ini cukup praktis untuk menu sehari-hari. Kuncinya adalah memastikan bahan dipotong kecil, telur tercampur rata, dan adonan tidak terlalu penuh oleh isian.

Pertanyaan Seputar Omelet

1. Apakah omelet bisa dikukus tanpa cetakan khusus?

Bisa. Gunakan mangkuk atau wadah tahan panas yang aman untuk dikukus. Olesi bagian dalamnya dengan sedikit minyak atau butter agar omelet lebih mudah dikeluarkan setelah matang.

2. Berapa lama omelet telur harus dikukus?

Untuk adonan dengan dua butir telur seperti resep ini, waktu sekitar 10 menit dapat menjadi patokan setelah air kukusan mendidih. Namun, ketebalan adonan dan ukuran cetakan dapat memengaruhi waktu matang. Periksa bagian tengah sebelum mengangkatnya.

3. Mengapa omelet kukus menjadi berair?

Omelet bisa menjadi berair karena sayuran mengandung terlalu banyak air, adonan terlalu encer, atau terdapat kondensasi uap yang menetes ke permukaan telur. Gunakan sayuran yang sudah ditiriskan dan bungkus tutup kukusan dengan kain bersih jika diperlukan untuk mengurangi tetesan air.

4. Apakah tahu bisa diganti bahan lain?

Bisa. Tahu dapat diganti atau dikombinasikan dengan ayam cincang yang sudah dimasak, daging cincang, jamur, atau sayuran tambahan. Pastikan bahan yang digunakan sudah matang atau cukup kecil sehingga dapat matang bersama telur.

5. Apakah keju wajib digunakan dalam omelet kukus?

Tidak. Keju bersifat opsional. Jika tidak menggunakannya, rasa gurih dapat diperoleh dari bawang putih, lada, sedikit garam, atau bahan isian lainnya. Jika tetap memakai keju, kurangi garam apabila kejunya sudah cukup asin.

Â