7 Istilah Radio Jadul yang Pernah Populer di Kalangan Pendengar

Telusuri kumpulan istilah radio jadul yang pernah populer di kalangan pendengar mulai dari kartu atensi, sandiwara radio, hingga sandi komunikasi amatir.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Masa kejayaan radio pada era 1980-an hingga awal 2000-an menyimpan sejuta kenangan bagi para pendengar setianya yang tumbuh di tengah keterbatasan teknologi analog. Jauh sebelum era digital dan layanan streaming mendominasi, radio menjadi tumpuan utama masyarakat untuk menikmati hiburan musik, informasi aktual, hingga serial drama suara yang memikat. Berdasarkan arsip riset sejarah media dan laporan dari Museum Ullen Sentalu, atmosfer penyiaran masa lalu melahirkan kultur unik yang begitu melekat di hati publik.

Kultur unik tersebut tidak hanya tercermin dari bagaimana masyarakat menikmati siaran, melainkan juga melahirkan berbagai kosakata khas yang menjadi bahasa gaul harian di masanya. Mulai dari tradisi interaksi pendengar menggunakan formulir berbayar, teknik teknis siaran manual, hingga kode-kode komunikasi dua arah yang melegenda di kalangan komunitas radio amatir. Seluruh istilah ini merekam sebuah era emas di mana imajinasi pendengar bekerja secara aktif tanpa bantuan visual layar kaca maupun gawai canggih.

Artikel ini hadir untuk mengajak pembaca bernostalgia sekaligus mengupas tuntas kumpulan istilah radio jadul yang pernah populer di kalangan pendengar. Melalui penelusuran mendalam terhadap arsip budaya penyiaran Indonesia, mari kita bedah satu per satu istilah ikonik yang mewarnai hari-hari masyarakat Nusantara pada dekade lampau, lengkap dengan makna dan konteks historisnya.

Kartu Atensi

Kartu atensi merupakan formulir atau kartu khusus berbayar yang wajib dibeli oleh pendengar di kios-kios agen, toko terdekat, atau bioskop demi menyalurkan keinginan mereka. Kartu ini dibanderol dengan harga terjangkau pada masanya dan menjadi jembatan komunikasi utama sebelum telepon genggam memasyarakat. Di atas kertas berukuran khusus tersebut, pendengar menuliskan identitas, judul lagu impian, serta pesan singkat untuk diserahkan ke stasiun radio.

Keberadaan kartu atensi tidak sekadar berfungsi sebagai media interaksi dua arah antara pendengar dan stasiun penyiaran, tetapi juga menjadi ladang penghasilan tambahan bagi para pedagang kecil di sekitar studio. Tumpukan kartu ini nantinya akan disortir oleh penyiar sebelum dibacakan secara berurutan di udara. Tradisi ini menumbuhkan rasa bangga yang luar biasa bagi pendengar mana kala nama serta salam mereka berkumandang secara nasional.

Titip Salam

Istilah titip salam atau yang kerap disebut sebagai tradisi atensi menduduki posisi teratas sebagai aktivitas sosial paling digemari oleh kaum muda pada era 1980-an hingga 1990-an. Tradisi ini dimanfaatkan oleh para pendengar untuk menyampaikan pesan hangat, ucapan selamat ulang tahun, curahan hati, hingga pernyataan cinta kepada teman, keluarga, atau seseorang yang dikagumi. Kalimat khas pembuka seperti "Salam hangat buat si dia yang ada di jalur hukum..." selalu berhasil memancing senyum pendengar di rumah.

Fenomena titip salam membuktikan bagaimana kekuatan audio mampu menciptakan kedekatan emosional yang erat di tengah keterbatasan sarana telekomunikasi modern kala itu. Sebagaimana diulas dalam kajian media massa, kebiasaan ini sering kali diselingi dengan bumbu humor, nama samaran yang nyeleneh, bahkan ajang canda antar-teman sekelas keesokan harinya di sekolah. Hal tersebut menjadikan siaran radio sebagai ruang publik interaktif yang hidup dan sangat dinantikan setiap harinya.

ML (Minta Lagu)

Singkatan ML pada era keemasan radio tempo dulu murni merujuk pada aktivitas meminta atau request lagu favorit kepada penyiar yang sedang bertugas di studio. Jauh sebelum istilah tersebut mengalami pergeseran makna di era internet modern, pendengar menggunakan singkatan ini secara lazim dalam lembar kartu atensi maupun sambungan telepon interaktif. Lagu-lagu dari band papan atas masa itu diputar secara bergantian demi memenuhi permintaan para pemirsa setia.

Aktivitas meminta lagu ini menuntut kesiapan teknis yang cukup tinggi dari para penyiar radio konvensional pada masanya. Penyiar harus sigap menyiapkan kaset pita fisik secara manual agar lagu yang diminta dapat diputar tepat setelah pembacaan kartu atensi selesai. Dinamika interaksi ini membangun loyalitas tinggi pendengar terhadap program musik yang disiarkan oleh stasiun radio kesayangan mereka.

Ngrekam atau Ngesave Lagu

Ngrekam atau mengabadikan lagu yang sedang diputar di udara menggunakan perangkat tape compo dan kaset pita kosong adalah ritual wajib bagi para penikmat musik masa lalu. Tantangan terbesar dalam aktivitas ini adalah kesabaran serta ketepatan waktu menekan tombol record tanpa terpotong suara penyiar. Cara manual ini dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan harus membeli album fisik kaset baru di toko musik.

Aktivitas merekam mandiri dari siaran radio turut membentuk sejarah perkembangan selera musik generasi muda Indonesia dalam mengoleksi karya-karya musisi idola mereka. Meskipun kualitas audio yang dihasilkan terkadang bercampur dengan derau sinyal atau suara latar studio, proses kreatif tersebut meninggalkan memori kolektif yang mendalam. Ritual ini mencerminkan betapa tingginya usaha pencinta musik dalam menikmati karya seni di tengah keterbatasan teknologi saat itu.

Angkasawan dan Angkasawati

Angkasawan untuk penyiar pria dan angkasawati untuk penyiar wanita merupakan sebutan resmi, formal, serta puitis yang melekat erat pada dunia penyiaran radio Indonesia. Istilah ini merujuk pada figur profesional di balik mikrofon yang menyapa pendengar melintasi gelombang udara analog dari ruang studio. Berdasarkan pedoman tata bahasa dan sejarah penyiaran nasional, sebutan ini mencerminkan kehormatan profesi penyiar sebagai corong informasi publik.

Penggunaan sapaan terhormat tersebut memperkuat wibawa lembaga penyiaran radio dalam mengemban fungsi edukasi, informasi, dan hiburan bagi masyarakat luas. Para angkasawan dan angkasawati tidak hanya bertindak sebagai pemutar musik, melainkan juga figur publik yang suaranya sangat dihormati dan dinantikan oleh jutaan pendengar setia di berbagai pelosok daerah. Warisan istilah ini terus dikenang sebagai simbol keemasan dunia radio masa silam.

Sandiwara Radio

Sandiwara radio adalah serial drama suara bergenre laga, sejarah, maupun romansa yang pernah menjadi hiburan favorit mutlak jutaan keluarga Indonesia. Berdasarkan hasil riset mendalam dari Museum Ullen Sentalu, sandiwara legendaris seperti Saur Sepuh karya Niki Kosasih, Tutur Tinular, hingga Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja berhasil membius imajinasi pendengar. Drama suara ini disiarkan secara masif melalui ratusan stasiun radio swasta nasional dengan dukungan sponsor dari perusahaan farmasi besar.

Dampak masif dari sandiwara radio melahirkan fenomena theater of mind, di mana para pendengar duduk terpaku di depan perangkat radio untuk membayangkan alur cerita secara visual. Kesuksesan format audio ini bahkan merambah ke ranah industri kreatif lain, terbukti dengan diadaptasinya berbagai naskah sandiwara radio menjadi film layar lebar box office serta sinetron populer. Kajian budaya menegaskan bahwa sandiwara radio merupakan tonggak penting dalam sejarah hiburan naratif Nusantara.

Suara Kresek-Kresek

Suara kresek-kresek atau yang dikenal sebagai derau (noise) statis merupakan fenomena audio harian yang sangat akrab dialami oleh setiap pendengar radio analog. Bunyi gangguan sinyal ini timbul akibat gelombang elektromagnetik yang kurang stabil atau posisi antena penangkap sinyal yang belum pas. Berdasarkan pengalaman empiris masyarakat masa lalu, pendengar harus memutar-mutar antena besi atau menggeser tombol tuning frekuensi secara perlahan demi mendapatkan kejernihan suara siaran.

Kendala teknis berupa suara derau ini justru melahirkan kebiasaan unik di tengah masyarakat, seperti mencari titik-titik terbaik di dalam rumah atau memanfaatkan benda konduktor untuk memperkuat tangkapan sinyal. Di balik ketidaksempurnaan teknologi tersebut, suara kresek-kresek justru menjadi ciri khas autentik yang membangkitkan gelombang nostalgia mendalam. Sensasi mencari gelombang frekuensi secara manual kini bertransformasi menjadi kenangan berharga era analog.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Istilah Radio Jadul

Q: Apa saja istilah radio jadul yang paling populer di kalangan pendengar masa lalu?

A: Beberapa istilah yang paling ikonik meliputi kartu atensi, titip salam, ML (minta lagu), ngrekam lagu pakai kaset, angkasawan/angkasawati, hingga sandiwara radio legendaris seperti Saur Sepuh.

Q: Apa fungsi dari kartu atensi dalam penyiaran radio era 1980-an hingga 1990-an?

A: Kartu atensi berfungsi sebagai formulir berbayar yang diisi pendengar untuk menuliskan titipan salam serta daftar permintaan lagu sebelum tradisi komunikasi beralih menggunakan sambungan telepon.

Q: Apa makna di balik kode angka 73 dalam dunia komunikasi radio?

A: Dalam sandi radio amatir yang diturunkan dari era telegrafi, angka 73 berarti salam hangat (best regards) yang lazim diucapkan pada bagian akhir percakapan atau penutupan siaran.

Q: Mengapa sandiwara radio begitu digandrungi oleh masyarakat Indonesia pada masanya?

A: Sandiwara radio seperti Tutur Tinular dan Saur Sepuh sangat diminati karena mampu membangun imajinasi kuat (theater of mind) melalui deretan efek suara dan cerita berlatar sejarah yang memikat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6