Liputan6.com, Jakarta - Sebelum internet dan layanan streaming menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, radio memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Siaran ini menemani berbagai aktivitas, mulai dari mendengarkan musik sepulang sekolah, menyelesaikan pekerjaan, hingga beristirahat pada malam hari.
Suara penyiar yang terdengar dari radio kecil seringkali menjadi identitas dan bisa membawa suasana hangat saat membawakan acara. Bahkan, dari sang penyiar, pendengar bisa mendapat informasi seputar musik yang akan diputar.
Di tahun 1990-an, setidaknya ada 6 acara radio yang selalu ditunggu kawula muda. Acaranya beragam, mulai dari program sesi curhat dan pembacaan surat, berbagi kisah horor dan misteri sampai memutar lagu-lagu hits yang saat itu dekat dengan anak muda. Jadi masih ingat dengan program-program ini? Mari nostalgia bersama Liputan6, dihadirkan, Sabtu (24/10)
Advertisement
1. Greatest Memory, Tempat Berbagi Cerita dan Kenangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381487/original/030356800_1792821812-pexels-mart-production-8885000.jpg)
Merujuk laman resmi Facebook YASIKA FM Jogja, Greatest Memory merupakan program unggulan dari radio Yasika FM di Yogyakarta. Acara ini menghadirkan cerita pengalaman pribadi, termasuk kisah percintaan dan persoalan kehidupan yang dekat dengan pendengar. Cerita yang dibagikan kemudian menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan radio, terutama bagi anak muda yang ingin menyampaikan perasaan melalui media yang mereka sukai.
Bayangkan ketika malam mulai larut, Anda duduk di kamar sambil mendengarkan suara penyiar yang membacakan kisah seseorang. Cerita tentang cinta yang tidak berbalas, hubungan yang berakhir, atau perasaan yang sulit diungkapkan bisa terasa dekat dengan pengalaman sendiri. Suasana seperti ini membuat pendengar merasa terhubung dengan orang lain meski tidak saling mengenal.
Bagi generasi yang pernah mengikuti program sejenis, pengalaman tersebut mungkin mengingatkan pada kebiasaan menulis surat atau mengirimkan permintaan lagu kepada penyiar. Tidak ada kolom komentar atau pesan instan yang langsung muncul di layar. Pendengar perlu menunggu giliran cerita dibacakan, sehingga momen ketika nama atau pesannya disebut menjadi pengalaman tersendiri.
Advertisement
2. Nightmare on the Air, Teman Mendengarkan Cerita Horor
Bagi pendengar yang menyukai cerita misteri, program horor di radio memiliki daya tarik tersendiri. Merujuk Instagram @imelda1044fm, Nightmare on the Air dari Imelda FM Semarang menghadirkan nuansa siaran malam melalui tema cerita seram yang dimulai pukul 22.00 WIB. Format seperti ini mengandalkan suara, narasi, dan imajinasi pendengar untuk membangun suasana.
Mendengarkan cerita horor melalui radio memberikan pengalaman berbeda dibandingkan menonton film. Pendengar tidak melihat sosok atau kejadian yang diceritakan secara langsung. Mereka hanya mengikuti narasi penyiar sambil membayangkan tempat, suasana, dan kejadian yang muncul dalam cerita. Ketika lampu kamar sudah dimatikan, suara dari radio bisa terasa semakin dekat.
Bagi Anda yang pernah mendengarkan cerita misteri pada malam hari, mungkin masih teringat kebiasaan mengecilkan volume ketika suasana mulai menegangkan, tetapi tetap ingin mengetahui kelanjutan ceritanya. Meski dokumentasi jadwal siaran program ini pada era 1990-an masih terbatas, format horor radio tetap menjadi bagian menarik dari sejarah hiburan audio.
3. Top Hits Pop Indonesia, Mengikuti Lagu yang Sedang Digemari
Top Hits Pop Indonesia atau THPI merupakan program tangga lagu yang dikenal melalui Radio Ganesha Bandung. Program ini mencerminkan kebiasaan pendengar era 1980-an dan 1990-an yang mengandalkan radio untuk mengikuti perkembangan musik populer. Catatan tangga lagu pada Desember 1990, misalnya, memuat nama sejumlah musisi Indonesia yang meramaikan industri musik saat itu.
Pada masa tersebut, mengetahui lagu yang sedang populer membutuhkan cara yang berbeda dari sekarang. Pendengar tidak bisa langsung membuka aplikasi musik untuk melihat daftar lagu teratas. Mereka perlu mengikuti siaran radio, mencatat judul lagu, atau menunggu penyiar menyebutkan nama penyanyi dan posisi lagu dalam tangga musik.
Momen yang paling dinantikan biasanya adalah ketika lagu favorit kembali diputar. Ada pendengar yang merekam siaran menggunakan kaset kosong agar lagu kesukaannya bisa didengarkan berulang kali. Kebiasaan merekam lagu dari radio ini menjadi salah satu kenangan yang mungkin masih melekat bagi Anda yang tumbuh pada era tersebut.
Advertisement
4. Jazzy Tunes, Menikmati Musik dalam Suasana Santai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381488/original/030265300_1792821856-pexels-dxaxoxfz-17426732.jpg)
Radio Elshinta pernah dikenal melalui program Jazzy Tunes pada pertengahan 1990-an, ketika stasiun tersebut mengembangkan sajian musik jazz dan adult contemporary. Program ini menjadi salah satu contoh bagaimana radio menghadirkan pilihan musik bagi pendengar yang menyukai lagu dengan aransemen berbeda dari musik pop pada umumnya.
Musik jazz vokal maupun instrumental bisa menjadi teman untuk menikmati malam dengan suasana yang lebih tenang. Pendengar dapat duduk di ruang keluarga, membaca buku, atau beristirahat sambil membiarkan lagu mengalun dari radio. Tanpa perlu memilih lagu satu per satu, mereka cukup mengikuti susunan musik yang disiapkan penyiar.
Bagi penggemar musik lawas, program dengan format seperti ini juga bisa mengingatkan pada kebiasaan mencari frekuensi radio yang sesuai dengan selera. Ketika menemukan stasiun yang memutar musik favorit, pendengar biasanya bertahan cukup lama. Meski waktu siaran malam khusus Jazzy Tunes belum terverifikasi, program ini tetap relevan untuk mengenang perkembangan musik radio Indonesia pada era 1990-an.
5. Opor Ayam, Hiburan Komedi dari Radio Suara Kejayaan
Radio Suara Kejayaan atau Radio SK dikenal sebagai salah satu stasiun radio yang populer pada era 1990-an. Stasiun ini turut menjadi tempat berkembangnya sejumlah pelawak dan penghibur Indonesia. Salah satu program yang dikenal dari radio tersebut adalah Opor Ayam, yang menghadirkan hiburan komedi bagi pendengarnya.
Sebelum tayangan komedi mudah ditemukan melalui video daring, radio menjadi salah satu pilihan untuk menikmati lawakan. Pendengar mengandalkan dialog, permainan kata, dan suara para pengisi acara untuk memahami lelucon yang disampaikan. Tidak adanya tampilan visual justru membuat pendengar membayangkan sendiri situasi yang sedang dibicarakan.
Jika Anda pernah menikmati hiburan radio bersama keluarga, suasana tersebut mungkin mengingatkan pada kebiasaan tertawa bersama ketika mendengar lelucon dari pengeras suara. Radio tidak harus selalu menghadirkan lagu atau berita. Program komedi seperti Opor Ayam menunjukkan bahwa percakapan dan humor juga memiliki tempat dalam perkembangan penyiaran Indonesia, meski jadwal malam program ini belum terkonfirmasi.
Advertisement
6. Rhythm of Love, Program Musik yang Dekat dengan Anak Muda
Mustang FM menjadi salah satu stasiun radio yang dikenal di kalangan anak muda pada era 1990-an dan 2000-an. Stasiun ini memiliki sejumlah program populer, termasuk Rhythm of Love. Nama program tersebut lekat dengan tema musik dan percintaan yang dekat dengan kehidupan pendengar muda.
Musik bertema cinta memiliki tempat tersendiri dalam pengalaman mendengarkan radio. Lagu yang diputar bisa mengingatkan seseorang pada teman sekolah, hubungan pertama, atau perasaan yang belum sempat disampaikan. Ketika penyiar menghubungkan lagu dengan cerita pendengar, suasana siaran terasa lebih personal.
Bagi pendengar yang tumbuh pada masa itu, radio juga menjadi salah satu cara untuk mengenal lagu baru dan mengikuti perkembangan musik anak muda. Menunggu lagu favorit diputar atau berharap penyiar membacakan pesan menjadi bagian dari kebiasaan yang berbeda dari mendengarkan daftar putar digital saat ini. Meski jam siaran malam khusus Rhythm of Love belum terverifikasi, program ini tercatat sebagai salah satu nama yang dikenal dari Mustang FM.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Acara Radio Malam Hari Era 1990-an
1. Apa yang membuat acara radio malam hari populer pada era 1990-an?
Acara radio malam populer karena menghadirkan musik, cerita, hiburan, dan suara penyiar yang menemani pendengar sebelum tidur.
2. Apa saja acara radio yang dikenal pada era 1990-an?
Beberapa program yang dikenal antara lain Greatest Memory, Nightmare on the Air, Top Hits Pop Indonesia, Jazzy Tunes, Opor Ayam, dan Rhythm of Love.
3. Mengapa mendengarkan radio menjadi kebiasaan anak muda pada era 1990-an?
Radio menjadi sarana untuk mengikuti lagu populer, mendengarkan cerita, menikmati komedi, dan mengenal musik terbaru sebelum layanan digital berkembang.
4. Apa yang membuat acara radio malam terasa berkesan?
Suara penyiar, lagu pilihan, cerita pendengar, dan kebiasaan menunggu program favorit menciptakan pengalaman mendengarkan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
5. Bagaimana cara masyarakat mendengarkan lagu favorit melalui radio pada era 1990-an?
Pendengar biasanya menunggu lagu diputar sesuai jadwal atau merekam siaran menggunakan kaset agar lagu favorit bisa didengarkan kembali.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376579/original/071076900_1792381433-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441352/original/085354000_1765504848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-12T084357.150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528523/original/006924900_1773286985-cek_fakta_-_ikan_budidaya_link_pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380756/original/071937100_1792737316-Screenshot_2026-10-23_124005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381489/original/033041900_1792821887-pexels-dxaxoxfz-17426732.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2729193/original/018792200_1550194614-20190214-Malam-Romantis-di-Konser-Titik-Balik-Glenn-Fredly-dan-Adera-FIMELA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370365/original/038293600_1791613843-265e1d27-a1fb-47f1-82dd-a58b0e87a7cc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3614450/original/036136800_1635319302-dave-weatherall-51H2LuKFHsI-unsplash.jpg)