Liputan6.com, Jakarta - Memilih teman dan lingkaran pergaulan bukan sekadar urusan selera. Ada sejumlah tips kepribadian yang dihindari orang cerdas karena dinilai menguras energi, merusak kepercayaan, dan mengganggu ketenangan batin.
Kecenderungan selektif dalam bergaul ini pernah disorot dalam riset. Psikolog evolusioner Norman Li dari Singapore Management University dan Satoshi Kanazawa dari London School of Economics menemukan, lewat survei terhadap sekitar 15.000 orang berusia 18-28 tahun, bahwa orang dengan kecerdasan tinggi cenderung kurang puas dengan hidupnya bila terlalu sering bersosialisasi dengan teman. Menurut ringkasan Singapore Management University, hasil studi di British Journal of Psychology itu bertumpu pada kepuasan hidup yang dilaporkan responden sendiri, sehingga tidak bisa dibaca sebagai aturan baku.
Studi tersebut tidak membahas jenis kepribadian tertentu, dan belum ada riset yang secara langsung memetakan siapa saja yang dihindari orang cerdas. Karena itu, Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber perilaku yang oleh para psikolog dan lembaga kesehatan dinilai merusak hubungan, bukan label untuk menghakimi seseorang. Berikut tujuh di antaranya.
Advertisement
1. Suka Playing Victim dan Melempar Kesalahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5082682/original/032509500_1736235136-1736231925103_playing-victim-artinya-apa.jpg)
Orang dengan pola playing victim kerap menempatkan diri sebagai pihak yang selalu dirugikan. Terapis pernikahan dan keluarga Darlene Lancer menyebut mereka cenderung memindahkan kesalahan ke orang lain demi menghindari tanggung jawab atas kekurangan sendiri. Bagi orang cerdas yang terbiasa membahas masalah secara runtut, pola ini membuat diskusi berputar tanpa ujung.
Psikolog konseling James Kabiro Karuru, seperti dikutip People Daily, menilai pengalihan kesalahan dapat merusak hubungan, baik di keluarga maupun karier, dan memunculkan rasa kesal terhadap pasangan. Lancer juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang merasa menjadi korban sedang memanipulasi. Korban sungguhan umumnya menghargai kepedulian orang lain dan masih bisa mengambil langkah sendiri.
Advertisement
2. Gemar Bergosip
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4650781/original/028968800_1700106944-Ilustrasi_menyindir__sindiran__gosip__ngerumpi.jpg)
Bergosip sering dianggap pencair suasana, tetapi efeknya pada kepercayaan justru sebaliknya. Joseph Grenny, penulis buku Crucial Conversations, seperti dikutip Fast Company, menilai gosip menciptakan kedekatan semu tanpa kepercayaan nyata. Sebab, orang yang bersedia menggosipkan pihak lain bersama Anda berpotensi melakukan hal yang sama terhadap Anda. Tak heran jika banyak orang yang menjunjung kepercayaan memilih menjauh dari lingkaran gosip.
Survei LiveCareer di Amerika Serikat menemukan 47 persen pekerja menilai gosip menciptakan ketegangan dan ketidakpercayaan di kantor. Temuan senada muncul dalam studi akademik di jurnal Sustainability, yang mendapati gosip negatif di tempat kerja berkaitan dengan menurunnya kepercayaan terhadap organisasi.
3. Mudah Menghakimi Tanpa Dasar yang Jelas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305211/original/083016000_1784787647-qclcWtnasMjXkifuT2kPGqCwYgrWlDhYq2scwbH4.jpg)
Menilai sesuatu adalah bagian normal dari berpikir. Masalah muncul ketika penilaian dibuat cepat, tanpa empati, dan hanya berdasar potongan informasi. Sebuah ulasan di Psychology Today menyebut orang cenderung terlalu menyalahkan kepribadian seseorang dan mengabaikan faktor situasi saat menilai perbuatannya.
Bagi orang cerdas yang terbiasa melihat persoalan dari banyak sisi, lingkungan yang penuh prasangka terasa menyesakkan. Esai lain di Psychology Today menegaskan bahwa menilai tanpa menghakimi membutuhkan empati. Tanpa itu, kritik berubah menjadi cara membuat orang lain merasa kecil.
Advertisement
4. Narsistik dengan Ego Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579486/original/060830400_1778053242-Sulit_Mengakui_Kesalahan_dan_Meminta_Maaf.jpg)
Mayo Clinic menjelaskan, gangguan kepribadian narsistik ditandai rasa penting diri yang berlebihan, kebutuhan besar akan pujian, hubungan yang bermasalah, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Penderitanya juga sulit menerima apa yang mereka anggap sebagai kritik. Pola tersebut membuat hubungan terasa timpang karena perhatian hampir selalu berpusat pada satu pihak.
Perlu diingat, tidak semua orang bersifat narsistik mengidap gangguan kepribadian narsistik, yang diagnosisnya melibatkan penilaian tenaga profesional. Penelitian di jurnal Psychiatry Research pada 2011 juga menemukan pasien gangguan ini menunjukkan hambatan empati emosional, sementara empati kognitif mereka tidak terganggu. Karena itu, banyak orang memilih membatasi interaksi dengan figur seperti ini sebatas urusan profesional.
5. Tidak Konsisten dan Gemar Ingkar Janji
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193449/original/065553800_1745225107-pexels-rdne-8489049.jpg)
Kepercayaan jarang runtuh karena satu peristiwa besar. Ia terkikis perlahan oleh janji yang tak ditepati dan sikap yang berubah-ubah. Satu kali batal karena keadaan masih bisa dimaklumi, tetapi pola yang berulang membuat orang di sekitarnya terus bertanya apakah ucapan itu bisa dipegang.
Pakar kepemimpinan Zenger dan Folkman menyebut kepercayaan sebagai perilaku kepemimpinan yang memengaruhi segala hal lain yang dilakukan seseorang. Dalam ulasannya, Wake Forest University menekankan konsistensi dan menepati komitmen sebagai cara membangunnya. Prinsip itu relevan pula dalam pertemanan, sebab orang yang selektif menjaga waktu dan energinya cenderung enggan menggantungkan rencana pada pihak yang sulit diandalkan.
Advertisement
6. Suka Mengeluh Terus-Menerus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4824466/original/065985400_1715067622-IMG_2386.jpeg)
Berbagi keluh kesah adalah hal wajar. Yang menjadi masalah adalah keluhan kronis yang tak pernah bergerak menuju solusi. Australian Human Resources Institute (AHRI) menjelaskan bahwa dampaknya dapat menular lewat fenomena emotional contagion, sehingga suasana hati orang di sekitarnya ikut tertarik turun.
Pakar komunikasi Mel Kettle, yang pernah menangani pegawai pengeluh kronis, mengatakan perilaku tersebut dapat menurunkan moral tim, mengganggu produktivitas, dan merusak hubungan antaranggota. Meski begitu, AHRI mengingatkan bahwa pengeluh tetap perlu diperlakukan dengan empati karena pada dasarnya mereka ingin keadaan membaik. Artinya, yang kerap dihindari bukan orang yang sesekali curhat, melainkan pola mengeluh tanpa niat mencari jalan keluar.
7. Manipulatif dan Suka Memainkan Perasaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4954819/original/040239400_1727430241-Depositphotos_239284716_L.jpg)
Manipulasi psikologis, menurut analisis di Psychology Today, adalah upaya memengaruhi orang lain secara tidak semestinya lewat distorsi pikiran dan eksploitasi emosi demi meraih kuasa, kendali, atau keuntungan dengan mengorbankan korban. Dalam relasi pertemanan maupun kerja, pola ini cepat menggerus rasa aman.
BetterUp mencatat sejumlah taktik yang umum, mulai dari membuat orang merasa bersalah, gaslighting yang membuat korban meragukan penilaiannya sendiri, hingga mengisolasi korban dari orang-orang terdekat. Mengenali tanda-tanda ini lebih awal membantu seseorang menetapkan batasan yang sehat. Jika manipulasi terjadi berulang dan menimbulkan tekanan, GoodTherapy menyebut terapi dapat membantu.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Tips Kepribadian yang Dihindari Orang Cerdas
Apakah orang cerdas pasti menghindari tujuh kepribadian ini?
Tidak ada riset yang membuktikannya secara langsung. Daftar ini merangkum perilaku yang dinilai psikolog merusak hubungan, sehingga siapa pun bisa menjadikannya acuan menjaga batasan yang sehat.
Apa beda playing victim dengan korban sebenarnya?
Menurut Darlene Lancer, pelaku playing victim cenderung mengalihkan kesalahan dan menghindari tanggung jawab. Korban sungguhan umumnya menghargai kepedulian orang lain dan bisa mengambil langkah sendiri.
Apakah orang narsistik pasti mengidap gangguan kepribadian narsistik?
Tidak. Sifat narsistik tidak otomatis berarti gangguan kepribadian, dan diagnosisnya hanya bisa ditegakkan tenaga kesehatan jiwa profesional.
Bagaimana menyikapi teman yang sering mengeluh?
Dengarkan dengan empati dan ajak mencari jalan keluar. Jika keluhan terus berulang tanpa upaya berubah dan mulai menguras energi, wajar bila Anda membatasi interaksi.
Kapan perlu bantuan profesional?
Jika Anda terus mengalami manipulasi atau hubungan yang menekan secara emosional, konsultasikan dengan psikolog atau konselor. Artikel ini bukan pengganti konsultasi profesional.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497006/original/077149700_1770612558-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T114656.423.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3579753/original/089827300_1632296561-InternetMati1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5561710/original/027708500_1776757647-cek_fakta_bansos_ibu_hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350031/original/038888200_1789552849-cek_fakta_-_Bank_BRI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4934327/original/017108500_1725253540-friends-telling-secrets.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365660/original/059374400_1791187783-323897aa-49b5-4f8c-aaf8-751cdd7dfa8d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5345754/original/062927100_1757572341-pexels-fotios-photos-1092671.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365889/original/030382500_1791200337-Gemini_Generated_Image_psgidwpsgidwpsgi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365923/original/041329900_1791203194-pexels-mart-production-8801036.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949434/original/079535900_1726894645-pexels-david-manzyk-253085053-20425010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365767/original/086763200_1791192702-d0d51ea7-273a-4196-8f8c-5443d01f9df9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365870/original/004222300_1791199163-christian-wiediger-5BG-9id-A6I-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365752/original/013555600_1791191950-72489c27-90ad-44f8-bd90-f0dcf5b1aa3d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365659/original/019005300_1791187719-838f35a7-684a-42b6-9bda-81c5d7af9ae5.jpg)