Bank SMBC Indonesia Kantongi Laba Rp 1,4 Triliun pada Semester I-2026

Biaya kredit konsolidasi Bank SMBC Indonesia turun 14,8% yoy menjadi Rp 2,1 triliun.

Diterbitkan 31 Juli 2026, 16:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank SMBC Indonesia Tbk. ( SMBC Indonesia ) mencatatkan laba bersih setelah pajak konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,4 triliun pada semester I-2026, meningkat 40,3% yoy, termasuk hasil pengalihan portofolio kredit pensiun. Sementara itu, laba bersih setelah pajak SMBC Indonesia secara bank only tumbuh 86% yoy menjadi Rp 1,066 triliun pada periode tersebut.

Seiring dengan pertumbuhan aktivitas bisnis, SMBC Indonesia mencatatkan pendapatan operasional konsolidasi sebesar Rp 8,6 triliun pada Semester I-2026 yang berasal dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp7,5 triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp 1 triliun.

Raihan ini didukung pertumbuhan bisnis, penguatan struktur pendanaan, serta optimalisasi portofolio bisnis sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang.

Salah satu inisiatif strategis yang ditempuh pada paruh pertama tahun ini adalah pelaksanaan tahap pertama pengalihan portofolio kredit pensiun kepada PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN).

Langkah ini diambil untuk memastikan keberlangsungan layanan kepada nasabah tetap terjaga, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi Perseroan dalam mengalokasikan modal dan sumber daya ke area bisnis yang potensial.

Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar mengatakan, kinerja Semester I-2026 mencerminkan komitmen Perseroan untuk terus membangun fondasi bisnis yang semakin kuat agar mampu bertumbuh secara sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi dalam dan luar negeri, serta di industri perbankan.

"Kami terus memperkuat fundamental bisnis agar Perseroan mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. Setiap langkah strategis diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pencapaian kinerja dan penciptaan nilai tambah agar hidup seluruh pemangku kepentingan menjadi bersama lebih bermakna,” kata Henoch.

Di sisi lain, biaya kredit konsolidasi SMBC Indonesia turun 14,8% yoy menjadi Rp 2,1 triliun, sejalan dengan penerapan manajemen risiko kredit yang cermat dan proaktif dengan menjaga tingkat pencadangan yang memadai demi menjaga kualitas portofolio.

Per akhir Juni 2026, SMBC Indonesia mencatat penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp 185,3 triliun. Penyaluran kredit didukung oleh pertumbuhan di sejumlah segmen bisnis utama seperti kredit korporasi dan komersial sebesar 12,8% tahun ke tahun (yoy), kredit di segmen digital savvy melalui layanan Jenius (di luar Digital Micro) sebesar 9,9% yoy, dan pembiayaan PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPN Syariah) sebesar 8,7% yoy. Sementara itu, pembiayaan Grup OTO meningkat 5,8% yoy.

 

 

Total aset SMBC Indonesia

SMBC Indonesia mencatat laba bersih setelah pajak konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,4 triliun pada Semester I-2026, meningkat 40,3% yoy, termasuk hasil pengalihan portofolio kredit pensiun. Sementara itu, laba bersih setelah pajak SMBC Indonesia secara bank only tumbuh 86% yoy menjadi Rp 1,066 triliun pada periode tersebut.

Kinerja positif anak usaha turut memberikan kontribusi positif terhadap kinerja konsolidasi SMBC Indonesia . BTPN Syariah mencatatkan laba bersih sebesar Rp 655 miliar pada Semester I-2026, tumbuh 1,8% yoy. Penyaluran pembiayaan BTPN Syariah mencapai Rp11 triliun, meningkat 8,7% yoy.

Sementara itu, Grup OTO membukukan laba bersih sebesar Rp382 miliar pada Semester I-2026, meningkat 251,8% yoy. Pertumbuhan laba bersih di Grup OTO didukung oleh peningkatan pembiayaan sebesar 5,8% yoy dan biaya kredit yang lebih rendah.

Pendanaan dan Permodalan Tetap Kuat SMBC Indonesia terus memperkuat struktur pendanaannya melalui pertumbuhan current account and saving account (CASA).

Hingga akhir Juni 2026, saldo CASA meningkat 37,4% menjadi Rp60,1 triliun. Sejalan dengan itu, rasio CASA meningkat menjadi 47,5% dari 39,8%, didorong oleh pertumbuhan dana dari segmen korporasi dan komersial, usaha kecil dan menengah (UKM), serta ritel.

Secara khusus, pertumbuhan CASA di segmen UKM juga didukung oleh peningkatan penggunaan TOUCHBIZ, sebuah solusi digital yang dirancang khusus untuk menyederhanakan aktivitas finansial bisnis para pelaku UKM, sehingga mereka dapat fokus mengembangkan bisnisnya.

“Penguatan CASA merupakan bagian penting dari upaya kami untuk membangun struktur pendanaan yang semakin sehat dan efisien. Dengan likuiditas yang tetap kuat, kami memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk mendukung kebutuhan nasabah sekaligus memperkuat kapasitas Perseroan dalam mengembangkan bisnis secara berkelanjutan,” kata Henoch.

Kondisi pendanaan yang kuat tersebut turut ditopang oleh permodalan yang tetap solid. Per 30 Juni 2026, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) berada di level 30,7%.