Sempat Menguat 1%, IHSG Kembali Berbalik Arah Tertekan

Sempat menguat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah melemah pada perdaganga saham Rabu, (20/5/2026).

Diterbitkan 20 Mei 2026, 11:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergejolak pada sesi pertama perdagangan saham Rabu, (20/5/2026). IHSG sempat menghijau kemudian berbalik arah melemah dan dolar Amerika Serikat kembali turun terhadap rupiah.

Mengutip data RTI, IHSG sempat turun 2%. Kemudian mencoba kembali berbalik arah menguat pada pukul 11.33 WIB. IHSG turun 1,05% ke 6.303.

Indeks saham LQ45 melemah 0,40% 632,54. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi. Jelang penutupan perdagangan saham sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.459,55 dan level terendah 6.215,58. Sebanyak 519 saham melemah sehingga bebani IHSG. 143 saham menguat dan 151 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.458.703 kali dengan volume perdagangan saham 25 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 12,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) turun ke 17.698.

Mayoritas sektor saham menghijau kecuali sektor saham keuangan naik 0,19%. Sektor saham energi melemah 3,91%, sektor saham basic tergelincir 5,17%. Lalu sektor saham industri terpangkas 1,24%, sektor saham consumer nonsiklikal turun 0,46%, sektor saham consumer siklikal terpangaks 2,55%. Kemudian sektor saham kesehatan melemah 0,49%, sektor saham properti susut 1,27%.

Selanjutnya, sektor saham teknologi melemah 1,23%, sektor saham teknologi melemah 1,21%. Lalu sektor saham infrastruktur terpangkas 0,84% dan sektor saham transportasi melemah 4,16%.

"Secara teknikal, area 6.300 menjadi support psikologis yang sangat penting bagi IHSG. Jika level ini mampu dipertahankan, peluang rebound menuju area 6.500-6.535 masih terbuka. Namun, apabila support tersebut ditembus, maka risiko pelemahan lanjutan akan semakin besar karena pasar akan mulai masuk fase krisis kepercayaan jangka pendek," tutur analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana dikutip dari Antara.

Dari dalam negeri, Hendra menuturkan, dalam jangka pendek perhatian pelaku pasar tertuju pada pidato Presiden Prabowo di sidang paripurna DPR. Pelaku pasar akan menantikan arah kebijakan fiskal, strategi menjaga stabilitas ekonomi, langkah penguatan rupiah, hingga bagaimana pemerintah merespons tekanan pasar keuangan yang semakin besar.

 

 

Kejelasan Arah Kebijakan

Hendra mengatakan apabila pidato tersebut mampu memberikan kejelasan arah kebijakan, disiplin fiskal, serta sinyal keberpihakan terhadap stabilitas pasar dan dunia usaha, maka sentimen pasar berpotensi membaik dan IHSG memiliki peluang technical rebound.

"Namun, jika pelaku pasar menilai belum ada langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor, maka tekanan terhadap pasar domestik masih berpotensi berlanjut," ujar Hendra.

Hendra menjelaskan pelaku pasar saat ini tidak hanya membutuhkan sentimen positif, tetapi juga membutuhkan kepercayaan. Ketika global mulai mereda namun IHSG tetap runtuh, artinya investor sedang menunggu kepastian arah ekonomi Indonesia ke depan.

"Pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," ujar Hendra.

Di sisi lain, faktor lain yang sangat diperhatikan pelaku pasar adalah pergerakan nilai tukar rupiah.

 

Pelemahan Rupiah

Adapun pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi impor, namun juga meningkatkan kekhawatiran terhadap beban utang luar negeri korporasi serta risiko fiskal pemerintah.

"Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar. Oleh karena itu, stabilitas rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu penentu utama apakah pasar bisa mulai rebound atau justru kembali mengalami panic selling," ujar Hendra.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati pertemuan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan menaikkan BI-Rate tetap di 5,00 persen pada siang hari ini.

Dari mancanegara, Hendra menjelaskan, sentimen sebenarnya mulai membaik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi damai.

Adapun pernyataan tersebut langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia dan memicu penurunan harga minyak mentah.

Target Rupiah dalam RAPBN 2027

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto hadir dalam Sidang Paripurna DPR untuk menyampaikan langsung Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Salah satu yang disampaikan dalam pidatonya tersebut yaitu soal nilai tukar rupiah.

Dalam pidatonya tersebut, Prabowo menyebutkanl target nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada RAPBN 2027, pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah terjaga pada kisaran 16.800-17.500 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada pada rentang 16.800 hingga 17.500," kata Prabowo.

Menurut dia, strategi fiskal dan moneter Indonesia harus mampu menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil terhadap mata uang dunia. 

Â