Kriteria Saham HSC Dinilai Dongkrak Transparansi Pasar Modal Indonesia

Analis mengungkapkan manfaat penerapan high shareholding concentration (HSC) atau saham kepemilikan tinggi terkonsentrasi.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 14:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penerapan kriteria High Shareholding Concentration (HSC) atau saham kepemilikan tinggi terkonsentrasi dinilai dapat meningkatkan transparansi di pasar modal Indonesia sekaligus membantu investor mengidentifikasi saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Kebijakan tersebut diharapkan memperkuat tata kelola pasar modal meski berpotensi memengaruhi likuiditas sejumlah saham dalam jangka pendek.

Analis sekaligus Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, mengatakan HSC merupakan kondisi ketika kepemilikan saham suatu emiten didominasi oleh segelintir pihak sehingga jumlah saham yang benar-benar beredar di publik atau free float riil menjadi terbatas.

"High Shareholding Concentration (HSC) pada dasarnya ialah kondisi di mana porsi kepemilikan saham suatu emiten terpusat atau didominasi oleh segelintir pihak saja, sehingga jumlah saham yang beredar dan aktif diperdagangkan oleh publik (free float riil) menjadi sangat kecil,” kata Reza kepada Liputan6.com, dikutip Senin (20/7/2026).

Reza menjelaskan, penerapan kriteria tersebut berpotensi menambah jumlah emiten yang masuk dalam kategori HSC. Menurut dia, informasi itu dapat menjadi acuan bagi investor untuk lebih waspada terhadap karakteristik saham tertentu, meski pada saat yang sama likuiditas saham yang masuk kategori tersebut dapat menurun.

Ia menilai, kebijakan tersebut tetap memberikan manfaat bagi penguatan tata kelola pasar modal karena mendorong keterbukaan informasi emiten kepada pelaku pasar. Menurut dia, investor memang memerlukan waktu untuk beradaptasi pada tahap awal implementasi.

"Jika kita berkaca pada implementasi tata kelola pasar modal yang baik serta transparansi, tentunya hal ini menjadi positif karena informasi para emiten kepada pelaku pasar kian transparan. Meski di awal pelaku pasar butuh penyesuaian, dalam jangka panjang diharapkan dapat menarik minat investor lokal maupun asing untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia,” ujarnya.

Prediksi IHSG

Di sisi lain, Reza memperkirakan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 masih akan dipengaruhi berbagai sentimen global maupun domestik.

Ia menilai, investor perlu terus mencermati perkembangan ekonomi dan dinamika pasar sebelum mengambil keputusan investasi. Reza menargetkan, IHSG berpeluang bergerak dari kisaran level 6.100 menuju 6.500 hingga 6.600 apabila sentimen pasar tetap kondusif hingga akhir tahun.

 

BEI Tambah Kriteria HSC

Sebelumnya, BEI menyempurnakan metodologi penentuan Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) atas struktur kepemilikan Saham dalam bentuk Warkat dan Tanpa Warkat.

⁠Penyempurnaan metodologi HSC dilakukan dengan menambahkan kriteria baru berupa price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Kriteria ini mengukur besarnya perubahan harga saham dibandingkan dengan tingkat aktivitas perdagangannya (velocity).  Demikian mengutip keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).

Sementara itu, velocity merupakan indikator yang mengukur tingkat aktivitas transaksi saham berdasarkan perbandingan antara rata-rata volume transaksi dengan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Penghitungan kriteria baru ini dilakukan secara berkala setiap triwulan sekali. Adapun trigger factors yang menggunakan tindakan pengawasan tetap dilakukan dan bersifat insidental.

Dengan diberlakukannya metodologi HSC yang telah disempurnakan tersebut, saat ini terdapat 37 saham baru yang masuk ke dalam kategori HSC, sehingga terdapat total 51 saham yang termasuk dalam kriteria HSC.

BEI berharap penyempurnaan kriteria HSC ini dapat menjadi referensi bagi investor dalam memahami karakteristik perdagangan saham sekaligus semakin menegaskan komitmen BEI dalam melaksanakan reformasi transparansi pasar modal Indonesia. Melalui penyempurnaan kebijakan yang dilakukan secara berkelanjutan, BEI optimistis dapat terus memperkuat kepercayaan investor serta mendukung terciptanya pasar modal Indonesia yang semakin kredibel, transparan, dan berdaya saing.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.