UNTR Raup Pendapatan Rp 28,6 Triliun hingga Maret 2026

PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat pendapatan turun 17% dan laba merosot 44% selama kuartal pertama 2026.

Diterbitkan 29 April 2026, 20:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan beberapa koreksi pada kuartal I 2026. Lantaran pendapatan hingga laba bersih mengalami penurunan secara tahunan (YoY) selama periode Januari-Maret 2026. 

Mengutip laporan UNTR di keterbukaan informasi, Rabu (29/4/2026), pendapatan bersih konsolidasian perseroan mencapai Rp 28,6 triliun, turun sebesar 17 persen jika dibandingkan kuartal I 2025. 

Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources akibat tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen mesin konstruksi dan kontraktor penambangan. Sebagai dampak penurunan alokasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara nasional di 2026.

Sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor pertambangan batu bara termal dan metalurgi. Terutama disebabkan oleh harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi.  Pendapatan bersih tersebut terutama berasal dari: 

- segmen Kontraktor Penambangan sebesar Rp11,9 triliun, 6% lebih rendah

- segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi sebesar Rp8,0 triliun, 13% lebih tinggi

- segmen Mesin Konstruksi sebesar Rp7,5 triliun, 31% lebih rendah

- segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya sebesar Rp692 miliar, 76% lebih rendah.

Laba bersih Perseroan tidak termasuk non-recurring charges turun 44% dibandingkan periode sama tahun lalu menjadi Rp 1,8 triliun. Terutama karena tidak adanya penjualan emas dari PT Agincourt Resources dan pendapatan yang lebih rendah, sebagian besar mencerminkan dampak dari penurunan alokasi RKAB batu bara nasional 2026.

Selama kuartal pertama 2026, UNTR mencatat non-recurring charges senilai Rp 1,2 triliun. Terutama terdiri dari pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate. Selain itu, dari provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Adapun per 31 Maret 2026, United Tractors mencatat utang bersih sebesar Rp5,5 triliun, dengan rasio utang bersih (net gearing ratio) sebesar 5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025. 

 

Kinerja Keuangan 2025

Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih sebesar Rp 14,81 triliun pada tahun buku 2025, turun dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp 19,53 triliun.

Melansir laporan keuangan Perseroan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (27/2/2026), pendapatan bersih perseroan turun menjadi Rp 131,30 triliun pada 2025 dari Rp 134,43 triliun pada 2024. Seiring itu, laba bruto ikut terkoreksi menjadi Rp 29,70 triliun dibandingkan Rp 33,83 triliun pada tahun sebelumnya.

Penurunan kinerja juga dipengaruhi oleh kenaikan sejumlah beban operasional. Beban penjualan meningkat menjadi Rp 1,59 triliun dari Rp 1,05 triliun pada 2024. Beban umum dan administrasi juga naik menjadi Rp 6,04 triliun dari Rp 5,59 triliun.

Selain itu, perseroan mencatat beban lain-lain bersih sebesar Rp 256,23 miliar. Biaya keuangan tercatat Rp 2,63 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp 2,65 triliun pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, penghasilan keuangan sebesar Rp 1,24 triliun belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan biaya.

 

 

Laba per Saham

Dengan kombinasi penurunan pendapatan dan peningkatan beban tersebut, laba sebelum pajak penghasilan turun menjadi Rp 20,18 triliun dari Rp 25,89 triliun. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp 5,01 triliun, laba tahun berjalan tercatat Rp 15,17 triliun, dengan Rp 366,33 miliar diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali.

Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Desember 2025 mencapai Rp 177,64 triliun, naik dari Rp 169,48 triliun pada akhir 2024. Total liabilitas tercatat Rp 74,50 triliun dan ekuitas sebesar Rp 103,14 triliun.

Laba per saham dasar dan dilusian tercatat Rp 4.082 per saham, turun dari Rp 5.378 per saham pada tahun sebelumnya.

Â