Liputan6.com, Jakarta - Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, dampak pelemahan rupiah yang menyentuh hingga level 17.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). tidak bersifat merata. Kondisi ini memicu meningkatnya ketidakpastian, terutama bagi emiten yang memiliki eksposur besar terhadap mata uang asing.
"Pelemahan rupiah ke Rp 17.000 ini menekan pasar karena meningkatkan ketidakpastian, risiko kurs, dan beban biaya, terutama bagi emiten yang punya eksposure dolar," kata Reydi kepada Liputan6.com, Kamis (23/4/2026).
Namun demikian, tidak semua sektor mengalami dampak negatif. Ia menegaskan, kondisi saat ini lebih mencerminkan pergeseran preferensi investor, bukan pelemahan pasar secara keseluruhan.
Advertisement
Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung bergerak selektif dan sektoral, mengikuti sentimen terhadap masing-masing industri.
"Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi emiten tertentu. Jadi yang terjadi bukan penurunan merata, hanya yang tidak punya proteksi kurs akan tertekan. Ini membuat IHSG cenderung selektif dan sektoral," ujarnya.
Emiten Berbasis Ekspor Jadi Pemenang
Di tengah tekanan tersebut, menurut Reydi, emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS justru berada dalam posisi yang diuntungkan. Sektor seperti batu bara, energi, logam mineral, dan crude palm oil (CPO) menjadi sorotan utama.
"Yang paling diuntungkan adalah emiten dengan pendapatan berbasis dolar atau ekspor seperti batu bara, energi, logam mineral dan CPO. Mereka menjual dalam dolar, sementara sebagian biaya dalam rupiah, sehingga saat rupiah melemah, margin membesar," ujarnya.
Selain itu, emiten yang punya kontrak USD atau pasar ekspor dominan juga diuntungkan. Dalam kondisi seperti ini, sektor berbasis komoditas biasanya menjadi menarik bagi investor.
Â
Â
Emiten Impor Tertekan Biaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3893148/original/019406200_1641196875-20220103-Pembukaan_Awal_Tahun_2022_IHSG_Menguat-5.jpg)
Di sisi lain, tekanan paling besar dirasakan oleh emiten yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki biaya dalam dolar AS. Pelemahan rupiah menyebabkan lonjakan biaya produksi yang sulit dihindari.
Masalah menjadi lebih kompleks karena tidak semua perusahaan memiliki fleksibilitas untuk menaikkan harga jual. Jika kenaikan biaya tidak dapat diteruskan ke konsumen, margin keuntungan akan tergerus. "Yang paling tertekan adalah emiten dengan biaya berbasis dolar dan ketergantungan impor. Mereka menghadapi kenaikan biaya bahan baku, tekanan margin. Masalahnya, tidak semua emiten punya ruang fleksibel untuk meneruskan kenaikan biaya ke konsumen, sehingga profitabilitas cenderung tergerus," pungkasnya.
Advertisement
Penutupan IHSG pada 22 April 2026
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342655/original/057756700_1757397640-2.jpg)
Sebelumnya, Â Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah pada sesi kedua hingga penutupan perdagangan saham Rabu (22/4/2026). Koreksi IHSG ini juga terjadi di tengah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) tetap di 4,75% dan transaksi harian saham di bawah Rp 20 triliun.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melemah 0,24% menjadi 7.541,61. Indeks saham LQ45 turun 1,04% menjadi 735,97. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau. Pada perdagangan saham Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.578,05 dan level terendah 7.513,93. Sebanyak 440 saham menguat sehingga angkat IHSG. 240 saham melemah dan 141 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 2.948.972 kali dengan volume perdagangan saham 49,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 18,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.181.
Sektor saham transportasi naik 4,76%, dan memimpin kenaikan di antara sektor saham lainnya. Sektor saham industri bertambah 1,14%, sektor saham consumer nonsiklikal menguat 0,10%, sektor saham consumer siklikal naik 1,21%, sektor saham kesehatan menanjak 0,53%.Sektor saham keuangan bertambah 1,05%, sektor saham teknologi naik tipis 0,04% dan sektor saham infrastruktur menguat 1,09%.
Sektor saham energi turun 0,16%, sektor saham basic terpangkas 0,68% dan sektor saham properti melemah 0,03%.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318485/original/050923200_1786098399-Cek_fakta_-_blt_umkm_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4012159/original/035865800_1651313935-20220430-_Gerbang_Tol_Cikampek-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125338/original/089768900_1738928255-20250207-IHSG-ANG_1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5184178/original/018769500_1744269681-20250410-IHSG-AFP_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2935917/original/056992200_1570705752-20191010-IHSG-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563533/original/046149400_1776904156-AP26108447326306.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3546286/original/004546200_1629449459-Warren_Buffet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4277616/original/049381900_1672400412-Penutupan_Perdagangan_Bursa_Efek_Indonesia_2022-Angga-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5184178/original/018769500_1744269681-20250410-IHSG-AFP_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3617314/original/014838100_1635506270-29_oktober_2021-4-ok.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2935917/original/056992200_1570705752-20191010-IHSG-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318732/original/011345800_1786151611-Ilustrasi_wall_street_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4220931/original/010439400_1668038510-Laba_Rugi_3.jpg)