Pentingnya Diversifikasi Investasi di Tengah Ketidakpastian Global

DBS menilai volatilitas akan mereda. Seiring hal itu, investor akan kembali ke fundamental. DBS juga melihat pentingnya diversifikasi investasi.

Diterbitkan 18 Maret 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah konflik Timur Tengah terus berkembang, Chief Investment Office (CIO) DBS  Hou Wey Fook menyarankan investor untuk menerapkan pendekatan manajemen risiko dalam konstruksi portofolio seperti diversifikasi. Hal ini termasuk meningkatkan eksposur terhadap emas dan mengalihkan sebagian eksposur ke saham Amerika Serikat (AS) ke S&P 500 Low Volatility Index.

Ia juga memaparkan sejumlah tema yang akan mendominasi pada kuartal II 2026. Pertama, perang di Timur Tengah dan dampaknya terhadap aset berisiko.

Minyak tetap menjadi saluran transmisi utama dari krisis militer ini, mengingat peran Iran sebagai produsen terbesar keempat di OPEC. Skala dan durasi dari setiap guncangan harga minyak akan bergantung pada perkembangan di Selat Hormuz, jalur sempit strategis bagi perdagangan global minyak dan LNG.

"Kenaikan harga energi menjadi tantangan bagi aset berisiko karena meningkatkan ekspektasi inflasi, membatasi ruang bank sentral untuk melakukan pelonggaran moneter, serta menekan pertumbuhan ekonomi,” seperti dikutip dari rekomendasi investasi pada kuartal kedua 2026 dari  Chief Investment Office (CIO) DBS Hou Wey Fook, bertajuk “Resilience in Chaos: Key Investment Takeaways” (17/3/2026).

Kedua, calon ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh dan perubahan narasi Bank Sentral AS (the Fed).

"Sikap kebijakan Warsh menandakan potensi perubahan dalam narasi the Fed. Ia yakin peningkatan produktivitas yang didorong oleh AI memungkinkan the Fed melakukan pemangkasan suku bunga secara agresif tanpa memicu inflasi,” ujar dia.

Pada saat sama, kekhawatirannya terhadap "monetary dominance”, atau rezim ekonomi di mana bank sentral menerapkan kebijakan secara independen untuk menjaga kestabilan harga (mengontrol inflasi) tanpa terkendala oleh kebutuhan fiskal pemerintah, mendasari pandangannya mengenai perlunya neraca the Fed dikurangi secara signifikan.

"Hal ini meningkatkan kemungkinan kembalinya quantitative tightening - kebijakan moneter kontraktif di mana bank sentral mengurangi jumlah uang beredar dan likuiditas serta mengindikasikan kurva imbal hasil yang semakin menanjak, dinamika yang mendukung sektor keuangan.,” tutur Hou.

 

Investor Diimbau Diversifikasi

Terakhir, diversifikasi di luar crowded trades, yakni kondisi di mana terlalu banyak investor mengambil posisi sama pada aset tertentu secara bersamaan. Ketegangan geopolitik telah mengganggu pasar dan memicu aksi ambil untung di pasar yang sebelumnya mencatat kinerja kuat seperti Korea dan Jepang.

“Kami memandang kondisi ini bersifat sementara. Seiring volatilitas mereda, kami memperkirakan investor akan kembali ke fundamental dan berfokus pada tema dominan sebelum krisis, terutama logam mulia dan teknologi, yang masing-masing didorong oleh dollar debasement (penurunan nilai dolar AS) dan AI supremacy,” kata Hou.

Ia menambahkan, pihaknya  mendorong investor untuk melakukan diversifikasi dari crowded trades dan merekomendasikan penambahan eksposur ke saham Emerging Markets (EM) dan saham Jepang.

"Saham EM berpotensi memperoleh manfaat dari pemangkasan suku bunga the Fed, pelemahan dolar AS, pertumbuhan laba kuat, serta pengurangan alokasi modal ke aset tertentu; sementara saham Jepang didukung oleh stimulus fiskal yang akan datang, reformasi tata kelola, dan selisih imbal hasil yang menarik," kata dia.

Hal-Hal yang Patut Dicermati

Berikut sejumlah hal yang patut dicermati di tengah ketidakpastian global.

Aset Lintas Kelas: Tidak untung ataupun rugi 

"Kami mengadopsi pandangan yang secara umum netral di berbagai kelas aset. Perekonomian AS, meskipun tetap tangguh, menunjukkan tanda-tanda awal moderasi, sebagaimana tercermin dari data penjualan ritel. Hal ini sejalan dengan revisi penurunan terbaru pada proyeksi PDB Atlanta Fed GDPNow dari sekitar 5% menjadi sekitar 3%,” kata dia.

Namun, meskipun terjadi perlambatan ringan, tanpa adanya dampak limpahan yang merugikan dari perang di Timur Tengah, Hou mengatakan, pihaknya tidak memperkirakan akan terjadi resesi pada 2026 karena momentum makro tetap ditopang oleh siklus belanja modal AI dan stimulus fiskal Trump. Laba perusahaan global diproyeksikan tumbuh sekitar 17% pada 2026.

Obligasi terlihat memiliki valuasi lebih menarik dibandingkan saham. Arus dana ke saham dan obligasi menguat secara marginal dibandingkan dengan 2025.

"Momentum arus dana ke saham AS telah menurun secara signifikan, sementara kawasan seperti Eropa dan Jepang mencatat momentum lebih kuat, mendukung pandangan kami mengenai rotasi portofolio yang sedang berlangsung menjauh dari AS,” tutur dia.

Ekuitas: Mempertahankan keyakinan pada Asia di luar Japan; meningkatkan peringkat Jepang menjadi netral

Ekuitas Asia di luar Japan (AxJ) telah mengungguli pasar negara maju pada tahun ini di tengah (1) meredanya ketegangan perdagangan dan (2) rotasi portofolio menjauh dari crowded trades di AS. Namun, meskipun mencatatkan kinerja lebih baik, AxJ masih diperdagangkan dengan diskon signifikan dibandingkan saham pasar negara maju (Developed Market, DM) mengingat momentum pertumbuhan laba yang lebih kuat.

"Kami memperkirakan kinerja unggul AxJ akan berlanjut seiring investor berupaya mengurangi eksposur terhadap aset berbasis AS dan memanfaatkan momentum lonjakan belanja modal AI di Asia,” ujar dia.

DBS juga meningkatkan peringkat ekuitas Jepang, dengan ekspektasi pasar akan terus bergerak naik secara bertahap, seiring menyempitnya diskon valuasi bersamaan dengan reformasi tata kelola perusahaan, selisih imbal hasil yang menarik dibandingkan obligasi pemerintah domestik, serta reformasi struktural yang berkelanjutan, yang tercermin dari meningkatnya rasio pembayaran dividen dan aksi pembelian kembali saham oleh perusahaan.

“Kami menyukai sektor-sektor unggulan di Jepang, yang berpotensi memperoleh manfaat dari strategi Takaichi,” tutur dia.

 

Obligasi hingga Emas

Obligasi: Mengubah peringkat obligasi menjadi netral; mempertahankan peringkat overweight (kinerja akan membaik) untuk IG

"Meskipun kami tetap mempertahankan preferensi untuk kualitas di segmen A/BBB, kami juga menyadari bahwa tidak semua industri akan berkinerja sama di era kecemasan terhadap AI dan divergensi. Penurunan tajam pada ekuitas sektor perangkat lunak dapat menjadi sinyal awal bagi pasar kredit,” ujar dia.

Mengingat ancaman potensi usangnya model bisnis akibat disrupsi AI, beberapa industri atau perusahaan dengan peringkat investment-grade (IG) mungkin tidak lagi dipandang sebagai aset aman. Dalam kondisi ini, sektor siklikal yang padat modal dapat secara paradoks menjadi tempat berlindung lebih aman dibandingkan sektor dengan modal minimal.

Dengan selisih imbal hasil menyempit serta tekanan terkait AI, kompresi selisih imbal hasil kemungkinan akan lebih terbatas. Kami mempertahankan preferensi pada kredit berkualitas tinggi dengan durasi pendek 2–3 tahun, serta durasi portofolio 5–7 tahun.

"Meskipun kami tetap berpandangan positif terhadap kredit IG, kami mengurangi secara moderat posisi overweight sehingga alokasi obligasi secara keseluruhan menjadi netral,"

Alternatif: Positif untuk emas dan dana lindung nilai 

Penurunan tajam harga emas menyusul penjualan secara besar-besaran setelah Trump menominasikan Warsh sebagai ketua the Fed terbukti bersifat sementara, karena logam mulia tersebut kembali menegaskan perannya sebagai diversifikator portofolio utama dan melanjutkan tren kenaikannya.

"Di tengah era ketidakpastian geopolitik, kami tidak melihat logam mulia lain sebagai alternatif layak untuk emas, yang tetap didukung oleh kekhawatiran pelemahan nilai dolar, risiko geopolitik, dan permintaan kuat dari bank sentral. Kami telah menaikkan target harga 2H26 menjadi USD 6.250/ons,"

Volatilitas yang baru-baru ini melanda perusahaan perangkat lunak juga menyoroti pentingnya eksposur ke dana nilai lindung (hedge fund) dalam konstruksi portofolio karena manajer long/short (manajer yang mengoperasikan dana lindung nilai yang membeli saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya dan menjual saham yang diperdagangkan di atas nilai intrinsiknya) dapat mengambil posisi short dan memperoleh potensi keuntungan signifikan.

"Kami yakin bahwa strategi hedge fund seperti ekuitas makro, relative value, dan long/short berada pada posisi baik untuk menghadapi disrupsi yang didorong oleh AI," kata dia.