Penerbitan Surat Utang Korporasi 2026 Diramal Tembus Rp 196,9 Triliun

PEFINDO memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi 2026 mencapai Rp196,9 triliun, ditopang refinancing dan minat investor.

Diterbitkan 23 Januari 2026, 21:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi di Indonesia pada 2026 tetap berada di level yang kuat. Nilainya diperkirakan berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,9 triliun, dengan estimasi titik tengah sekitar Rp 175,8 triliun.

Proyeksi tersebut didorong oleh sejumlah faktor utama, terutama kebutuhan refinancing atas utang yang jatuh tempo, upaya optimalisasi struktur pendanaan, serta kondisi suku bunga yang relatif lebih kondusif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Di tengah dinamika pasar keuangan global, obligasi korporasi masih dipandang sebagai instrumen yang stabil dan menarik.

Sentimen investor, khususnya investor institusi domestik, juga diperkirakan tetap positif terhadap pasar surat utang. Kondisi ini membuat pasar obligasi pada 2026 masih menjadi salah satu sumber pendanaan utama bagi dunia usaha, meski tingkat penerbitannya diperkirakan tidak setinggi lonjakan yang terjadi pada 2025.

Optimisme terhadap iklim investasi tersebut turut tercermin dari kolaborasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PEFINDO, Indonesia Infrastructure Finance (IIF), dan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) yang menggelar seminar bertajuk “Optimalisasi Penerbitan Surat Utang dengan Credit Enhancement” di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Kegiatan ini bertujuan memperkaya wawasan pelaku usaha terkait penerbitan surat utang yang lebih aman dan menarik bagi investor.

 

Kualitas Penerbitan Surat Utang

Dalam seminar tersebut, layanan credit enhancement dari IIF menjadi salah satu sorotan utama. Skema ini dinilai mampu meningkatkan kualitas penerbitan surat utang korporasi melalui penjaminan kredit, penguatan proses pemeringkatan, serta dukungan struktur transaksi yang lebih prudent.

Presiden Direktur IIF Rizki Pribadi Hasan menyampaikan bahwa credit enhancement berperan sebagai katalis bagi pasar surat utang nasional.

“Skema ini tidak hanya memperkuat kepercayaan investor, tetapi juga memperluas basis investor dan mendorong keberhasilan penerbitan obligasi, sekaligus mendukung pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan bagi sektor infrastruktur dan korporasi strategis di Indonesia,” ujar Rizki dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).

Dari sisi regulator pasar modal, BEI juga terus mendorong pemanfaatan berbagai instrumen pendanaan. Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan peran aktif BEI dalam memberikan edukasi kepada calon penerbit.

“Program sosialisasi dan konsultasi ditujukan untuk mendorong penerbitan segala jenis efek tidak terkecuali Efek Bersifat Utang dan Sukuk yang dapat dilakukan dengan skema credit enhancement,” ujarnya.

 

Credit Enhancement

Sejalan dengan itu, Direktur Utama PEFINDO Irmawati menegaskan bahwa layanan credit enhancement menjadi salah satu faktor penting dalam metodologi pemeringkatan surat utang.

“Surat utang yang diterbitkan oleh suatu korporasi bisa mendapat rating yang sama dengan IIF, apabila mendapat garansi penuh melalui credit enhancement dari IIF,” ungkap Irmawati.

Optimisme serupa juga disampaikan oleh BRIDS sebagai salah satu penjamin emisi efek. Plt. Direktur Utama BRIDS, Fifi Virgantria, menilai dukungan credit enhancement memberikan nilai tambah signifikan bagi penerbit.

“Dukungan credit enhancement dari IIF memberikan nilai tambah yang signifikan dalam proses penerbitan surat utang korporasi. Dengan struktur penjaminan yang kuat dan peringkat kredit yang lebih baik, penerbitan obligasi menjadi lebih kredibel di mata investor, sekaligus memungkinkan penetapan biaya pendanaan yang lebih efisien,” ujarnya.

Ke depan, BEI, PEFINDO, IIF, dan BRIDS berkomitmen terus mendorong pendalaman pasar modal, khususnya pasar surat utang. Melalui pemahaman yang lebih komprehensif terhadap layanan credit enhancement, penerbitan obligasi diharapkan semakin berkualitas, berkelanjutan, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.