Grup Salim Lepas 160 Juta Saham AMMN

Grup Salim melalui PT Pesona Sukses Cemerlang kini memiliki 4,56 miliar saham AMMN. Jumlah itu setara 6,3%.

Diperbarui 11 Juli 2025, 16:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Grup Salim melalui PT Pesona Sukses Cemerlang melepas saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 160 juta saham.

Aksi itu terungkap dalam laporan kepemilikan saham PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 9 Juli 2025, dikutip Jumat, (11/7/2025). PT Pesona Sukses Cemerlang (PSC) melepas 160 juta saham AMMN sehingga kini genggam 4,56 miliar saham AMMN. Jumlah itu setara 6,3%.

Sebelumnya, PSC memiliki 4,72 miliar saham AMMN atau setara 6,52%. Namun, belum diketahui harga jual saham AMMN itu. Jika dilihat dari penutupan harga saham AMMN pada 9 Juli 2025 di kisaran Rp 8.750, PSC diperkirakan raup dana Rp 1,4 triliun dari penjualan saham AMMN.

Adapun kepemilikan saham AMMN lainnya tidak ada perubahan seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). MEDC genggam 15,16 miliar saham AMMN atau setara 20,92%. Kemudian PT Sumber Gemilang Persada genggam 23,33 miliar saham AMMN atau setara 32,17%, dan AP Investment sebesar 11,20 miliar saham atau setara 15,45%.

Berdasarkan data RTI, pada penutupan perdagangan Jumat, 11 Juli 2025, harga saham AMMN turun 1,47% ke posisi Rp 8.375 per saham. Harga saham AMMN dibuka stagnan di posisi Rp 8.500 per saham. Saham AMMN berada di level tertinggi Rp 8.525 dan terendah Rp 8.275 per saham. Total frekuensi perdagangan 9.064 kali dengan volume perdagangan 203.320 saham. Nilai transaksi Rp 170,6 miliar.

Produksi Logam Turun pada 2025, Intip Target Amman Mineral Internasional

Sebelumnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengumumkan proyeksi produksi logam yang lebih rendah pada tahun 2025 seiring dengan peralihan dari penambangan bijih segar di Fase 7 menuju penambangan material batuan penutup di Fase 8.

Akibatnya, bijih yang diproses sebagian besar akan berasal dari stockpile dan bijih segar berkadar rendah dari lingkaran luar Fase 8, yang memiliki kandungan tembaga dan emas lebih rendah dibandingkan bijih dasar Fase 7 dan 8.

"Kami memperkirakan produksi logam yang lebih rendah pada tahun 2025 karena peralihan operasional dari Fase 7 ke Fase 8. Namun, kami optimis produksi akan meningkat signifikan pada 2026 seiring dengan pencapaian inti bijih Fase 8," kata Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk, Alexander Ramlie dalam keterbukaan informasi Bursa, Kamis (20/3/2025).

Pada tahun 2025, perusahaan mengantisipasi produksi konsentrat sebesar 430.000 metrik ton kering, yang diproyeksikan mengandung 228 juta pon tembaga dan 90.000 ons emas. Namun, produksi logam diperkirakan meningkat secara signifikan pada 2026 saat perusahaan mencapai inti bijih di Fase 8, bahkan melampaui kinerja historis sebelumnya.

Sebagai bagian dari transformasi bisnis dan peningkatan kapasitas smelter yang sedang berlangsung, perusahaan menerapkan pendekatan konservatif terhadap operasionalnya pada tahun 2025. "Kami mengambil pendekatan konservatif dalam operasional tahun ini untuk memastikan kelancaran ramp-up smelter dan optimalisasi produksi di masa depan," tambah juru bicara tersebut.

 

 

Produksi Anoda Tembaga

Pada kuartal keempat tahun 2024, sebagian dari produksi konsentrat telah dicadangkan guna mendukung proses ramp-up smelter. Hal ini menyebabkan sekitar 190.000 metrik ton kering konsentrat tersimpan hingga akhir 2024, dengan penjualan ditunda hingga kapasitas produksi smelter meningkat.

Pada 12 Februari 2025, perusahaan berhasil memproduksi anoda tembaga pertama, menandai tonggak penting dalam proyek smelter. "Produksi anoda tembaga pertama ini merupakan langkah besar dalam proyek kami. Kami menargetkan produksi katoda tembaga pertama pada akhir Maret 2025," imbuh Alexander.

Panduan produksi ini bergantung pada estimasi bijih yang ditambang dan konsentrat yang dihasilkan. Mengingat tantangan dalam meningkatkan kapasitas smelter, memperkirakan total produksi katoda tembaga dan emas batangan sepanjang tahun masih menjadi tantangan. Untuk mengatasi potensi keterbatasan produksi smelter, perusahaan berencana secara resmi mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk mendapatkan izin ekspor konsentrat.

"Kami akan bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan produksi dan ekspor yang sesuai dengan regulasi yang berlaku," kata Alexander.

Realisasi 2024

Pada 2024, terdapat peningkatan signifikan pada produksi logam yang didorong oleh penambangan bijih berkadar tinggi dari puncak Fase 7. Produksi tembaga meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara produksi emas meningkat 73 persen-capaian tertinggi sejak Batu Hijau mulai beroperasi pada 2000.

Produksi konsentrat naik 39 persen, menjadi 755.083 metrik ton kering dibandingkan 2023. Volume material yang ditambang naik 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena gangguan yang minim berkat faktor cuaca yang mendukung. Hal ini menghasilkan rekor tertinggi pencapaian produktivitas pertambangan dan volume material yang diangkut dalam sejarah Batu Hijau.

Selain itu, biaya penambangan per unit tetap stabil dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun terdapat tantangan berupa jarak angkut truk yang lebih jauh serta tekanan inflasi pada peralatan dan tenaga kerja. Efisiensi operasional dan peningkatan volume material yang ditambang menjadi faktor utama dalam mengimbangi tekanan inflasi tersebut.

"Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, total belanja modal kami pada tahun 2024 meningkat 18% menjadi USD 1,79 miliar. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh proyek-proyek ekspansi," ungkap Alexander.

proyek-proyek ekspansi dimaksud termasuk Smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) senilai USD 489 juta. Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), fasilitas liquified natural gas (LNG), serta fasilitas transmisi dan distribusi (T&D) senilai USD 261 juta.

Kemudian ekspansi pabrik konsentrator (termasuk desain ulang) senilai USD 610 juta. Kemudian infrastruktur pendukung sebesar: USD 198 juta, dan sustaining capital expenditures senilai USD 234 juta.

Â