Saham Minyak hingga Tambang Indonesia Jadi Primadona, MEDC hingga BRMS Siap Ngebut

Sentimen Amerika Serikat (AS) kembali menyerang situs nuklir Iran membebani laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Level support IHSG ini menjadi titik penting yang perlu diperhatikan investor.

Diperbarui 23 Juni 2025, 12:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik global memuncak setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama IranFordo, Natanz, dan Isfahanpada Sabtu malam, 21 Juni 2025.

Ketiga lokasi ini merupakan pusat pengayaan uranium Iran yang menjadi simbol kekuatan nuklir Teheran. Konfirmasi serangan ini disampaikan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump, sebagai respons atas konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2023 antara Iran dan Israel.

Langkah militer terbuka dari AS meningkatkan kekhawatiran pecahnya perang besar di Timur Tengah, kawasan vital bagi pasokan energi dunia. Pasar keuangan pun bereaksi cepat terhadap eskalasi ini. Harga minyak dunia melonjak tajam di awal pembukaan pasar Asia, menembus level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

"Harga emas menembus USD 2.500 per troy ounce, mencerminkan lonjakan permintaan terhadap aset lindung nilai," ujar Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana dalam ulasan yang diterima Liputan6.com, Senin (23/6/2025).

Saham Minyak Indonesia dan Logam Mulia Siap Melejit, MEDC hingga BRMS Jadi Sorotan

Sentimen negatif akibat konflik ini menyeret IHSG yang sebelumnya sudah melemah 3,61% dan kini diperkirakan akan kembali tertekan. Level support kuat di kisaran 6.812 hingga 6.700 menjadi titik penting yang perlu diperhatikan investor. Namun, tekanan ini ternyata justru membuka peluang baru di sektor energi dan logam mulia.

Kenaikan tajam harga minyak dan emas memberi sentimen positif bagi emiten terkait. Sejumlah saham minyak Indonesia dan tambang seperti MEDC saham, ELSA, PTRO, BUMI, BRMS saham, ENRG, hingga MDKA berpotensi mendapat angin segar. Investor juga mulai melirik saham logistik seperti SMDR dan gas seperti PGAS.

"Saham-saham seperti MEDC, ELSA, PTRO, BUMI, BRMS, ENRG, MDKA diprediksi mendapat angin segar dari lonjakan harga minyak dan emas. Selain itu, saham logistik dan pelayaran seperti SMDR serta emiten penghasil gas seperti PGAS juga patut dicermati," ungkap Hendra.

 

Dolar Perkasa, Subsidi Energi dan Rupiah Terancam, Pemerintah Diminta Waspada

Kenaikan harga minyak dunia diprediksi memberi tekanan tambahan terhadap subsidi energi, inflasi impor, serta mempersempit ruang Bank Indonesia untuk mengambil langkah pelonggaran moneter. Situasi ini bisa mengakibatkan nilai tukar rupiah makin tertekan akibat penguatan dolar dan potensi capital outflow dari pasar surat utang.

Di sisi fiskal, pemerintah diharapkan mampu memanfaatkan momentum naiknya harga komoditas untuk meningkatkan penerimaan negara, namun tetap mewaspadai dampak negatif terhadap daya beli masyarakat. Keseimbangan antara keuntungan fiskal dan risiko inflasi menjadi tantangan utama saat ini.

"Di sisi fiskal, pemerintah perlu memanfaatkan momen kenaikan harga komoditas untuk mengoptimalkan penerimaan negara, namun tetap waspada terhadap dampak negatif terhadap daya beli dan pertumbuhan ekonomi domestik," kata Hendra.

 

Pasar Saham Tertekan, OJK & BEI Didorong Buka Broker Summary demi Stabilitas

Ketidakpastian yang tinggi menuntut investor untuk lebih disiplin dalam manajemen risiko. Rebalancing portofolio ke sektor defensif dan komoditas, serta peningkatan likuiditas, menjadi strategi utama untuk menghadapi gejolak pasar.

Investor diimbau menghindari spekulasi jangka pendek, khususnya pada saham-saham yang volatil dan likuiditasnya rendah. Di sisi kebijakan, regulator seperti OJK dan BEI didorong untuk bersikap proaktif dalam menjaga stabilitas pasar.

Salah satu usulan mendesak adalah pembukaan kembali tampilan kode broker agar investor ritel dan institusi bisa memantau arus transaksi secara lebih transparan. Bila tekanan pasar makin besar, langkah teknis lain seperti penyesuaian auto rejection juga patut dipertimbangkan.

"Salah satu langkah penting yang perlu segera dilakukan adalah membuka kembali tampilan kode broker (broker summary) agar pelaku pasar, terutama investor ritel dan institusi domestik, memiliki visibilitas yang memadai terhadap aliran transaksi dan likuiditas," tutur Hendra.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.