Sukses

IHSG Tertekan, Saham Emiten Bank Digital Ikut Lesu

Liputan6.com, Jakarta - Saham emiten bank digital berguguran setelah libur Lebaran 2022. Tekanan terhadap saham emiten bank digital tersebut dinilai didorong kenaikan inflasi dan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve.

Mengutip data RTI, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) melemah 24,89 persen pada 9-12 Mei 2022. Saham ARTO melemah ke posisi Rp 8.750 per saham.

Pada pekan ini, saham ARTO berada di posisi tertinggi Rp 11.550 dan terendah Rp 8.750 per saham. Total volume perdagangan 28.010.227 saham. Nilai transaksi Rp 281,5 miliar dan total frekuensi perdagangan 13.370.

Koreksi harga saham ARTO membuat kapitalisasi pasar saham ARTO keluar dari posisi 10 kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini, kapitalisasi pasar saham ARTO mencapai Rp 121,24 triliun.

Koreksi harga saham ARTO juga diikuti dengan penurunan saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB). Saham BBYB turun 24,48 persen ke posisi Rp 1.265 per saham. Saham BBYB berada di level tertinggi Rp 1.675 dan terendah Rp 1.265 per saham.

Total volume perdagangan 256.434.171 saham. Nilai transaksi Rp 350,7 miliar dan total frekuensi perdagangan 26.310 kali.

Demikian juga saham PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR). Pada 9-12 Mei 2022, saham AMAR turun 6,97 persen ke posisi Rp 374 per saham. Saham AMAR berada di level tertinggi Rp 422 dan terendah Rp 360 per saham. Total volume perdagangan 249.261.100 saham. Nilai transaksi Rp 98,4 miliar. Total frekuensi perdagangan 24.779 kali.

Pada pekan ini, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) alami koreksi empat hari berturut-turut. Koreksi terbesar terjadi pada Senin, 9 Mei 2022, IHSG merosot 4,42 persen ke posisi 6.909,75. Pada penutupan perdagangan Kamis, 12 Mei 2022, IHSG turun 3,17 persen ke posisi 6.599,84.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Cheryl Tanuwijaya mengatakan, saham digital masih belum menarik sementara ini lantaran valuasi masih mahal.

“Karena valuasinya masih relatif mahal yang mayoritas di dua digit. Jauh lebih mahal dari bank konvensional,” kata Cheryl saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Jumat (13/5/2022).

Dia menambahkan, saham bank Jago yang terus turun dalam tiga hari berdampak dari secara keseluruhan investor yang hindari risiko.

"Jadi investor semakin selektif terhadap memilih perusahaan untuk invest. Sedangkan bank digital masih belum untung dan valuasi sudah mahal,” ungkapnya.

Cheryl juga menegaskan, saham bank digital masih perlu dihindari.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Christine Natasya mengungkapkan, saat inflasi dan suku bunga naik, saham-saham dengan valuasi mahal dan growth stock lebih tertekan.Tak hanya itu, dia juga lebih merekomendasikan saham bank kapitalisasi besar untuk saat ini. “Kita lebih merekomendasikan big cap banks,” ujar dia.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Penutupan IHSG pada Kamis 12 Mei 2022

Sebelumnya,  Indeks Harga Saham Gabungan makin merosot pada perdagangan Kamis, 12 Mei 2022. Investor asing pun masih melakukan aksi jual saham yang masif.

Pada penutupan perdagangan, IHSG merosot 3,17 persen ke posisi 6.559,84. Indeks LQ45 melemah 3,13 persen ke posisi 993,34.

Seluruh indeks acuan tertekan. Pada Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.802,32 dan terendah 6.576,30. Sebanyak 480 saham melemah sehingga menekan IHSG. 97 saham menguat dan 112 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 1.464.451 kali dengan volume perdagangan 24 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 18,1 triliun. Investor asing jual saham Rp 721,36 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di posisi 14.582.

Seluruh sektor saham tertekan. Indeks sektor saham IDXtechno merosot 4,65 persen, dan catat koreksi terbesar. Diikuti indeks sektor saham IDXbasic melemah 3,31 persen dan indeks sektor saham IDXnonsiklikal merosot 3,12 persen.

 

3 dari 4 halaman

Tanggapan Analis

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, saham masih dikatakan investasi yang menarik seiring koreksi yang terjadi normal adanya. Hal ini karena dari awal tahun IHSG sudah naik signifikan.Secara year to date, IHSG naik 3,57 persen hingga penutupan perdagangan Rabu, 11 Mei.

Adapun sektor saham yang menarik untuk dicermati pelaku pasar yaitu sektor konsumer sebagai penyeimbang IHSG. Penguatan sektor saham konsumer ini karena ada rotasi saham dan laporan keuangan yang bagus. “Sektor rotasi dan dari beberapa rilis laporan keuangan nya bagus,” kata dia.

Herditya prediksi, IHSG masih rawan koreksi pada perdagangan Jumat, 13 Mei 2022. IHSG akan uji 6.540 tetapi IHSG juga berpeluang naik. “Namun tidak menutup kemungkinan menguat terlebih dahulu ke 6.650,” ujar dia.

Ia menilai, koreksi IHSG masih wajar karena bursa saham Amerika Serikat saja selama sepekan terkoreksi berturut-turut dan Indonesia terkena lagging period karena ada libur Lebaran pekan lalu.

4 dari 4 halaman

Top Gainers-Losers dan Aksi Investor Asing pada 12 Mei 2022

Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:

-Saham SULI naik 31,73 persen

-Saham MITI naik 22,93 persen

-Saham SGER naik 17,82 persen

-Saham INDX naik 17,12 persen

-Saham KKGI naik 14,46 persen

 

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

-Saham NANO melemah 8,47 persen

-Saham FLMC melemah 7,32 persen

-Saham SOSS melemah 6,99 persen

-Saham SKLT melemah 6,98 persen

-Saham MPMX melemah 6,98 persen

 

Saham-saham yang dibeli investor asing antara lain:

-Saham ADRO senilai Rp 168,3 miliar

-Saham BMRI senilai Rp 113,5 miliar

-Saham ASII senilai Rp 65,7 miliar

-Saham ANTM senilai Rp 57,1 miliar

-Saham EMTK senilai Rp 56,4 miliar

 

Saham-saham yang dijual investor asing antara lain:

-Saham BBCA senilai Rp 806,6 miliar

-Saham BBRI senilai Rp 149,7 miliar

-Saham BBNI senilai Rp 95,6 miliar

-Saham TBIG senilai Rp 76,4 miliar

-Saham MDKA senilai Rp 46,2 miliar