Sukses

Mohon Bersabar, Bank Neo Commerce Janjikan Profit di 2023

Liputan6.com, Jakarta PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) memproyeksikan pembukuan laba terjadi pada 2023. Hal itu lantaran pada tahun ini perseroan masih fokus menggarap ekosistem bank digital dan pertumbuhan pengguna atau user.

Direktur Utama Bank Neo Commerce, Tjandra Gunawan menjelaskan, tahun ini perseroan sudah mulai meluncurkan digital lending.

Dari layanan tersebut, Tjandra mengatakan profit perseroan secara bulanan sudah mulai tampak. Namun nantinya akan mulai terakselerasi secara signifikan pada kuartal III dan IV tahun ini, didukung layanan Buy Now Pay Late (BNPL).

“Secara full year, saya harus tegaskan baru akan profit di 2023. Karena di 2022 ini, walaupuan secara bulanannya sudah profit karena kita sudah luncurkan digital lending, makin masif lagi nanti di kuartal III-IV kita masuk BNPL,” kata dia, Minggu (22/1/2022).

Perseroan tahun ini menargetkan pertumbuhan dari sisi user. Pertumbuhan user ini menjadi salah satu key performance indicator (KPI) bank digital, dibandingkan dnegan bank konvensional.

Sebagai informasi bahwa fitur kredit atau pinjaman digital ini sudah diluncurkan melalui sinergi ekosistem Bank Neo Commerce, yaitu melalui aplikasi Akulaku mulai pertengahan November2021 lalu.

Sampai dengan Januari 2022, sudah terdapat kurang lebih 200 ribu debitur, dengan dana yang sudah dicairkan sebesar Rp 656 miliar.

“Besarnya dana yang sudah dicairkan ini menunjukkan bahwa kebutuhan nasabah akan layanan kredit sangat besar dan BNC hadir untuk menjawab permintaan tersebut,” jelas Tjandra sebelumnya.

 

2 dari 2 halaman

QR Code

Selain itu, pada kuartal pertama tahun ini Bank Neo Commerce akan menyediakan layanan pembayaran QR Code Indonesian Standard (QRIS) agar proses transaksi menjadi lebih mudah dan efektif serta mewujudkan program Indonesia menuju cashless society.

Pemanfaatan QRIS akan semakin besar seiring semakin tingginya adopsi masyarakat terhadap pembayaran cashless, meningkatnya jumlah merchant yang menggunakan QRIS, yang manaakibat dari pandemi yang mempercepat adopsi digital.

“Jadi buat apa sebuah bank digital repot-repot bertransformasi menjadi ban digital kalau usernya hanya satu juta, buat apa. jadi bank konven juga bisa,” imbuhnya.