Sukses

Wika Harap Proyek Jalan Tol Jadi Prioritas LPI

Liputan6.com, Jakarta - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) berharap proyek-proyek jalan tol dapat dilibatkan dengan ada lembaga pengelola investasi (LPI) atau Indonesia Invesment Authority (INA).  Selain itu, proyek infrastruktur dan air juga diharapkan dapat dilibatkan dengan kehadiran INA.

Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), Agung Budi Waskito menuturkan,  pembiayaan proyek jalan tol akan menjadi prioritas dengan ada INA. Hal ini mengingat jalan tol memiliki multiflier effect untuk ekonomi Indonesia.

"Kami berharap nanti LPI atau INA untuk prioritas pertama proyek-proyek jalan tol. Selain multiflier efek yang jadi harapan BUMN Karya khususnya WIKA bisa melalui recycle, proyek baru yang akan didanai oleh INA,” ujar dia dalam paparan prospek BUMN 2021 sebagai lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund (SWF), Kamis (4/3/2021).

Ia menuturkan, WIKA sedang mengerjakan proyek tol antara lain Soreang-Pasir Koja dengan kepemilikan 30 persen, Serang-Panimbang dengan kepemilikan 83,42 persen, Semarang-Demak. Agung menuturkan, proyek tol di Semarang-Demak tersebut masih proses pengerjaan konstruksi.

Selain itu, di luar Jawa ada proyek tol yang sudah selesai di Manado-Bitung dengan kepemilikan 20 persen dan Balikpapan-Samarinda 16,9 persen.

"Proyek tol yang dikerjakan baik yang operasi dan sedang kerjakan nanti mempunyai peluang kerja samakan oleh LPI dan INA ikut dalam pendanaan sehingga bisa meringankan kami leverage usaha di bidang konstruksi," ujar dia.

 

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Tumpuan Pembangunan Infrastruktur

Selain itu, proyek lainnya yang dapat dilibatkan dengan INA antara lain investasi WIKA di proyek infrastruktur dan water, serta Wika Bitumen. Agung menuturkan, Wika Bitumen membangun pabrik aspal dan diharapkan mulai produksi pada 2023.

"Khusus dirikan pabrik aspal supply aspal nasional pada 2023. Mulai 2021 (bangun pabrik-red) aspal buton, dan mulai produksi 2023. Bisnis line ini bekerja sama dengan INA adalah di bagian investasi, infra dan water, energi, pabrik  kami yang di bitumen,” kata dia.

Agung mengharapkan, INA akan menjadi tumpuan membangun infrastruktur lebih besar. Hal ini mengingat keterbatasan BUMN Karya dalam pendanaan.

"Rata-rata BUMN Karya terbatas pendanaan, sangat terbatas. Manfaatkan INA untuk kembali berpartisipasi untuk pembangunan infrastruktur ke depan sehingga bisa tetap perusahaan sehat, struktur keuangan lebih baik, dan bisa berkompetisi dengan proyek lebih besar," kata dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini