Sukses

Fenomena Investor Ritel Saham di AS Curi Perhatian, Bagaimana Indonesia?

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan saham GameStop disinyalir terjadi karena ada peran investor ritel. Bersatu melawan Wall Street, hal ini membuat pasar saham di Amerika Serikat (AS) sempat tertekan.

Melihat hal tersebut, Pengamat Pasar Modal dan Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, hal menarik yang terjadi karena para investor bisa melakukan short selling.

Transaksi short selling ini juga transaksi jual kosong. Jadi investor meminjam saham lalu menjualnya, dan sebenarnya belum memiliki saham itu. Investor tersebut menunggu hingga harga saham turun dalam lalu membelinya dengan harga lebih murah. Saham yang sudah dibeli kembali dikembalikan kepada pemiliknya. Investor mendapatkan untung dari selisih harga jual dan harga pembelian kembali saham itu.

"Jadi komunitas online yang ada di Amerika itu mereka berkumpul jutaan orang. Jadi mereka mengatakan yuk kita naikin yang namanya GameStop, ternyata mereka melihat ada beberapa yang melakukan short selling dari saham yanng sedang mereka naikin tadi," ujar dia kepada Liputan6.com.

Banyak pembelian membuat saham GameStop mengalami kenaikan tak wajar dan berpengaruh pada pergerakan saham di Amerika Serikat.

"Melihat hal ini, tentu advance enggak mau kalah, jadi mereka melawan itu dengan penjualan di saham yang lain, seperti Apple dan Facebook. Posisi duit cash yang ada dipakai untuk top up margin GameStop, hal ini membuat pasar Amerika turun ke bawah," ujar Hans.

 

2 dari 3 halaman

Investor Ritel Diminta Analisis Fundamental Saham

Saat disinggung hal ini mungkinkah dapat terjadi di Indonesia, Hans menyebut, pergerakan saham di sini sedikit berbeda. Hal ini terkait short selling yang dilakukan.

"Kalau di Indonesia mungkin ceritanya akan sedikit berbeda, pertama enggak ada short selling di pasar. Memang ada investor retail di Indonesia tapi sekarang sedang ikut banyak influencer," tuturnya.

Oleh karena itu, otoritas terkait tak berhenti mengingatkan investor untuk selalu memperhatikan lebih dulu saham yang hendak di beli agar tak mengalami kerugian.

"Otoritas cuma mengingatkan sebaiknya jangan hanya melihat aspek pergerakan harga dan likuiditas saja, tapi juga aspek fundamentalnya bagaimana," kata dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini