Sukses

Masuk Rantai Produksi Tesla, Saham ANTM dan TINS Justru Melemah

Liputan6.com, Jakarta - Setelah ditutup turun 3,13 persen menjadi Rp3.090 per lembar saham pada Kamis 21 Januari 2021, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali merosot Jumat (22/1/2021).

Dibuka dengan harga Rp3.090 per lembar, saham ANTM hingga pukul 12.00 WIB turun hingga 6,8 persen atau 210 poin menjadi Rp2.880 per lembar saham. Saham Antam sempat berada di level tertinggi Rp3.090 dan terendah 2.880 per lembar saham.

Seperti dilansir RTI, total nilai transaksi saham ANTM mencapai Rp2,51 triliun, sedangkan volume saham yang ditransaksikan mencapai 851.827.200 lembar.

Selain ANTM, penurunan saham juga terjadi pada PT Timah Tbk, hingga pukul 12.00 WIB, emiten berkode TINS ini terperosok hingga 6,36 persen atau 150 poin menjadi Rp 2.210 per lembar saham.

Total nilai transaksi saham TINS mencapai Rp367,63 miliar, sedangkan volume saham yang ditransaksikan mencapai 162.776.600 lembar. Saham Timah sempat berada di level tertinggi Rp2.390 dan terendah Rp2.200 per lembar saham.

Saham ANTM dan TINS merosot di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan. Pada penutupan sesi pertama, IHSG merosot 1,5 persen atau 96,02 poin ke posisi 6.317,86. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,67 persen ke posisi 994,33. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah.

Sebanyak 372 saham merah sehingga menekan IHSG. 111 saham menguat dan 124 saham diam di tempat. Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.428,49 dan terendah 6.312,81.

Total frekuensi perdagangan 939.630 kali dengan volume perdagangan 10,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,8 triliun. Investor asing lepas saham Rp 228,87 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.025.

10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham tambang merosot 3,53 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Diikuti sektor saham infrastruktur turun 2,62 persen dan sektor saham konstruksi melemah 2,41 persen.

 

2 dari 3 halaman

Penutupan IHSG pada Sesi I 22 Januari 2021

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada sesi pertama perdagangan saham Jumat, 22 Januari 2021. Hal ini seiring tekanan aksi jual investor asing.

Pada penutupan sesi pertama, IHSG merosot 1,5 persen atau 96,02 poin ke posisi 6.317,86. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,67 persen ke posisi 994,33. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah.

Sebanyak 372 saham merah sehingga menekan IHSG. 111 saham menguat dan 124 saham diam di tempat. Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.428,49 dan terendah 6.312,81. Total frekuensi perdagangan 939.630 kali dengan volume perdagangan 10,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,8 triliun. Investor asing lepas saham Rp 228,87 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.025.

10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham tambang merosot 3,53 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Diikuti sektor saham infrastruktur turun 2,62 persen dan sektor saham konstruksi melemah 2,41 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham GLOB naik 25 persen ke posisi Rp 270 per saham, saham CANI melonjak 24,41 persen ke posisi Rp 316 per saham, dan saham INCF mendaki 24,19 persen ke posisi Rp 77 p er saham. Selain itu, saham INPC melonjak 22,67 persen ke posisi Rp 92 per saham dan saham HDFA naik 20 persen ke posisi Rp 156 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham PPGL turun 9,8 persen ke posisi Rp 138 per saham, saham GHON susut 6,99 persen ke posisi Rp 1.730 per saham dan saham SGER merosot 6,95 persen ke posisi Rp 870 per saham.

Pada sesi pertama, sejumlah saham yang dilepas oleh investor asing antara lain saham TLKM sebanyak Rp 99,3 miliar, saham CPIN sebanyak Rp 45,1 miliar, saham BFIN sebanyak Rp 38,3 miliar, saham BBNI sebanyak Rp 28,3 miliar, dan saham UNTR sebanyak Rp 23,8 miliar.

Selain itu, investor asing membeli sejumlah saham antara lain saham BBCA sebanyak Rp 127,5 miliar, saham BBRI sebanyak Rp 71,4 miliar, saham BMRI sebanyak Rp 65,1 miliar, saham INTP sebanyak Rp 28 miliar, dan saham ASII sebanyak Rp 19,1 miliar.

Bursa saham Asia cenderung tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 1,5 persen, indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,32 persen, indeks saham Thailand susut 0,49 persen, indeks saham Shanghai merosot 0,72 persen, indeks saham Singapura turun 0,71 persen dan indeks saham Taiwan susut 0,46 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini