Sukses

Saham KAEF dan INAF Kembali Melemah Tajam pada Sesi I

Liputan6.com, Jakarta - Saham emiten farmasi kembali tertekan pada sesi pertama perdagangan saham Jumat, (22/1/2021). Bahkan saham emiten farmasi kena auto rejection bawah (ARB).

Pelemahan saham emiten farmasi juga terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan. Pada penutupan sesi pertama, IHSG merosot 1,5 persen atau 96,02 poin ke posisi 6.317,86. Indeks saham LQ45 merosot 1,67 persen ke posisi 994,33. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Sebanyak 372 saham melemah sehingga menekan IHSG. Sedangkan 111 saham menguat dan 124 saham diam di tempat. Total volume perdagangan 10,9 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 10,8 triliun. Investor asing jual saham Rp 228,87 miliar.

Saham farmasi yang melemah antara lain saham PT Indofarma Tbk  (INAF) tergelincir 6,94 persen ke posisi Rp 4.290 per saham. Total frekuensi perdagangan 5.007 kali dengan nilai transaksi Rp 32,8 miliar.

Saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) merosot 6,88 persen ke posisi Rp 2.570 per saham. Total frekuensi perdagangan 8.493 kali dengan nilai transaksi Rp 63 miliar. Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) susut 6,88 persen ke posisi Rp 4.470 per saham. Nilai transaksi Rp 114,6 miliar.

Lalu ada saham PT Phapros Tbk (PEHA) yang susut 6,53 persen ke posisi Rp 1.645 per saham. Nilai transaksi saham PEHA mencapai Rp 2,9 miliar. Saham PT Soho Global Health Tbk (SOHO) turun 6,39 persen ke posisi Rp 5.125 per saham. Nilai transaksi Rp 405,5 juta.

Mengutip berbagai sumber, auto rejection termasuk pembatasan minimum dan maksimum suatu kenaikan dan penurunan harga saham dalam jangka waktu satu hari perdagangan di bursa.

Sistem bursa akan menolak order jual atau beli yang masuk secara otomatis jika harga saham telah menembus batas atas dan bawah yang telah ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Auto rejection  untuk memastikan perdagangan saham berjalan wajar. Sementara itu, auto rejection bawah terjadi ketika harga saham turun signifikan.

2 dari 3 halaman

Penutupan IHSG pada Sesi Pertama 22 Januari 2021

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada sesi pertama perdagangan saham Jumat, 22 Januari 2021. Hal ini seiring tekanan aksi jual investor asing.

Pada penutupan sesi pertama, IHSG merosot 1,5 persen atau 96,02 poin ke posisi 6.317,86. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,67 persen ke posisi 994,33. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah.

Sebanyak 372 saham merah sehingga menekan IHSG. 111 saham menguat dan 124 saham diam di tempat. Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.428,49 dan terendah 6.312,81. Total frekuensi perdagangan 939.630 kali dengan volume perdagangan 10,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,8 triliun. Investor asing lepas saham Rp 228,87 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.025.

10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham tambang merosot 3,53 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Diikuti sektor saham infrastruktur turun 2,62 persen dan sektor saham konstruksi melemah 2,41 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham GLOB naik 25 persen ke posisi Rp 270 per saham, saham CANI melonjak 24,41 persen ke posisi Rp 316 per saham, dan saham INCF mendaki 24,19 persen ke posisi Rp 77 p er saham. Selain itu, saham INPC melonjak 22,67 persen ke posisi Rp 92 per saham dan saham HDFA naik 20 persen ke posisi Rp 156 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham PPGL turun 9,8 persen ke posisi Rp 138 per saham, saham GHON susut 6,99 persen ke posisi Rp 1.730 per saham dan saham SGER merosot 6,95 persen ke posisi Rp 870 per saham.

Pada sesi pertama, sejumlah saham yang dilepas oleh investor asing antara lain saham TLKM sebanyak Rp 99,3 miliar, saham CPIN sebanyak Rp 45,1 miliar, saham BFIN sebanyak Rp 38,3 miliar, saham BBNI sebanyak Rp 28,3 miliar, dan saham UNTR sebanyak Rp 23,8 miliar.

Selain itu, investor asing membeli sejumlah saham antara lain saham BBCA sebanyak Rp 127,5 miliar, saham BBRI sebanyak Rp 71,4 miliar, saham BMRI sebanyak Rp 65,1 miliar, saham INTP sebanyak Rp 28 miliar, dan saham ASII sebanyak Rp 19,1 miliar.

Bursa saham Asia cenderung tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 1,5 persen, indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,32 persen, indeks saham Thailand susut 0,49 persen, indeks saham Shanghai merosot 0,72 persen, indeks saham Singapura turun 0,71 persen dan indeks saham Taiwan susut 0,46 persen.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini