Laba Bersih PT Timah Tembus Rp 2,71 Triliun

Laba bersih PT Timah mencapai Rp 2,71 triliun pada semester I 2026, melampaui target setahun penuh sebesar Rp 1,61 triliun.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih Rp 2,71 triliun sepanjang semester I 2026. Capaian tersebut telah melampaui target laba bersih perseroan untuk setahun penuh sebesar Rp 1,61 triliun, atau mencapai 169% dari target 2026.

Lonjakan laba tersebut terjadi seiring pertumbuhan pendapatan dan membaiknya kinerja operasional. Hingga 30 Juni 2026, pendapatan PT Timah mencapai Rp 10,42 triliun, dibandingkan Rp 4,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk Restu Widiyantoro menjelaskan, peningkatan pendapatan ditopang kenaikan volume penjualan serta harga jual rata-rata logam timah di tengah tingginya harga komoditas tersebut di pasar global.

Sejalan dengan itu, laba usaha melonjak menjadi Rp 3,48 triliun dari Rp 380 miliar pada semester I 2025. "EBITDA juga mencapai Rp 3,90 triliun, naik 363% dibandingkan Rp 840 miliar pada periode yang sama tahun lalu," kata dia dikutip dari laman perseroan, Rabu (29/7/2026). 

Profitabilitas perseroan ikut menguat. Net profit margin meningkat menjadi 26,05% dari 7,11%, sedangkan operating margin mencapai 33,24% dari sebelumnya 9,01%.

Adapun return on assets (ROA) tercatat 16,50%, sedangkan return on equity (ROE) mencapai 25,74%.

 

Produksi Bijih Timah Naik 75%

Kinerja keuangan PT Timah turut ditopang peningkatan produksi. Sepanjang semester I 2026, produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik 75% dibandingkan periode sama 2025 sebanyak 6.997 ton Sn.

Kenaikan produksi didukung optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi, termasuk Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta tambang darat kemitraan.

Perseroan juga meningkatkan kegiatan eksplorasi melalui bor pandu agar penggalian lebih presisi sesuai blok Rencana Kerja. Di laut, PT Timah mengoptimalkan KIP, mengoperasikan Kapal Keruk Singkep 1, meningkatkan produktivitas PIP, serta mengoptimalkan fasilitas Sisa Hasil Pengolahan (SHP).

Produksi logam timah pun naik 58% menjadi 10.865 metrik ton Sn dari 6.870 metrik ton Sn.

Sementara itu, volume penjualan mencapai 10.984 metrik ton, tumbuh 85% dibandingkan 5.933 metrik ton pada semester I 2025.

Harga jual rata-rata logam timah juga meningkat 52%, dari US$ 32.816 menjadi US$ 49.794 per metrik ton.

Harga Timah Dunia Melonjak 56%

Penguatan kinerja PT Timah berlangsung ketika harga timah global berada pada level tinggi. Rata-rata Cash Settlement Price timah di London Metal Exchange (LME) mencapai US$ 50.319,19 per metrik ton sepanjang semester I 2026, naik 56,68% dibandingkan US$ 32.115,77 per metrik ton setahun sebelumnya.

Berdasarkan CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada semester I 2026 mencapai 173.536 ton, sedangkan konsumsinya sebesar 179.256 ton. Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih mengalami defisit pasokan.

Permintaan timah antara lain ditopang industri semikonduktor dan elektronik. Prospek konsumsi juga didukung perkembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan infrastruktur kelistrikan.

Di tengah kondisi tersebut, pasar ekspor menyumbang 97% penjualan logam timah PT Timah, sedangkan domestik sebesar 3%.

China menjadi tujuan ekspor terbesar dengan porsi 36%, disusul India 12%, Korea Selatan 11%, Singapura 6%, Belanda 5%, dan Italia 5%.

Dari sisi neraca, aset PT Timah mencapai Rp 16,45 triliun, dengan liabilitas Rp 5,90 triliun dan ekuitas Rp 10,55 triliun pada akhir Juni 2026.