Sukses

Analis Optimistis Sektor Otomotif Pulih pada 2021, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 yang terjadi tahun lalu membuat sektor otomotif mengalami dampak negatif, salah satunya terlihat dari penurunan penjualan sepanjang 2020.

Meski demikian, Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji yakin sektor otomotif akan membaik pada 2021 dibandingkan tahun lalu.

"Sebenarnya sektor otomotif trennya itu masih positif, tahun ini diperkirakan juga akan lebih baik dibandingkan tahun lalu," kata Nafan kepada Liputan6.com, Senin (18/1/20201).

Beragam sentimen positif diakui Nafan masih bisa meningkatkan sektor otomotif salam satu tahun ke depan, salah satunya pembangunan infrastruktur seperti jalan tol.

"Kalau dari pertumbuhan kredit, kita menunggu  kebijakan BI menjaga tingkat suku bunga yang rendah, lalu kebijakan pemerintah dalam meningkatkan stimulus serta pemerintah berkomitmen membangun infrastruktur secara terintergrasi dan juga merata," ujar dia.

Senada dengan Nafan, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee juga meyakini ada pertumbuhan di sektor otomotif sepanjang 2021.

"Mungkin bisa naik karena ekonomi mulai jalan meskipun covid masih naik. Orang juga mulai ekspansi bisnis, jadi mungkin bisa ada kenaikan dibandingkan tahun lalu, tapi belum bisa pulih benar-benar," kata dia.

Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales (pabrik ke dealer) hanya mencapai 532.027 unit.

Angka tersebut mengalami penurunan tajam dibanding 2019 yang berhasil mencatatkan  penjualan wholesales sebanyak 1.030.126 unit. Pada saat itu rata-rata penjualan mobil mencapai 80.000-90.000 unit per bulan.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Penutupan IHSG pada 18 Januari 2021

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuaktif hingga akhirnya ditutup di zona hijau pada perdagangan saham Senin, 18 Januari 2021.

Mengutip data RTI, IHSG menguat 16,42 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.389,83. Indeks saham LQ45 mendaki 0,96 persen ke posisi 998,25. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau. Sebanyak 195 saham menguat. Sementara itu, 304 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG dan 149 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 1.896.453 kali dengan volume perdagangan 35,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 23,6 triliun. Investor asing jual saham Rp 231,40 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap kisaran 14.133.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau. Sektor saham barang konsumsi naik 2,22 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham manufaktur mendaki 1,11 persen dan sektor saham aneka industri menguat 0,95 persen.

Sektor saham pertanian melemah 3,12 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Diikuti sektor tambang merosot 2,89 persen dan sektor saham industri dasar melemah 0,26 persen.

Saham-saham yang catat top gainers atau signifikan antara lain saham MTPS melonjak 34,53 persen ke posisi Rp 187 per saham, saham AIMS menanjak 33,33 persen ke posisi Rp 192 per saham, dan saham DEWA meroket 32,08 persen ke posisi Rp 70 per saham.

Saham-saham yang melemah antara lain saham ATIC merosot 6,99 persen ke posisi Rp 865 per saham, saham MEGA turun 6,98 persen ke posisi Rp 11.235 per saham, dan saham FPNI tergelincir 6,96 persen ke posisi Rp 294 per saham.

Bursa saham Asia sebagian besar melemah. Sementara itu, indeks saham Hang Seng naik 1,01 persen dan indeks saham Shanghai menguat 0,84 persen.

Sementara itu, indeks saham Korea Selatan Kospi tergelincir 2,71 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Diikuti, indeks saham Jepang Nikkei merosot 0,97 persen, indeks saham Thailand turun 0,84 persen, indeks saham Singapura tergelincir 0,63 persen dan indeks saham Taiwan melemah 0,03 persen.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini