Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso berharap neraca perdagangan kembali surplus pada Juni 2026 usai alami defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Hal ini seiring harga minyak dunia kembali turun.
Demikian disampaikan merespons Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Realisasi tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang berlangsung sejak Mei 2020.
"Ya mudah-mudahan bulan depan sudah normal lagi ya, mudah-mudahan karena harga minyak kan sudah mulai turun," ujar Budi, dikutip dari Antara, Kamis (9/7/2026).
Advertisement
Ia mengatakan, defisit yang terjadi dipicu tingginya harga minyak dunia yang berdampak pada peningkatan nilai impor migas.
Sehingga, lonjakan harga minyak pada Maret hingga April masih memberikan dampak terhadap neraca perdagangan pada Mei 2026.
"Ya Maret sampai April harga itu lagi puncak-puncaknya. Jadi sebenarnya karena faktor harga minyak yang sangat tinggi. Karena nonmigas kita surplus US$ 2,15 miliar. Tapi defisit migas kita cukup tinggi US$ 3,7 miliar," jelas Budi.
Budi menyebut secara keseluruhan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih berada dalam kondisi yang positif.
Jika dilihat secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$ 4,01 miliar dolar Amerika Serikat.
"Jadi hanya bulan Mei saja, tapi Januari-Mei secara kumulatif tetap surplus dan ekspornya tetap naik," kata Budi.
Budi berharap, kondisi tersebut hanya bersifat sementara karena harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan.
Purbaya: Lonjakan Impor Migas Picu Defisit Neraca Dagang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5383135/original/032012200_1760622391-IMG_8063.jpeg)
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, defisit neraca dagang yang terjadi belakangan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya nilai impor minyak dan gas (migas) seiring kenaikan harga energi dunia.
Purbaya mengatakan, Indonesia sebenarnya telah menikmati surplus neraca dagang selama beberapa tahun terakhir. Dia menuturkan, kondisi tersebut baru berubah ketika nilai impor migas melonjak.
“Karena itu, kita impor migas, (ketika) harganya naik,” kata Purbaya kepada wartawan, Rabu malam, 1 Juli 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertama kalinya neraca dagang defisit setelah mengalami surplus dagang selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Terakhir, neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$ 89,1 juta pada April 2026.
Purbaya menyebut, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada periode Januari-Mei 2026 masih tercatat surplus US$ 4,03 miliar. Angka ini ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar, sementara komoditas migas masih defisit US$ 12,28 miliar.
Ia mengaku, belum menelaah secara rinci komponen impor gas yang turut memengaruhi neraca dagang. Namun, ia memastikan kenaikan impor energi menjadi faktor utama yang mendorong perubahan dari surplus menjadi defisit.
Selain menyoroti neraca dagang, Purbaya juga menanggapi perkembangan inflasi. Menurut dia, kenaikan harga sejumlah komoditas masih dipengaruhi faktor musiman sehingga tekanan inflasi diperkirakan akan mereda.
Purbaya optimistis penurunan harga minyak dunia secara bertahap akan mengurangi tekanan terhadap inflasi domestik.
“Saya berharap setelah harga minyak turun, tekanan terhadap inflasi juga akan berkurang secara bertahap mengikuti pergerakan harga minyak dunia,” ujarnya.
Advertisement
Setelah 6 Tahun, Tren Surplus Neraca Dagang Terhenti pada Mei 2026
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3617292/original/050967500_1635503925-20211029-Neraca-perdagangan-RI-alamai-surplus-ANGGA-4.jpg)
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Catatan ini membuat tren surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 akhirnya terhenti.
"Pada Mei 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Rabu (1/7/2026).
Ateng menyampaikan, defisit pada Mei 2026 terutama disebabkan oleh neraca perdagangan komoditas minyak dan gas bumi (migas) yang minus US$ 3,76 miliar. Penyumbang defisit terbesar dari komoditas migas berasal dari hasil minyak dan minyak mentah.
"Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus US$ 2,15 miliar. Komoditas penyumbang utama surplus ini adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, serta besi dan baja," jelasnya.
Menurut data BPS, total nilai ekspor Mei 2026 tercatat sebesar US$ 23,20 miliar, turun 5,73 persen jika dibandingkan dengan Mei 2025. Penurunan nilai ekspor secara tahunan ini didorong oleh melesunya kinerja ekspor migas maupun nonmigas.
Ekspor migas tercatat sebesar US$ 0,76 miliar atau turun 31,76 persen. Sementara itu, nilai ekspor nonmigas mengalami penurunan 4,50 persen menjadi US$ 22,45 miliar pada Mei 2026.
Di sisi lain, angka impor melonjak hingga 22,16 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY) pada Mei 2026. Rinciannya, impor migas menyentuh US$ 4,51 miliar (meningkat pesat 70,78 persen) dan impor nonmigas mencapai US$ 20,30 miliar (naik 14,69 persen).
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5532976/original/075889100_1773717683-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-17T102114.591.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291655/original/029171400_1783572083-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T113921.353.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521751/original/013226700_1772699286-1000252434.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288984/original/089270000_1783373925-063_2284950359-Spanyol_vs_Portugl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4261477/original/074496300_1671047490-AP22348710214768.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288261/original/009625500_1783308426-eng4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4251091/original/011186900_1670306483-latihanspanyol2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288083/original/090522600_1783298244-nor10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259009/original/093710600_1781434062-gabriel_magalhaes_ismael_saibari_brasil_maroko_ap_matt_slocum.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339733/original/047775700_1757121903-MAROKO_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710894/original/015901700_1782791233-000_B8QK288.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4803210/original/041541900_1713259102-20240416-Pelemahan_Mata_Uang_Rupiah-MER_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1605838/original/010061000_1495793906-20170526-Ekspor-Impor-AY3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291090/original/060643400_1604902998-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-4.jpg)