BRIN Dorong Kajian Ilmiah Perkuat Regulasi Produk Tembakau Alternatif

Perkembangan produk tembakau alternatif perlu diikuti riset berkelanjutan agar regulasi dapat disusun berdasarkan tingkat risiko dan bukti ilmiah.

Diterbitkan 09 September 2025, 20:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Anugerah Widianto menilai perkembangan produk tembakau alternatif perlu diikuti dengan penguatan riset ilmiah.

Kajian yang semakin beragam dinilai penting untuk memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai karakteristik dan profil risiko setiap produk.

Menurut Anugerah, pendekatan berbasis risiko perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun regulasi terhadap perkembangan produk tembakau dan inovasi di sektor tersebut.

"Regulasi yang disusun berdasarkan tingkat risiko produk dan didukung oleh kajian ilmiah yang kuat akan menjadi fondasi yang penting dalam pengelolaan industri hasil tembakau di masa depan," ujar Anugerah.

Ia mengatakan, semakin banyak penelitian dilakukan dengan metode dan parameter yang beragam, semakin luas pula basis bukti ilmiah yang tersedia. Data tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi konsumen maupun pembuat kebijakan dalam memahami karakteristik berbagai produk tembakau alternatif.

"Makin banyak penelitian yang dilakukan, makin lengkap pula informasi yang tersedia untuk membantu konsumen dan pembuat kebijakan memahami karakteristik serta profil risiko berbagai produk tembakau alternatif, termasuk produk tembakau yang dipanaskan," tuturnya.

Anugerah juga menilai dialog antara pemerintah, industri, akademisi, peneliti, dan masyarakat perlu terus diperkuat. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar pembahasan mengenai inovasi di sektor tembakau tidak hanya didasarkan pada satu perspektif.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah munculnya berbagai penelitian yang mengkaji produk tembakau alternatif, termasuk produk tembakau yang dipanaskan atau heated tobacco product (HTP).

 

Ukur Perubahan Kualitas Udara

Salah satunya penelitian dari Jepang berjudul Effect of the Use of a Heated Tobacco Product on Indoor Air Quality in Environmentally-Controlled Chamber. Penelitian yang dilakukan Katsunari Fujisawa dan tim tersebut mengukur perubahan kualitas udara dalam ruangan ketika HTP digunakan.

Dalam penelitian itu, sebanyak 56 parameter kualitas udara diukur pada ruang uji yang dibuat menyerupai kondisi restoran dan hunian. Parameter yang diamati antara lain karbon monoksida, karbon dioksida, senyawa organik volatil, partikulat, logam, amonia, propilen glikol, dan gliserol.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan produk tembakau yang dipanaskan hanya menyebabkan peningkatan pada sebagian kecil parameter kualitas udara. Dari 56 parameter yang diukur, enam parameter meningkat pada kondisi yang menyerupai restoran, sedangkan sembilan parameter lainnya meningkat pada kondisi yang menyerupai hunian," tulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Aerosol and Air Quality Research pada 9 April 2026.

Penelitian tersebut juga membandingkan konsentrasi parameter yang mengalami peningkatan dengan batas paparan yang ditetapkan sejumlah lembaga kesehatan dan keselamatan kerja di Jepang serta Amerika Serikat.

”Untuk parameter-paramater yang meningkat secara signifikan, dapat dikonfirmasi bahwa konsentrasinya masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan berbagai lembaga publik. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan juga memperoleh pemahaman yang lebih akurat mengenai dampak produk tembakau yang dipanaskan terhadap kualitas udara dalam ruangan (IAQ), serta menjadikannya sebagai data dasar untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan lebih baik,” tulis peneliti.

Temuan tersebut menjadi bagian dari semakin banyaknya kajian ilmiah mengenai produk tembakau alternatif. Bagi Anugerah, bertambahnya penelitian dapat membantu memperkaya informasi yang dibutuhkan untuk memahami karakteristik dan profil risiko produk secara lebih menyeluruh.

Dengan basis bukti yang semakin kuat, regulasi diharapkan tidak hanya merespons perkembangan teknologi dan perubahan preferensi konsumen, tetapi juga mempertimbangkan tingkat risiko masing-masing produk berdasarkan kajian ilmiah.