Jaket Bulu Angsa Jadi Ladang Cuan Saat Musim Liburan

Bisnis penyewaan jaket bulu angsa ramai menjelang liburan akhir tahun. Permintaan naik, tetapi pengusaha menghadapi tantangan biaya perawatan dan daya beli.

Diterbitkan 06 November 2026, 21:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta masih mengukus dalam cuaca panas. Namun di sudut-sudut kota, barisan jaket bulu angsa (down jacket) dan mantel panjang berderet rapi di atas rak. Kain-kain tebal itu menggantung bisu, menunggu giliran diboyong terbang ke Tokyo, Seoul, hingga Helsinki, sebelum akhirnya kembali pulang membawa sisa hawa dingin di kantongnya.

Menjelang penutup tahun, saat kalender liburan makin dekat, bisnis penyewaan busana musim dingin (winterwear) memasuki periode paling sibuk. Namun di balik riuh permintaan yang melonjak, para pemilik usaha menyimpan cerita lain, yaitu mahalnya perawatan, risiko barang rusak atau raib, hingga kondisi kantong pelancong yang kini tak selonggar dulu.

Bagi Vina (34), pemilik @keranjangwinter, ritme bisnis ini sangat jelas. Keramaian selalu datang pasca-November hingga Desember. "Begitu puncak musim libur tiba, lonjakannya sangat terasa. Omzet bisa naik sekitar 200 persen dengan rata-rata lima transaksi per hari dan durasi sewa standar tujuh hari," ujar Vina kepada Liputan6.com, Jumat (6/11/2026).

Pola senada dirasakan Riani, pemilik @4rentjkt. Kesibukan di tempatnya bahkan sudah menggeliat sejak akhir Oktober dan bakal mencapai puncaknya hingga Januari.

Menariknya, tren tujuan liburan kini mulai bergeser. Vina mencatat mayoritas pelanggannya bertolak ke Jepang, China, dan Korea Selatan, disusul sebagian kecil ke Eropa dan Amerika Serikat. Sementara Riani melihat destinasi anyar seperti Rusia dan Finlandia kini mulai dilirik, mendampingi favorit lama seperti Korea dan Jepang.

Soal gaya, karakter pelancong Indonesia punya satu pola konsisten: tetap ingin tampil modis. "Mostly orang Indonesia cari yang fashionable. Nggak suka yang bulky (kelihatan kebesaran atau tebal kaku)," tutur Riani.

Pilihan baju pun menyesuaikan suhu. Untuk dingin ekstrem, long padding jadi perburuan utama. Sedangkan saat musim gugur atau semi, mantel tipis jadi pilihan. Di tempat Vina, merek populer seperti Zara, Mango, hingga Marks & Spencer menjadi item yang paling cepat ludes disewa.

 

Hitungan Logis di Balik Baju Sewaan

Namun bagi Adito (38), urusan merek berada di urutan sekian. Pria bertubuh tinggi besar ini mengenakan kaus ukuran XL hingga XXL, sehingga ketersediaan ukuran jauh lebih krusial dibanding label di kerah baju.

"Kalau ada ukurannya, mau merek tier 2, 3, atau 4 pun it's okay. Saya percaya diri sama apa yang saya pakai," kelakar Adito.

Urusan warna, ia lebih luwes. Meski warna dasar seperti hitam dan abu-abu terasa aman, Adito tak ragu memilih warna terang seperti merah, kuning, atau ungu saat melangkah di atas salju. Namun untuk kelengkapan, ia membatasi diri hanya menyewa outerwear. "Aku nggak suka perintilan seperti sepatu atau sarung tangan, berat," tambahnya.

Bagi Adito, menyewa baju bukan soal gengsi, melainkan kalkulasi finansial yang masuk akal. Karena tak pergi ke luar negeri saban bulan, membeli jaket tebal yang hanya terpakai sekali-dua kali terasa amat konsumtif.

"Aku anaknya suka ganti-ganti baju. Mau sehari pakai ini, besok pakai itu. Kalau beli semua kan mahal ya," tutur Adito yang terakhir menyewa baju untuk perjalanan ke Korea dan Turki pada 2025 lalu.

"Misalnya punya uang Rp 1,2 juta. Kalau beli cuma dapat satu baju dan belum tentu cocok. Tapi kalau menyewa, bisa dapat tiga baju berbeda. Minimal ada foto liburan yang bervariasi," lanjutnya.

Tarif sewa di pasaran memang tergolong masuk akal. Di @keranjangwinter, sewa mantel atau jaket dibanderol Rp 250.000 hingga Rp 500.000 untuk tujuh hari, rompi Rp 150.000, dan aksesori Rp 50.000. Sementara di @4rentjkt, tarif jaket dimulai dari Rp 200.000 hingga Rp 500.000 untuk durasi minimal sepekan.

 

Risiko Bisnis Musiman dan Tekanan Ekonomi

Meski terlihat manis, bisnis ini menyimpan tantangan berat. Sifatnya yang sangat musiman membuat perputaran uang hanya deras di akhir tahun.

Selain itu, biaya pemeliharaan (maintenance) menuntut alokasi anggaran yang tak sedikit. Setiap jaket wajib dicuci dengan perlakuan khusus sesuai bahan, dan ruang penyimpanan harus dijaga suhunya agar kain tidak cepat rusak.

"Risiko barang rusak atau hilang juga cukup tinggi. Karena itu, kami fokus membenahi sistem back-end, mulai dari komunikasi awal, pemesanan, hingga barang kembali," kata Vina.

Untuk menjaga kualitas, baik Vina maupun Riani menolak sistem konsinyasi atau barang titipan. Vina membeli stok langsung dari jaringan ritel resmi, sementara Riani mengurasi sendiri koleksinya dengan berburu langsung ke Korea dan Jepang.

Di luar masalah operasional, Riani menggarisbawahi tantangan yang lebih dalam: melemahnya daya beli masyarakat. "In this economy, banyak WNI yang fleksibilitas traveling-nya makin terbatas. Ini cukup berdampak pada bisnis penyewaan," aku Riani yang telah merintis usaha ini sejak 2016.

Pernyataan Riani sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri pada September 2026 tercatat sebanyak 600.605 perjalanan, turun 6,69% dibanding Agustus 2026.

Tekanan ekonomi ini pun diamini oleh Adito. Meski rindu ingin menginjakkan kaki lagi di Korea, ia memilih menahan diri. "Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, lebih baik tidur di rumah daripada jalan-jalan," cetusnya jujur.

Musim dingin di belahan bumi utara akan terus datang, dan jaket-jaket di rak Jakarta akan tetap siap untuk disewa.Namun di tengah perubahan tren dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya hangat, satu pertanyaan tersisa: sejauh mana para pelancong Ibu Kota sanggup terus terbang menyusulnya?

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6