Liputan6.com, Jakarta - Rasa lega akhirnya terasa setelah perjalanan panjang Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) berakhir. Bus yang membawa rombongan warga Pati dari Jakarta tiba dengan selamat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Jumat, 28 Agustus 2026.
Namun, kepulangan itu tidak sekadar menjadi akhir dari perjalanan mereka. Ada cerita tentang ketegangan selama berada di Jakarta, pengamanan dari para pengemudi ojek online (ojol), hingga polemik yang muncul setelah aksi di depan Gedung DPR.
Pentolan AMPB, Supriyono alias Botok, mengaku plong setelah kembali ke kampung halaman. Perasaan itu muncul setelah melalui perjalanan dari Pati menuju Jakarta dan kembali lagi, di tengah tekanan serta situasi yang menurutnya penuh ketegangan.
Advertisement
“Alhamdulillah, ya plong. Karena sejak perjalanan dari Pati sampai Jakarta, pertama kali sampai hari ini banyak sekali intimidasi, intervensi. Ya plong lah istilahnya bisa melewati perjalanan yang sangat menegangkan,” ujar Botok saat ditemui Liputan6.com.
Botok rupanya tidak langsung meninggalkan Jakarta bersama rombongan. Ia memilih tetap berada di Ibu Kota untuk memastikan warga Pati yang mengikuti aksi telah meninggalkan Jakarta dan memulai perjalanan pulang dengan aman.
Selama menunggu, Botok terus berkoordinasi dengan para koordinator lapangan (korlap) dari Pati yang bertanggung jawab terhadap masing-masing bus.
“Saya standby Jakarta. Saya kontak sama teman-teman yang korlap dari Pati, yang per bus. Saya pulang kalau teman-teman sudah pulang semua. Itu saya pantau sampai sekitar menjelang Maghrib. Ternyata sudah clear semua, saya monitor sudah pulang semua, baru saya persiapan untuk pulang Pati,” terang Botok.
Setelah seluruh rombongan dipastikan bergerak menuju Pati, ia pun bersiap meninggalkan Jakarta.
Kepulangan Botok sekaligus menjadi kesempatan bagi AMPB untuk meluruskan persoalan yang muncul setelah aksi di Gedung DPR, khususnya terkait kekecewaan sejumlah pengemudi ojol.
Salah seorang pengemudi ojol perempuan sebelumnya mengaku kecewa karena AMPB disebut langsung meninggalkan lokasi setelah masuk ke Gedung DPR. Botok menilai pernyataan tersebut tidak bisa dianggap mewakili seluruh komunitas ojol.
“Ya, apa yang disampaikan oleh ibu-ibu ojol itu saya kira tidak mewakili dari semua elemen ojol,” terang Botok setiba di rumahnya di Kecamatan Margorejo, Pati.
Menurutnya, justru para pengemudi ojol memiliki peran penting dalam membantunya keluar dari situasi yang memanas di sekitar Gedung DPR.
“Waktu situasi tidak kondusif kemarin, yang menyelamatkan saya itu ojol,” katanya.
Dievakuasi Ojol
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335298/original/076815800_1787960775-IMG-20260829-WA0003.jpg)
Botok kemudian menceritakan kembali momen ketika situasi di sekitar Gedung DPR semakin tidak kondusif.
Setelah menyampaikan hasil audiensi dari atas mobil komando, ia diminta turun. Sejumlah pengemudi ojol kemudian mengevakuasinya dari lokasi dan membawanya ke tempat yang lebih aman.
“Setelah saya menyampaikan hasil dari audiensi, dari teman-teman ojol saya disuruh turun, terus saya dievakuasi dari lokasi, dikeluarkan, dimasukkan ke bus, terus dikawal. Kita dibawa menjauh dari DPR untuk diistirahatkan di tempat evakuasi,” jelas Botok.
Kondisi tersebut, menurut Botok, pula yang membuat dirinya tidak dapat berpamitan secara leluasa kepada para pengemudi ojol sebelum meninggalkan kawasan DPR.
Ia membantah anggapan bahwa dirinya sama sekali tidak berpamitan.
“Ini sudah berpamitan kemarin itu. Cuma mungkin karena situasi tidak kondusif, mungkin saya belum selesai sudah ditarik-tarik untuk turun dari mobil komando untuk segera turun karena memang situasi pokoknya tidak kondusif,” ungkapnya.
Advertisement
Di Tengah Tekanan dan Intimidasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335300/original/010881500_1787960776-IMG-20260829-WA0000.jpg)
Cerita tentang situasi menegangkan selama berada di Jakarta juga disampaikan pentolan AMPB lainnya, Teguh Istiyanto.
Menurut Teguh, rombongan AMPB menghadapi berbagai tekanan sejak sebelum keberangkatan maupun selama berada di Jakarta. Ia bahkan menyebut adanya ancaman terhadap pihaknya.
“Sebelumnya kan kami banyak tekanan-tekanan, banyak ancaman, banyak intimidasi. Bahkan ada rencana mau menghilangkan kami dan menculik kami. Itu ada,” ungkap Teguh.
Dalam kondisi tersebut, keberadaan para pengemudi ojol disebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan AMPB selama berada di Jakarta.
Teguh memberikan apresiasi khusus kepada para pengemudi ojol yang menurutnya telah memberikan dukungan kepada rombongan AMPB.
“Ini yang paling berjasa itu adalah teman-teman dari ojol. Jadi kami selalu koordinasi dengan teman-teman ojol. Yang membuat kami bisa seperti ini, ini teman-teman ojol. Tanpa ojol kita tidak bisa,” tegasnya.
Bagi Teguh, kedekatan tersebut membuat para pengemudi ojol bukan sekadar pihak yang memberikan dukungan selama aksi. Ia menyebut mereka sebagai saudara AMPB.
“Dan bagi kami, teman-teman ojol itu adalah saudara kami,” imbuh Teguh.
Atas nama pribadi, AMPB, dan masyarakat Pati, Teguh pun menyampaikan terima kasih kepada para pengemudi ojol.
Di sisi lain, Teguh memahami apabila ada pihak yang merasa kecewa terhadap langkah AMPB selama berada di Jakarta. Menurutnya, tingginya ekspektasi tersebut tidak lepas dari pemberitaan dan euforia yang berkembang di media sosial.
“Kami menghormati dan kami memaklumi (kekecewaan warga). Ini mungkin efek dari medsos bahwa kami ini dianggap aktivis yang akan berhasil. Ini efek dari meninggikan kami,” jelasnya.
Teguh menekankan bahwa AMPB pada dasarnya merupakan gerakan masyarakat di tingkat kabupaten. Dengan posisi tersebut, ia mengakui terdapat keterbatasan ketika harus memperjuangkan tuntutan dalam lingkup nasional.
“Terlalu berharap banyak kepada kami, sedangkan kami itu tingkatnya kabupaten. Dengan euforia di medsos itu seolah-olah kami bisa mengakhiri atau memperjuangkan semuanya,” tandasnya.
2 Tuntutan AMPB di Jakarta
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335301/original/003748200_1787960777-IMG-20260829-WA0005.jpg)
Teguh mengatakan keberangkatan AMPB ke Jakarta sejak awal memiliki fokus yang jelas, yakni menyuarakan dua tuntutan: perampasan aset dan hukuman mati.
“Kami hanya sekadar untuk memperjuangkan perampasan aset dan untuk hukuman mati. Dan kami juga sudah tahu bahwa kami itu tidak bisa maksimal,” terangnya.
Ia menyadari perjuangan tersebut memiliki keterbatasan, terlebih AMPB merupakan gerakan yang berasal dari masyarakat biasa di tingkat daerah.
Karena itu, Teguh berharap masyarakat dapat menempatkan perjuangan AMPB secara proporsional dan tidak membebani mereka dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.
Di penghujung keterangannya, Teguh menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan pihak-pihak yang merasa kecewa terhadap langkah AMPB selama berada di Jakarta.
Ia menegaskan tidak pernah ada niat untuk mengecewakan siapa pun.
“Kami haturkan mohon maaf telah membuat kecewa banyak pihak. Tapi intinya kami tidak berniat dengan sengaja membikin kecewa, tidak. Itu kemarin adalah maksimal yang kami bisa perjuangkan dengan latar belakang kami yang warga biasa,” ucapnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334903/original/053454000_1787904698-HOAX__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335179/original/068083900_1787917398-cek_fakta_menko.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334946/original/033690300_1787906817-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335299/original/088943500_1787960775-IMG-20260829-WA0001.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334187/original/067276600_1787823684-IMG_7348.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335200/original/025382400_1787919588-Tugas__50_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334852/original/058309500_1787900928-87563.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4046274/original/012711800_1654671962-Peluncuran-bus-listrik-Transjakarta-IMAM-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334414/original/008871400_1787841235-WhatsApp_Image_2026-08-27_at_21.29.03__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334413/original/093314100_1787841234-WhatsApp_Image_2026-08-27_at_21.29.03.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333748/original/059918500_1787805818-IMG_6790.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328556/original/012435800_1787200039-IMG_3234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334014/original/093402700_1787817482-WhatsApp-Image-2026-08-27-at-12.55.23_edited.jpg)