Anak dan Ibu Memecah Tabungan Rindu setelah 10 Tahun Tak Bertemu

Nyaris 10 tahun terpisah, PMI Yuni Lestari akhirnya bertemu ibunya di Taiwan melalui program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI”.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 09:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suasana penuh haru menyelimuti momen Festival Budaya di New Taipei City, Taiwan, pada Minggu (23/8/2026). Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Yuni Lestari (34) yang nyaris sepuluh tahun terpisah dari keluarga akhirnya bertemu sang ibu, Suyati (54). Ibunda Yuni datang langsung dari Pati, Jawa Tengah. Pertemuan ibu dan anak itu merupakan fasilitasi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI”.

Kisah Yuni sebagai PMI berawal dari satu dekade lalu. Saat itu sang ayah mengalami kecelakaan dan membuatnya tak memungkinkan lagi bekerja, padahal ia merupakan tulang punggung keluarga. Kondisi ekonomi keluarga yang limbung membuat Yuni akhirnya membulatkan tekad berangkat ke Taiwan. Perjalanan karier Yuni di Taiwan juga tak mulus. Ia beberapa kali menghadapi beban pekerjaan yang terlalu berat.

“Perjalanan saya sebagai PMI diwarnai berbagai tantangan. Dalam beberapa pekerjaan sebelumnya, saya sempat menghadapi beban kerja yang cukup berat. Saya sangat tidak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan ibu saya. Terima kasih BRI dan Pak Hery Gunardi (Direktur Utama BRI, red),” ungkap Yuni dengan mata berkaca-kaca, Minggu (23/8/2026).

Momen Berharga

Selama nyaris 10 tahun di perantauan, Yuni menahan rindu terhadap keluarganya di Tanah Air agar bisa mengumpulkan banyak uang. Ia menahan diri tidak pulang karena biaya yang dibutuhkan untuk pulang-pergi Indonesia-Taiwan jelas tidak sedikit. Maka pertemuan di New Taipei City itu adalah momen memecahkan celengan rindu yang sudah penuh.

Suyati pun menyampaikan terima kasih serta mengapresiasi BRI dan Direktur Utama BRI Hery Gunardi karena telah mempertemukannya langsung dengan Yuni di Taiwan.

“Saya tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan ini. Terima kasih kepada Bapak Direktur Utama BRI Hery Gunardi dan seluruh tim BRI yang sudah membantu saya hingga bisa bertemu dengan anak saya di Taiwan. Semoga teman-teman yang sedang berjuang jauh dari keluarga juga selalu diberikan semangat,” ungkap Suyati, dikutip dari rilis pers resmi BRI.

Tak hanya memboyong sang ibu ke Taiwan untuk dipertemukan dengannya, BRI juga memfasilitasi tiket perjalanan Taiwan-Indonesia kepada Yuni. Bagi Yuni, kesempatan pulang ke Indonesia bukan perjalanan biasa, tetapi momentum Istimewa kembali berkumpul dengan keluarga.

Teman Seperjuangan BRI

Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI” adalah upaya BRI membangun kedekatan dengan komunitas PMI. Menurutnya, kontribusi besar PMI bagi keluarga di Tanah Air perlu diiringi dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka selama bekerja di luar negeri.

“Bagi BRI, PMI merupakan teman seperjuangan yang bekerja keras membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga di Tanah Air. Oleh karena itu, kami ingin kehadiran BRI dapat dirasakan lebih dekat, bukan hanya melalui layanan finansial, tetapi juga melalui perhatian terhadap perjalanan dan kebutuhan mereka,” jelasnya.

Program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI” berupaya membangun hubungan lebih dekat dengan PMI saat mereka bekerja dan menghasilkan remitansi untuk Indonesia, hingga sepanjang perjalanan menyiapkan masa depan.

“BRI mendorong agar penghasilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri dapat dikelola lebih produktif melalui peningkatan literasi keuangan, tabungan, investasi, kepemilikan aset, hingga persiapan modal usaha dan pengembangan keterampilan. Dengan dukungan ekosistem BRI yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia, PMI diharapkan kembali ke Tanah Air bukan hanya membawa hasil dari bertahun-tahun bekerja, tetapi juga memiliki bekal finansial, keterampilan, dan kesiapan membangun sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi diri sendiri dan keluarganya,” tandas Dhanny.

Reporter: Rizka Nur Laily Muallifa

Artikel ini dipublikasikan sebagai bagian dari karya jurnalistik dalam program BRI Fellowship Journalism.