BRI Perkuat Pemberdayaan Diaspora Indonesia di Taiwan, Dorong PMI Lebih Berdaya

BRI memperkuat pemberdayaan diaspora Indonesia di Taiwan melalui BRImo, layanan keuangan, literasi, dan pelatihan kewirausahaan bagi PMI.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 10:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Taiwan - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat dukungannya bagi diaspora Indonesia yang tinggal dan bekerja di luar negeri. Tidak hanya menyediakan layanan finansial, BRI juga mendorong pemberdayaan diaspora, khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI), agar mampu mengelola penghasilan secara lebih produktif.

Melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), literasi keuangan, serta pengembangan keterampilan kewirausahaan, BRI mendorong PMI memanfaatkan penghasilan dan remitansi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari memenuhi kebutuhan keluarga, membangun tabungan, investasi, aset, hingga menyiapkan modal usaha di Indonesia.

Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui peluncuran BRImo Taiwan di New Taipei City Hall, Minggu (23/8/2026). Kehadiran BRImo Taiwan memungkinkan diaspora Indonesia di negara tersebut mengakses beragam kebutuhan finansial dalam satu aplikasi, mulai dari transaksi sehari-hari hingga pengiriman dana ke Indonesia.

Peluncuran layanan tersebut melanjutkan penguatan ekosistem BRI di Taiwan setelah sebelumnya BRI menghadirkan BRI Taipei Branch. Dalam waktu satu tahun sejak penguatan kehadiran melalui cabang tersebut, total aset BRI Taipei telah mencapai lebih dari US$408 juta.

Hingga akhir Juli 2026, nilai transaksi remitansi Taiwan-Indonesia melalui BRI tercatat mencapai sekitar US$490 juta. BRI juga telah melayani lebih dari 3.400 rekening.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, kehadiran BRI di Taiwan merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas finansial yang semakin kuat antara diaspora Indonesia di Taiwan dengan Indonesia.

“Kehadiran BRI di Taiwan bukan semata tentang membuka kantor atau menghadirkan layanan digital. Ini adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan. Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial diaspora di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan finansial di Indonesia,” ungkap Dhanny.

Taiwan sendiri menjadi salah satu wilayah penting dalam ekosistem diaspora Indonesia. Berdasarkan data KDEI yang digunakan BRI, terdapat sekitar 360 ribu PMI di Taiwan.

Sementara itu, data Bank Indonesia menunjukkan nilai remitansi PMI dari Taiwan mencapai sekitar US$2,97 miliar pada 2025. Jika dikonversikan menggunakan kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS, nilainya setara kurang lebih Rp47-48 triliun.

Nilai remitansi tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelumnya yang mencapai US$1,37 miliar pada 2021.

Besarnya arus dana tersebut mencerminkan tingginya aktivitas finansial PMI sekaligus peran penghasilan mereka dalam menopang kebutuhan keluarga di Indonesia. Karena itu, BRI mendorong agar pendapatan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri tidak hanya digunakan untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga dikelola secara terencana untuk membangun tabungan, investasi, aset, dan modal usaha sebagai bekal masa depan.

Untuk mendukung perjalanan tersebut, BRI menghadirkan ekosistem layanan yang menjangkau kebutuhan PMI sejak masa pra-keberangkatan, selama bekerja di negara penempatan, hingga tetap terhubung dengan keluarga di Indonesia.

Konektivitas tersebut didukung oleh berbagai layanan BRI, termasuk BRImo, BritAma, serta jaringan BRILink Agen. Beragam layanan tersebut memudahkan keluarga di Indonesia untuk menerima sekaligus mengelola dana yang dikirimkan dari luar negeri.

Dari Mengelola Penghasilan hingga Membangun Usaha di Taiwan

Lebih jauh, BRI mendorong agar penghasilan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri tidak hanya memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat menjadi fondasi masa depan. Salah satu gambarannya tercermin dari perjalanan Sri Purwanti, nasabah BRI asal Cilacap, Jawa Tengah, yang datang ke Taiwan sebagai PMI belasan tahun lalu yang disiplin menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit hingga berhasil mengumpulkan modal untuk merintis usaha kuliner halal.

“Waktu pertama kali jadi pekerja migran, mencari makanan halal itu luar biasa sulit. Dari situ saya berpikir, teman-teman pekerja lain pasti merasakan kesulitan yang sama. Saya bertekad menyisihkan sebagian penghasilan, menabung sedikit demi sedikit, dan belajar mengelola keuangan,” kenang Sri.

Usahanya kemudian berkembang menjadi Kedai Sri Rahayu di Zhongzheng District, Taipei. Perjalanan Sri menjadi salah satu gambaran bagaimana masa bekerja di luar negeri dapat membuka peluang ekonomi baru ketika penghasilan dikelola secara produktif serta keterampilan terus diasah.

Sejalan dengan semangat pemberdayaan PMI tersebut, BRI Peduli selaku payung dari aktivitas Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI terus memberikan dukungan nyata bagi PMI di Taiwan melalui “BRI Peduli Go Global PMI Entrepreneur Academy: Building Skills, Creating Opportunities”. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi 120 orang PMI di Taiwan untuk memperoleh pengalaman dan keterampilan praktis yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.

Melalui PMI Entrepreneur Connect yang dilaksanakan pada Sabtu (22/8/2026), peserta mendapatkan workshop dan praktik memasak masakan Taiwan bersama instruktur guna meningkatkan keterampilan mengolah kuliner hingga bisa dikembangkan untuk menjadi peluang usaha, baik selama berada di Taiwan maupun setelah kembali ke Indonesia.

BRI Dorong PMI Pulang dengan Keterampilan dan Jiwa Wirausaha

Sementara itu pada Minggu (23/8/2026), melalui pelaksanaan Beautypreneur Empowerment Workshop  yang mengusung konsep Beauty & Inclusivity, peserta mengikuti demonstrasi dan praktik tata rias bersama beauty trainer profesional untuk bisa memperoleh keterampilan tata rias yang dapat dikembangkan sebagai peluang usaha di industri kecantikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, BRI mendorong PMI untuk membangun pola pikir kewirausahaan yang memiliki nilai ekonomi, hingga menangkap peluang usaha yang dapat dikembangkan. Dengan demikian, pengalaman bekerja di luar negeri diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dalam bentuk penghasilan, tetapi juga menjadi proses peningkatan kapasitas untuk mempersiapkan masa depan yang lebih produktif.

Sifa, PMI asal Surabaya yang mengikuti kegiatan tersebut, mengatakan bahwa pengalaman yang diperolehnya memberikan perspektif baru mengenai peluang yang dapat dikembangkan setelah kembali ke Indonesia.

“Kegiatan ini mendorong kami sebagai PMI untuk menjadi lebih mandiri, kreatif, dan mampu melihat peluang yang dapat dikembangkan di Indonesia. Saya berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat menjadi modal untuk membangun usaha yang berkelanjutan dan meningkatkan perekonomian setelah kembali ke Tanah Air,” ungkap Sifa.

“Pada akhirnya, BRI ingin memastikan bahwa ketika para PMI kembali pulang ke Indonesia, mereka pulang dengan kehidupan yang lebih sejahtera. PMI diharapkan kembali dengan keterampilan, aset, dan kemampuan berwirausaha yang lebih kuat sehingga dapat memperkuat perekonomian dan menciptakan lapangan kerja,” pungkas Dhanny.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6