Sengkarut Desil: Mahasiswi Nyaris Putus Kuliah, Tukang Becak Desil 9

Banyak ditemukan persoalan dalam data desil kesejahteraan.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 09:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketidakuratan data desil menjadi ancaman dalam meraih cita-cita. Seorang mahasiswi di Surabaya bernama Diandrea Fristi nyaris putus kuliah karena data desilnya tiba-tiba berubah.

Harapan mahasiswi berprestasi semester tiga jurusan pendidikan guru sekolah dasar Universitas Negeri Surabaya itu untuk melanjutkan kuliah nyaris pupus, karena pengajuan beasiswa ekonominya ditolak akibat data desil yang tiba-tiba berubah.

"Pada semester 1 kan alhamdulillah IPK saya 4, saya berharap saya keterima (beasiswa), tapi ternyata tidak keterima. Terus akhirnya saya daftar lagi yang di semester 2, tapi IPK saya turun jadi 3,95. Alhamdulillah desil saya 2. cuma Tiba-tiba desilnya itu jadi 6 sampai 10," kata Diandrea. Dikutip dari Liputan6 SCTV, Rabu (26/8/2026).

Dia bingung, satu-satunya sumber pemasukan keluarga hanya dari sang ayah yang menjadi kuli galon air isi ulang di perkampungan Wonokromo Surabaya.

Keluarganya bahkan sempat berutang dan berjualan gantungan kunci untuk melunasi biaya kuliah sebesar Rp 4 juta karena dia gagal mendapat beasiswa.

Wali Kota Surabaya Armuji juga menyoroti persoalan ini. Menurutnya, nasib mahasiswi berprestasi terancam gara-gara desil yang tidak akurat.

"Karena kadang-kadang desil mereka hampir saja tidak bisa melanjutkan kuliah dan tidak bisa membayar uang semesteran. Di mana mereka memang anak yang tidak mampu. Ini cukup aneh. Di daftar DPS, mereka ini terdaftar sebagai karyawan, padahal mahasiswa semester 3. Kita avokasi supaya bisa mendapatkan suatu haknya yaitu mendapat beasiswa," tuturnya.

 

Sementara di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, seorang pengayuh becak tiba-tiba tercatat dalam desil kesejahteraan 9 saat anak bungsunya baru saja diterima di universitas.

Dia adalah Timbul. Pria usia 49 tahun ini biasa berkeliling kawasan Malioboro dengan penghasilan yang tidak menentu demi menghidupi kedua anaknya.

Sebagai orang tua tunggal dengan kondisi fisik terbatas, dia tidak mampu bekerja sepanjang hari. Untuk menambah pemasukan, Timbul juga memelihara ayam kampung di lahan rumahnya.

Timbul dibuat terkejut setelah tiba-tiba tercatat dalam desil kesejahteraan 9, padahal sebelumnya berada di desil 1.

Desil 9 adalah kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif tinggi, sedangkan desil 1 dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah atau miskin ekstrem.

Perubahan data kesejahteraan membuat beban Timbul semakin berat karena anak bungsunya diterima di Universitas Negeri Yogyakarta melalui jalur mandiri, sehingga biaya pendidikan harus ditanggung keluarga.

Timbul khawatir, tanpa perbaikan data akan berdampak pada bantuan sosial yang didapat keluarganya, sehingga anaknya tidak dapat melanjutkan kuliah.

"Harapan saya mudah-mudahan nanti dari pemerintah nanti bisa merubah data saya, dan nanti dari desil 9 itu bisa jadi desil 1 lagi," tuturnya.

Desil adalah pengelompokan tingkat kesejahteraan rumah tangga. Faktor penentunya beragam, bukan hanya dari nominal pendapatan tapi juga kondisi tempat tinggal serta kepemilikan aset. Dengan kata lain, makin tinggi desil, makin tinggi pula tingkat kesejahteraannya.