Liputan6.com, Jakarta - Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Selasa (18/8/2026), ada 40.040 orang yang terpaksa mengungsi imbas gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT. Tak hanya itu, BNPB juga mencatat ada 11.925 rumah yang rusak akibat gempa.
Dari jumlah rumah yang rusak itu, Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) memastikan, tidak ada rumah panggung, rumah yang terbuat dari kayu, yang rusak akibat gempa.
"Tidak, semua yang rumah kayu aman," katanya.
Advertisement
Kekuatan rumah panggung beradaptasi dengan gempa tak dibantah Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Nusa Tenggara Timur Ar Luiz O Wilson. Saat dihubungi tim Regional Liputan6.com, Rabu (19/8/2026), Luiz mengatakan, rumah tradisional di NTT yang memakai bahan alam pada sambunganya, tidak memakai paku sebagai ikatan, pasti lebih lentur dan tahan gempa.
"Rumah panggung otomatis dia tidak akan sekaku (rumah) yang di tanah, jadi kalau ada pergerakan dia lebih fleksibel," katanya.
Luiz juga memastikan, rumah panggung berbahan kayu alam dengan sistem regel tidak hanya ada pada kebudayaan NTT, beberapa kebudayaan di luar NTT juga memiliki kearifan lokal tersebut. Hanya saja bentuk rumahnya yang berbeda-beda.
Sistem regel sendiri dalam arsitektur rumah panggung tradisional NTT merujuk pada sistem balok pengikat horizontal yang menembus atu mengapit tiang-tiang struktur utama. Sistem inilah yang menjadi kunci utama mengapa rumah panggung di NTT, seperti di Sumba, Flores, dan Timor, hingga Sabu, bisa berdiri kokoh dan bisa beradaptasi terhadap guncangan yang ditimbulkan dari bencana gempa bumi.
Mengingat menggunakan pasak dan jepitan kayu ketimbang paku mati, regel memiliki kelonggaran mikro. Sehingga saat terjadi gempa, sambungan regel akan bergoyang elastis meredam getaran tanpa mematahkan tiang utama.
Luiz mengungkap, sebenarnya setiap daerah di NTT punya kearifan lokal terhadap bangunan rumah panggung, dan masing-masing punya keunikannya sendiri.
"Alor juga pernah diguncang gempa, rumah dari kayu meski dindingnya tembok, justru berdiri kokoh," katanya.
Menurut Luiz, dinding hanya sekat, struktur utama rumah ditopang sistem regel yang adaptif terhadap guncangan. Luiz mengingatkan banyak orang di NTT, atau di mana pun yang punya sejarah gempa, untuk kembali pada kearifan lokal yang sudah diperkenalkan nenek moyang dahulu.
"Kembali ke nenek moyang, mereka sudah bersahabat dengan alam," katanya.
Jadi kuncinya menjaga alam, karena dari alam itu tadi semua bahan pembuatan rumah tahan gempa bisa didapatkan.
Luiz menyayangkan sikap orang-orang di NTT, terutama di pedesaan, yang menganggap rumah panggung sebagai rumah kuno, sementara rumah beton dianggap rumah bagus secara strata sosial. Sehingga mereka meninggalkan kearifan lokal rumah tradisional yang sebenarnya lebih mampu beradaptasi dengan guncangan gempa.
Selain faktor penentu strata sosial, faktor lain yang membuat orang-orang di pedesaan NTT meninggalkan rumah panggung, adalah bahan baku kayunya yang sudah tidak ditemukan lagi di alam karena kerusakan lingkungan.
"Ini yang harus disuarakan, bagaimana menyadarkan masyarakat kita untuk mau kembali pada rumah panggung," katanya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327521/original/042881300_1787113384-Screenshot_2026-08-19_110246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327540/original/081998800_1787114322-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-19T113749.557.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328073/original/055317200_1787134455-rumah_panggung_ntt.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320875/original/011960800_1786417194-co10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327783/original/062552400_1787123828-Foto_1__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320727/original/011352000_1786374817-Gempa_Kolombia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325568/original/099364800_1786878538-rmh2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327286/original/061781700_1787100545-IMG-20260818-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327464/original/030785100_1787111182-gempa_ntt_susulan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326260/original/094714400_1786971308-WhatsApp_Image_2026-08-17_at_18.23.42.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325549/original/087416800_1786873691-pemulihan_fasilitas_di_ntt-16_agustus_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327320/original/029070200_1787105170-Gempa_Nadeiko.jpg)