Kades di Pandeglang Buka Suara Soal Jenazah Anak Dibawa Motor

Sebelumnya viral di media sosial mengenai seorang jenazah anak berusia 8 tahun harus diangkut menggunakan sepeda motor karena kesulitan menggunakan mobil siaga.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 05:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pihak Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten memberikan penjelasan terkait informasi di media sosial mengenai seorang jenazah anak berusia 8 tahun harus diangkut menggunakan sepeda motor karena kesulitan menggunakan mobil siaga milik desa.

Kepala Desa (Kades) Pasirlancar, Eni membantah sekaligus memastikan seluruh masyarakat Desa Pasirlancar bisa menggunakan mobil siaga, terutama dalam kondisi darurat.

"Mobil selalu standby, mau malam juga selalu standby," ujar Eni, Rabu (5/8/2026).

Eni mengaku tidak pernah mendapat laporan langsung mengenai warga sakit kemudian meninggal dunia di perjalanan. Dia mengetahui kabar tersebut dari media sosial.

Pengakuan Eni dari media sosial, anak berusia 8 tahun itu sempat dibawa ke RS Labuan, pada Minggu (2/8/2026) karena sakit. Namun karena kondisinya sudah lebih baik, anak tersebut dibawa pulang menggunakan sepeda motor. Akan tetapi di perjalanan meninggal dunia.

"Kalau ada yang lapor saya, pasti sebagai kepala desa pasti tindak lanjut cepat untuk menyediakan mobil untuk mengantar," ujar Eni.

Eni mengajak masyarakat Desa Pasirlancar menggunakan mobil siaga dan melapor ke kantor desa ataupun Ketua RT maupun RW, jika ada warga sakit atau terkena musibah agar segera ditangani.

"Saya mengimbau warga Pasirlancar, mau ke puskesmas atau ke manapun selama untuk kepentingan masyarakat, saya selalu siap melayani masyarakat, saya siap standby," kata Eni.

Viral Jenazah Bocah Dibawa Pakai Motor di Pandeglang

Sebuah video yang memperlihatkan jenazah seorang anak berusia 8 tahun dibawa menggunakan sepeda motor melintasi jalan rusak di Kampung Cibuluhueun, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, ramai beredar di media sosial.

Video tersebut disertai beragam narasi, salah satunya menyebut mobil siaga desa tidak dapat digunakan sehingga jenazah terpaksa dibawa menggunakan sepeda motor. Namun, paman almarhum, Halim, membantah narasi yang beredar tersebut.

"Kalau yang beredar di medsos itu tidak benar, karena kami sebagai keluarga korban tidak meminta apapun ke siapa pun," ujar Halim, Rabu (5/8/2026).

Halim menjelaskan, pada Minggu (2/8/2026), dia bersama keluarga membawa keponakannya berobat ke RS Labuan karena mengalami demam.

Setelah kondisi keponakannya dirasa membaik, Halim membawanya pulang ke rumah saudaranya menggunakan sepeda motor. Namun nahas, di tengah perjalanan yang melintasi jalan rusak, keponakannya meninggal dunia.

"Karena sudah mendingan ya, pake motor, pas di tengah-tengah perjalanan, sudah hampir sampai rumah, ponakan saya tiba-tiba meninggal," terangnya.

Ia sengaja tidak meminta bantuan ke siapa pun untuk mengangkut jenazah keponakannya, karena membutuhkan waktu lama jika harus menunggu mobil.

Karenanya, dia bersama warga dan keluarga, membawa jenazah keponakannya menggunakan sepeda motor yang ada, untuk mempercepat pengurusan jenazah di rumah duka.

 "Dari situlah kami meminta tolong ke keluarga di rumah, karena sudah dekat rumah, karena kalau pakai mobil makan waktu lama lagi, jadi terpaksa kami pakai motor," terangnya.

Menurut Halim, jarak dari lokasi meninggalnya sang ponakan ke rumah duka, hanya berjarak sekitar 2 km. Jika menunggu mobil, dirinya mengaku kashian dengan kondisi jenazah.

"Sekitar 2 kiloan (jarak dari tempat meninggal ke rumah), kalau nunggu mobil makan waktu lama lagi," jelasnya.