Awal Mula Mahasiswi Solo Jadi Korban Pornografi Deepfake

Kasus ini tengah ditangani Polda Jateng.

Diterbitkan 28 Juli 2026, 20:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polisi menyelidiki laporan dugaan penyebaran konten pornografi hasil manipulasi kecerdasan buatan atau deepfake AI yang menimpa E, seorang mahasiswi di satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Surakarta.

"Betul, yang bersangkutan sudah melapor ke Ditsiber Polda Jateng, dan saat ini sedang dilakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut," kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto, Selasa (28/7/2026).

Terpisah, Kuasa hukum korban, Zainal Abidin Petir, mengungkapkan dari hasil penelusuran sementara, ditemukan puluhan foto manipulasi. Serta dua video yang menampilkan adegan seksual palsu menggunakan wajah korban.

"Pelaku mengedit wajah korban dari leher ke bawah menjadi telanjang. Bahkan, ada video yang menggambarkan korban seakan-akan sedang melakukan hubungan seksual," kata Zaenal kepada wartawan.

Sebelum mengetahui keberadaan konten tersebut pada awal Januari 2026, korban sempat dihubungi sebuah akun Instagram yang mengajak berkenalan dan meminta berkomunikasi lebih intens. Namun ajakan tersebut tidak direspons.

"Korban kemudian mendapat ancaman bahwa akan ada bom waktu apabila tidak menanggapi pesan tersebut," ungkapnya.

Beberapa hari muncul akun Instagram lain yang mulai mengunggah foto-foto hasil editan AI melalui pesan singkat Instagram (DM). Akun itu juga mengirimkan foto asli korban beserta hasil editannya dan menginformasikan bahwa seluruh konten telah disebarkan melalui Telegram.

Dalam penelusuran bahwa penyebaran awal diduga berasal dari sebuah akun Telegram yang kini masih dalam penyelidikan Ditressiber Polda Jateng. Adapun kasus ini, dilaporkan pada 28 Januari 2026.

"Saya berkoordinasi dengan penyidik. Profiling sudah dilakukan dan sudah mulai mengarah kepada calon pelaku. Tinggal menunggu pemeriksaan saksi untuk menguatkan alat bukti," jelasnya.

Namun, pihaknya enggan menyebut identitas pihak yang diduga terlibat. Sebab, proses hukum masih berada pada tahap penyelidikan. Dampak beredarnya foto dan video manipulasi tersebut, korban mengalami tekanan psikologis yang cukup berat.

Selama hampir sepekan, korban mengalami stres dan memilih tidak menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya karena merasa takut.

"Padahal korban tidak melakukan hal itu. Ini murni hasil editan AI. Awalnya korban stres berat. Sekarang kondisinya mulai membaik, tapi masih sangat trauma," ujarnya.

Seperti diketahui, kasus ini menambah daftar panjang penyalahgunaan teknologi AI untuk membuat konten pornografi palsu (deepfake) yang menyasar perempuan. Polisi, saat ini masih mendalami identitas pelaku, termasuk dugaan keterkaitan akun-akun media sosial dan Telegram yang digunakan untuk menyebarkan konten tersebut.

Reporter: Merdeka.com/Danny Adriadhi Utama