Wakil Ketua PWNU Jateng: Jalan Tengah Jadi Kebutuhan NU Saat Ini

NU membutuhkan figur pemersatu yang mampu menjaga independensi organisasi dan merangkul seluruh elemen menjelang Muktamar.

Diterbitkan 25 Juli 2025, 21:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ahmad Zaki Fuad mendorong lahirnya kepemimpinan yang mampu menjadi jalan tengah menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).

Menurutnya, organisasi membutuhkan figur yang dapat merangkul seluruh elemen sekaligus menjaga independensi NU dari kepentingan politik praktis.

Pria yang biasa disapa Gus Zaki ini mengatakan perbedaan pandangan merupakan bagian dari tradisi NU yang telah melahirkan kekayaan pemikiran dan budaya musyawarah. Namun, ia mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi polarisasi yang berkepanjangan.

"Tradisi Nahdlatul Ulama sejak lama meyakini bahwa perbedaan adalah rahmat. Dari keberagaman pandangan itulah lahir kekayaan pemikiran, budaya musyawarah, serta kearifan yang menjadi kekuatan utama organisasi. Namun persoalannya menjadi berbeda ketika perbedaan berubah menjadi polarisasi yang berkepanjangan," kata Gus Zaki dalam keterangannya, Sabtu (25/7).

Menurutnya, dinamika internal yang mengeras berpotensi mengurangi energi besar NU sebagai organisasi apabila tidak segera dikelola dengan baik.

Selain itu, Gus Zaki menilai menjelang Muktamar juga muncul tantangan berupa menguatnya persepsi publik mengenai masuknya kepentingan politik praktis dalam proses suksesi kepemimpinan NU.

Ia menegaskan NU tidak anti terhadap politik karena banyak kadernya berkiprah di partai politik maupun lembaga negara. Namun, sebagai organisasi, NU harus tetap menjaga independensinya.

"Terdapat batas yang harus dijaga dengan tegas antara kader NU yang berpolitik praktis dan NU sebagai jam'iyah yang harus tetap berdiri di atas seluruh kepentingan politik. Independensi itulah yang selama ini menjadi sumber kekuatan moral dan kedaulatan NU di hadapan umat, bangsa, dan negara," ujar Rektor IAI Khozinatul Ulum ini.

Gus Zaki mengatakan kepemimpinan mendatang sebaiknya tidak lagi dipersepsikan sebagai representasi kelompok tertentu ataupun terlalu dekat dengan kepentingan politik praktis. Sebab, yang dibutuhkan NU saat ini bukan kemenangan satu kelompok, melainkan hadirnya pemimpin yang diterima seluruh warga nahdliyin.

"NU membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjaga jarak yang sama terhadap seluruh kepentingan politik, sekaligus memiliki ruang untuk merangkul seluruh elemen organisasi. Sebab yang dibutuhkan NU hari ini bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lainnya, melainkan hadirnya kepemimpinan yang diterima sebagai milik bersama seluruh warga nahdliyin," katanya.

Ia menilai konsep jalan tengah menjadi relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Menurutnya, jalan tengah bukan sekadar pilihan dalam kontestasi kepemimpinan, melainkan kebutuhan organisasi untuk memperkuat kembali persatuan.

 

Alasan Kedepankan Jalan Tengah

Gus Zaki menyebut sedikitnya ada tiga alasan mengapa jalan tengah perlu dikedepankan. Pertama, menghidupkan kembali semangat tawasuth atau moderasi yang menjadi karakter NU sehingga energi organisasi tidak habis dalam kontestasi internal.

Kedua, menjaga marwah NU sebagai organisasi yang berdiri di atas semua golongan dan kepentingan politik sehingga tetap menjadi rumah besar bagi seluruh warga nahdliyin.

Ketiga, mengembalikan fokus perjuangan NU kepada khittah sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang mengutamakan pelayanan kepada umat melalui penguatan pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, dan pengembangan sumber daya manusia.

Menurut Gus Zaki, keberhasilan jalan tengah sangat bergantung pada hadirnya figur yang memiliki legitimasi moral untuk merangkul semua pihak.

"NU membutuhkan sosok yang dapat diterima berbagai kalangan karena tidak dibebani warisan konflik dan tidak terbelenggu afiliasi politik praktis," ujarnya.

Ia menambahkan, tujuan utama jalan tengah bukan semata menentukan siapa yang akan memimpin NU, melainkan memastikan organisasi tetap berdaulat, bermartabat, dan mampu memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

"Jalan tengah yang ditawarkan pada akhirnya bukan semata soal siapa yang akan memimpin NU, melainkan tentang ke mana NU akan melangkah dan membawa perjuangannya memasuki abad kedua," Gus Zaki menandaskan.